Porosmedia.com – Di sebuah negeri yang subur makmur bernama Tatar Parahyangan, ada satu komoditas yang tidak pernah mengalami inflasi, resesi, apalagi kelangkaan. Komoditas itu bernama sampah. Hebatnya, berbeda dengan minyak bumi atau batu bara yang butuh waktu jutaan tahun untuk mengendap, komoditas eksotis ini diproduksi secara massal, konsisten, dan gotong royong oleh jutaan kepala setiap detiknya.
Namun, daya tarik utama dari komoditas ini bukanlah pada tumpukannya yang menyerupai bukit-bukit estetis di pinggir jalan, melainkan pada sebuah ritual modern yang lahir bersamanya: Seni Adiluhung Saling Tuding.
Ketika gunungan sisa peradaban mulai meluber dan aroma khasnya berhasil menembus kaca mobil ber-AC, seketika itu pula panggung teater kolosal dimulai. Skenarionya sangat rapi, saking rapinya sampai-sampai kita tidak pernah menemukan siapa sutradaranya.
Pihak hulu—sebut saja sang produsen organik dan plastik domestik—dengan khusyuk berdoa agar ada keajaiban yang menerbangkan kantong hitam mereka langsung ke langit ketujuh tanpa lewat bak sampah depan rumah. Sementara itu, pihak hilir—para pemegang stempel pembuka gerbang tempat pembuangan akhir—juga tak kalah khusyuk memanjatkan doa, meminta agar masyarakat tiba-tiba memiliki kesadaran tingkat dewa untuk mengunyah kembali plastik pembungkus makanan mereka demi konsep zero waste.
Jika doa belum manjur, maka mantra berikutnya dikeluarkan: “Ini salah pola konsumsi hilir yang tidak terdidik!” Ditimpali dengan koor merdu dari seberang: “Ini salah manajemen rute angkutan dan birokrasi yang lambat seperti siput lumpuh!”
Sungguh sebuah simfoni yang indah. Sampahnya tetap diam di tempat, bertambah tinggi, sementara argumen-argumen melesat ke udara menjadi angin pemuas dahaga retorika.
Anehnya, setiap kali krisis mencapai puncaknya—saat truk-truk pengangkut harus mengantre hingga subuh bak barisan pencari suaka—solusi yang ditawarkan selalu berbau magis. Kita diperkenalkan pada istilah-istilah mentereng berbau teknologi tinggi, aplikasi digital pemantau lalat, hingga program-program singkatan kreatif yang peluncurannya memakan anggaran lebih besar daripada harga mesin pencacah kompos itu sendiri. Programnya diresmikan dengan gunting pita, spanduknya dipasang di mana-mana, lalu beberapa bulan kemudian, spanduk tersebut dengan setia ikut menjadi sampah di pojok gang.
Mungkin kita memang salah membaca niat baik para pemangku kebijakan dan takdir. Barangkali, karut-marut ini adalah sebuah kesengajaan yang visioner. Bau menyengat yang menusuk hidung itu bukanlah sebuah kegagalan sistemik, melainkan “aromaterapi pengingat dosa” agar penduduk bumi sadar bahwa mereka masih bernapas.
Jika kelak bukit-bukit sampah itu akhirnya mengkristal dan menutup jalan-jalan protokol, setidaknya kita tahu kita tidak pernah kekurangan satu hal: pasokan kambing hitam yang gemuk dan siap disembelih di meja rapat koordinasi.
Hingga saat itu tiba, mari kita terus melanjutkan ritual ini. Tetaplah membuang sampah pada tempatnya—yaitu di tempat yang bukan urusan saya—dan biarkan doa-doa kita bertarung di langit, sementara buminya perlahan tenggelam dalam pelukan sisa makanan kemarin sore.







