Porosmedia.com, Bandung – Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam menekan angka stunting dan membenahi ketahanan pangan keluarga rentan masih dihadapkan pada keterbatasan anggaran. Kondisi ini membuat cakupan bantuan pangan melalui program Pangan untuk Daerah Rentan Rawan Pangan dan Stunting (Pangersa) belum mampu menjangkau seluruh warga yang membutuhkan secara optimal.
Pada alokasi tahun 2026, program yang dikelola Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung tersebut hanya menyasar 16 kelurahan—terdiri dari 8 kelurahan kategori rentan pangan dan 8 kelurahan berisiko stunting. Penyaluran tahap kedua yang berlangsung pada Rabu (14/10/2026) sekaligus menjadi tahap akhir dari program bantuan tahun ini.
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengakui bahwa kapasitas anggaran Pemkot Bandung saat ini menjadi pemicu terbatasnya kuota serta frekuensi pendistribusian paket pangan bergizi tersebut kepada masyarakat penerima manfaat.
”Mudah-mudahan tahun depan bisa ada penambahan jumlah penerima, termasuk dari sisi kuantitas bantuan. Saat ini baru dua kali penyaluran, mudah-mudahan ke depan bisa lebih dari dua kali,” ujar Gin Gin saat memantau penyaluran bantuan di Kelurahan Cigondewah Kaler, Rabu (14/10/2026).
Gin Gin menjelaskan, program Pangersa diprioritaskan bagi keluarga berpenghasilan rendah yang belum tersentuh skema bantuan sosial (bansos) reguler lainnya. Bantuan berupa komoditas bahan pokok dan protein segar—seperti 5 kg beras, 1 kg daging ayam segar, 1 kg telur ayam, dan 1 kg ikan lele segar—diharapkan dapat menjaga asupan nutrisi warga rentan.
”Yang kita berikan ada beras, ikan segar, daging ayam segar, dan telur. Mudah-mudahan ini bisa menjadi konsumsi yang sehat, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pangan sehat,” tambahnya.
Tanggapan Warga dan Urgensi Keberlanjutan Program
Meski bantuan disambut positif oleh warga penerima manfaat, keterbatasan durasi pemanfaatan bantuan menjadi catatan penting di lapangan. Di Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon, sebanyak 167 Kepala Keluarga (KK) mencatatkan diri sebagai penerima, sementara di Kelurahan Cibuntu tercatat sekitar 129 KK.
Dede Yani (40), warga Cigondewah Kaler, menuturkan bahwa paket bahan pangan segar yang diterimanya diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan konsumsi keluarga selama satu minggu jika diatur secara hemat.
”Alhamdulillah, sangat terbantu. Mudah-mudahan masih ada lagi dan programnya bisa berlanjut,” ungkap Dede.
Senada dengan Dede, A Sunarya (50), warga Kelurahan Cibuntu, juga berharap Pemkot Bandung dapat meningkatkan frekuensi penyaluran bantuan agar dampaknya lebih terasa dalam menjaga stabilitas gizi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi.
”Saya sangat gembira dalam situasi seperti ini ada bantuan Pangersa. Mudah-mudahan bantuan seperti ini terus ada dan lebih sering membantu masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya sejak digulirkan pada 2023, evaluasi terhadap kuantitas serta pemerataan alokasi anggaran program Pangersa menjadi tantangan mendesak bagi Pemkot dan DPRD Kota Bandung, terutama dalam menyusun postur APBD tahun mendatang agar penanganan daerah rawan pangan dan stunting tidak terhenti pada bantuan yang bersifat sementara. (Red)







