Porosmedia.com, Bandung – Papan peresmian yang terpasang rapi di sudut Buruan Sae RW 14, Kelurahan Margasari, Kecamatan Buahbatu, mungkin terlihat manis di mata para pejabat yang datang saat seremoni. Namun, bagi kami yang setiap hari berjibaku dengan tanah, air, dan tanaman, papan tersebut hanyalah pengingat akan sebuah kontradiksi besar: program yang digadang-gadang sebagai solusi ketahanan pangan kota, nyatanya seringkali dibiarkan berjuang sendirian tanpa dukungan nyata dari pemangku kebijakan lokal.
Sebagai pengurus, saya harus berani menyuarakan apa yang selama ini tertahan di bawah rimbunnya tanaman kami. Buruan Sae RW 14 saat ini berdiri tegak bukan karena kucuran dana stimulan atau fasilitas mewah dari pemerintah, melainkan murni karena nafas kemandirian yang kami paksakan agar tidak mati.
Hingga saat ini, perhatian terhadap aspek keuangan, penyediaan bibit berkualitas, hingga fasilitas penunjang dari pihak Kelurahan Margasari maupun Kecamatan Buahbatu masih jauh dari harapan—untuk tidak menyebutnya tidak ada sama sekali. Sangat disayangkan ketika sebuah program memiliki nama besar di tingkat kota, namun di tingkat akar rumput (RW), kami seperti dianaktirikan dalam pengalokasian sumber daya.
Padahal, secara regulasi, dukungan terhadap ketahanan pangan lokal seharusnya masuk dalam prioritas kerja kewilayahan. Kami tidak butuh sekadar tepuk tangan atau kunjungan kerja yang sifatnya administratif. Yang kami butuhkan adalah keberlanjutan:
Dukungan Bibit Berkala: Tanaman memiliki siklus hidup. Tanpa suplai bibit yang konsisten dari dinas terkait atau fasilitasi pihak kelurahan, operasional kami akan terhambat.
Sarana Prasarana: Kami butuh fasilitas penunjang yang memadai untuk memaksimalkan hasil panen agar manfaatnya benar-benar dirasakan warga.
Transparansi Perhatian RW: Pengurus RW sebagai lini terdepan seharusnya menjadi jembatan advokasi, bukan sekadar penonton saat warganya bekerja keras membangun lingkungan.
Kami ingin mengingatkan kembali kepada jajaran Ketua RW, Lurah, hingga Camat, bahwa Buruan Sae bukan sekadar “proyek foto” untuk mempercantik laporan kinerja atau bahan unggahan di media sosial instansi. Buruan Sae adalah kerja nyata pemberdayaan masyarakat.
Jika dukungan finansial dan fasilitas penunjang terus diabaikan, maka pemerintah sebenarnya sedang mempertaruhkan kepercayaan masyarakat. Bagaimana mungkin kita bicara ketahanan pangan jika pahlawan pangan di tingkat RW dibiarkan “puasa” dukungan?
Melalui tulisan ini, saya tidak berniat menyudutkan personal, melainkan mengkritik sistem tata kelola dan koordinasi yang tersumbat. Kami menuntut adanya dialog terbuka dan langkah konkret terkait keberpihakan anggaran dan fasilitas dari pihak Kelurahan dan Kecamatan untuk Buruan Sae RW 14.
Jangan biarkan kemandirian warga menjadi alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan. Sebab, sinergi yang sesungguhnya bukan terjadi saat gunting pita, melainkan saat memastikan keberlangsungan hidup setiap benih yang kami tanam.
Sumber : Dadan Djalaludin (Pengurus Buruan Sae RW 14 Margasari)







