Seni Menjual Lemari demi Gaji Guru: Sebuah Ironi dari Kauman

Avatar photo

Porosmedia.com – Sebuah pertunjukan teatrikal tanpa panggung tiba-tiba tersaji di halaman sebuah rumah di Kauman. Dekorasi panggungnya cukup sederhana, namun padat: sebuah kursi dikeluarkan, disusul meja kerja, lalu sebuah lemari kayu berukuran jumbo yang dipaksa bergeser meski harus menguras keringat.

​Bagi warga yang melintas, pemandangan ini jelas lebih menarik ketimbang sekadar obrolan pos ronda. Kerumunan pun terbentuk secara organik. Anak-anak kecil berebut tempat yang lebih tinggi, mengira sedang ada tontonan sulap atau mungkin pengosongan paksa oleh juru sita.

​Logika awam penonton mulai bekerja menebak-nebak: Rumah tidak sedang dilalap api. Kabar rampok nihil. Isu pindah rumah pun tak terdengar. Lantas, untuk apa seluruh isi rumah dipamerkan di halaman terbuka di bawah terik matahari?

​Jawaban misteri itu akhirnya menyebar lewat bisik-bisik yang merayap di antara kerumunan: barang-barang itu mau dijual. Semuanya. Tanpa sisa.

​Ketika Papan Tulis Tak Mampu Membayar Tagihan

​Di sudut lain pada waktu yang sama, sebuah lembaga pendidikan sedang mempraktikkan seni “bertahan hidup” yang sesungguhnya. Di dalam ruang-ruang kelas, para guru tetap berdiri dengan wibawa penuh, kapur dan papan tulis masih setia merekam rumus dan ilmu, serta murid-murid tetap duduk dengan takzim.

Baca juga:  Ni Sritanjung : Sastra yang berasal dari Jawa Kuno

​Semua tampak normal, kecuali satu hal yang paling krusial: isi kas sekolah yang sudah mencapai titik nadir.

​Pendidikan boleh jadi adalah jendela dunia, namun ironisnya, jendela tersebut tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan bulanan yang terus datang tanpa kompromi. Operasional sekolah terus berjalan, sementara dana penyokongnya sudah lama sekarat. Di sinilah letak komedi getirnya: mencerdaskan kehidupan bangsa rupanya sering kali harus dibayar dengan kecemasan di balik ruang tata usaha.

​Kembali ke halaman rumah tadi, sebuah lelang darurat pun dibuka. Suasana berubah mirip pasar malam digital minus gawai. Tangan-tangan mulai terangkat. Angka demi angka meluncur dari mulut para penawar.

​”Kursi terjual!”

“Meja berpindah tangan!”

“Lemari sah milik penawar tertinggi!”

​Debu halaman berterbangan seiring meningkatnya tensi penawaran. Menariknya, harga perabot-perabot itu melambung bukan karena mereka dilapisi emas atau dipahat oleh seniman Italia kelas dunia. Nilainya melonjak karena para penawar akhirnya menyadari sebuah kenyataan yang menampar nalar sehat: Sang pemilik rumah tidak sedang melelang aset untuk mengganti mobil baru atau pergi berlibur. Ia sedang menukar harta pribadinya demi memastikan sebuah sekolah tidak gulung tikar.

Baca juga:  AKTIVIS 98: “Pernyataan Fadli Zon Mengingkari Luka Bangsa dan Mengkhianati Kebenaran Sejarah”

​Menolak Membawa Pulang “Kemenangan”

​Sore hari tiba, dan dramatisasi sosial ini mencapai puncaknya. Uang yang terkumpul ternyata melampaui target darurat yang dibutuhkan. Sekolah tersebut secara ajaib dinyatakan selamat dari “kematian” dini. Para guru bisa kembali bernapas lega, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan.

​Di tengah halaman, berdirilah sang konseptor aksi nekat tersebut: Ahmad Dahlan. Sang pendiri Muhammadiyah yang memilih menjadi “miskin” seketika agar lentera pendidikan yang ia nyalakan tidak padam oleh tiupan angin kemiskinan struktural.

​Namun, bagian paling satire dari seluruh rangkaian peristiwa ini justru terjadi setelah lelang diketuk palu. Transaksi sah secara hukum Islam maupun adat. Uang sudah berpindah kantong. Barang-barang di halaman itu secara legal sudah beralih kepemilikan.

​Tetapi, tidak ada satu pun pembeli yang melangkah untuk mengangkut barang belanjaan mereka.

​Kursi, meja, dan lemari raksasa itu tetap bergeming di tempatnya. Pembeli pertama balik kanan dengan tangan kosong. Pembeli kedua mengikuti. Lalu seluruh kerumunan bubar begitu saja, meninggalkan perabot yang baru saja mereka menangkan dengan harga selangit.

Baca juga:  Bendera Merah Putih Dalam Genggaman Jaya Katwang

​Tanpa ada memorandum kesepahaman (MoU) di atas meterai, tanpa ada instruksi dari pengeras suara, orang-orang itu sepakat melakukan pembangkangan terhadap hukum pasar: mereka membeli fungsi, namun menolak membawa fisik barang.

​Ketika matahari terbenam, rumah Ahmad Dahlan tetap penuh dengan perabotnya yang lama, sementara kas sekolahnya kini yang penuh dengan harapan baru. Sebuah tamparan elegan bagi zaman ini, di mana sering kali institusi pendidikan justru sibuk memperkaya diri, sementara para pengajarnya dibiarkan hidup mandiri tanpa kepastian.