Geopolitik “The End Game”: Pergeseran Episentrum Konflik dan Nasib Akhir Zionisme

Avatar photo

Porosmedia.com – Dalam teori geopolitik, ada satu adagium yang tak terbantahkan: “Apa yang tersurat belum tentu ada, dan apa yang tersirat belum tentu tiada.” Pesan ini menjadi pembuka tabir bagi dinamika Board of Peace (BOP) yang tengah menjadi sorotan di awal 2026 ini.

​Pasca Proklamasi Kemerdekaan Palestina November 2025, peta politik di tanah para nabi mengalami pergeseran tektonik. Pemerintahan transisi kini tidak lagi dikuasai oleh dikotomi Fatah atau Hamas, melainkan oleh teknokrat dan warga sipil non-afiliasi.

​Langkah paling krusial adalah pembentukan Passive Palestinian Force. Mengadopsi model militer Jepang, ini adalah format awal “Tentara Rakyat Palestina” yang bersifat defensif namun profesional. Dengan pendidikan militer di bawah pengawasan yurisdiksi AS, Prancis, dan Arab Saudi di Mesir, kehadiran pasukan Board of Peace (BOP) Indonesia di perbatasan Rafah menjadi masuk akal secara strategis sebagai penengah sekaligus penjamin stabilitas.

​Koalisi pertahanan yang melibatkan Indonesia bersama kekuatan Barat (Prancis, AS) dan regional (Arab Saudi) diprediksi akan mengambil alih keamanan Gaza dan Tepi Barat pada medio Oktober mendatang. Menariknya, eksistensi Palestina kali ini didorong kuat oleh blok BRICS. Meski ada “plot twist” dari Brasil yang tetap menjaga hubungan dengan Israel, namun “Karpet Merah” yang digelar BRICS tampaknya telah disiapkan untuk menjadikan Palestina sebagai wilayah suci yang damai bagi tiga agama samawi.

Baca juga:  Analisis Aceng Syamsul Hadie: Berakhirnya Perjanjian Nuklir Rusia-AS Ancam Stabilitas Peradaban

​Memasuki tahun 2026, janji kampanye Donald Trump yang dilantik setahun lalu mulai menampakkan pola unik. Fokus Amerika Serikat diprediksi akan mengalami pergeseran drastis dari Timur Tengah menuju halaman belakang mereka sendiri: Meksiko.

​Menyusul tewasnya pemimpin kartel CJNG, El Mencho, stabilitas Meksiko berada di titik nadir. Krisis fentanyl dan kekerasan kartel yang merembet ke 50 negara bagian AS memberikan alasan sempurna bagi Trump untuk menjalankan kebijakan National Interest.

Analisisnya sederhana: Dengan dalih intervensi militer untuk memberantas kartel di Meksiko dan obsesi lama terhadap kontrol penuh di kawasan Teluk, Trump memiliki alasan konstitusional untuk menarik pasukan dari Timur Tengah.

​Jika Amerika benar-benar disibukkan dengan urusan domestik dan konflik di perbatasan Meksiko, lantas bagaimana nasib Israel dalam konfrontasinya dengan Iran?

​Sejarah mungkin akan mencatat ini sebagai taktik “pura-pura berseteru” yang pernah kita lihat dalam dinamika politik lokal maupun global. Sebagaimana prediksi yang pernah muncul setahun lalu, AS mungkin akan tampak “sibuk” di tempat lain, membiarkan dinamika di Timur Tengah diselesaikan oleh kekuatan-kekuatan regional baru atau yang disebut sebagai para “Avengers” dalam peta geopolitik ini.

Baca juga:  FPN Minta Paus Tekan Israel Hentikan Genosida di Palestina

​Apakah ini akhir dari era Zionisme sebagaimana yang diprediksi? Geopolitik seringkali tidak memberikan jawaban secara langsung, namun tanda-tandanya sudah mulai tersurat di meja perundingan dan tersirat di medan pertempuran.