Porosmedia.com – Di dinding-dinding sekolah, balai desa, hingga ruang rapat birokrasi, tiga pasang kata ini kerap terpahat rapi: Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Tiga pilar gotong royong versi Sunda ini acapkali diagungkan sebagai warisan adiluhung. Namun, realitas sosial hari ini justru memunculkan pertanyaan kritis: Apakah falsafah tersebut masih hidup dalam laku keseharian warga, atau telah lama mati dan sekadar menjadi fosil pajangan?
Pemerhati Sosial, Irwan Nurwansyah, menyoroti bahwa tanpa wujud nyata, jargon budaya hanya akan menjadi romantisasi masa lalu yang tidak berdampak pada penyelesaian krisis sosial kontemporer.
”Kita melihat ada disonansi yang tajam antara teks filosofi dengan realitas di lapangan. Ketika masyarakat terjebak dalam pusaran polarisasi digital, pinjaman online yang merusak ketahanan keluarga, hingga individualisme perkotaan, roh dari silih asah, silih asih, dan silih asuh itu seolah menguap,” ujar Irwan saat diwawancarai Porosmedia.com.
Dekonstruksi 3 Pilar: Dari Slogan Menuju Tindakan
Menurut Irwan, untuk mengukur sejauh mana falsafah ini bekerja, kita harus membedahnya ke dalam indikator sosiologis yang riil di tengah masyarakat modern.
1. Silih Asah: Dialektika yang Membangun, Bukan Menjatuhkan
Silih asah adalah komitmen untuk saling menajamkan kemampuan intelektual dan kecakapan hidup melalui kritik yang membangun (constructive criticism). Tujuannya jelas: peningkatan kapasitas bersama, bukan pembunuhan karakter.
Dalam realitas digital hari ini, silih asah sering kali absen. Kolom komentar media sosial lebih sering menjadi arena “debat kusir” penuh caci maki daripada ruang transfer pengetahuan.
”Wujud nyata silih asah di era modern adalah ketika kita melihat kekeliruan data atau informasi, kita mengoreksinya dengan berbasis data valid dan santun, bukan dengan pelabelan yang merendahkan harkat manusia,” tegas Irwan.
Di lingkungan kerja maupun organisasi, pilar ini menuntut senior untuk tidak pelit ilmu, serta berani memberikan evaluasi yang spesifik sekaligus solutif kepada junior, alih-alih sekadar mengedumel tanpa arah.
2. Silih Asih: Empati Organik Membendung Egoisme
Jika silih asah mengandalkan rasio, maka silih asih bergerak di wilayah rasa. Pilar ini menjadi rem emosional agar koreksi dan kritik tidak berubah menjadi tindakan yang kasar dan arogan. Silih asih adalah manifestasi dari empati dan kemanusiaan.
Di tengah maraknya fenomena masyarakat yang rentan secara ekonomi dan psikologis saat ini—misalnya akibat badai PHK atau jeratan utang—silih asih tidak boleh berhenti pada ucapan bela sungkawa di grup perpesanan.
”Empati itu harus organik dan mewujud dalam aksi. Mulai dari hal kecil seperti meluangkan waktu mendengarkan keluh kesah teman yang sedang terpuruk, membantu mencarikan jejaring lapangan kerja, hingga secara kolektif menjaga tetangga sekitar agar tidak ada yang kelaparan,” tambah Irwan.
3. Silih Asuh: Kepemimpinan yang Mengayomi, Struktur Tanpa Gengsi
Pilar ketiga, silih asuh, mengatur tentang struktur dan keberlanjutan sosial. Ada hierarki tanggung jawab di mana yang berpengalaman mengarahkan (mengasuh), dan yang muda atau baru menaruh hormat serta bersedia diarahkan.
Namun, Irwan Nurwansyah memberikan catatan kritis pada poin ini. Silih asuh modern bukanlah bentuk feodalisme baru di mana senioritas mutlak tidak boleh dibantah.
”Ini adalah hierarki tanggung jawab, bukan hierarki gengsi. Keteladanan adalah kunci. Pemimpin atau senior harus mengasuh dengan memberikan contoh regulasi dan disiplin yang konsisten, sementara yang diasuh menghormati aturan tersebut demi ketertiban bersama, bukan karena rasa takut,” jelasnya.
Ancaman Ketimpangan Falsafah
Artikel opini ini menggarisbawahi bahwa ketiga pilar ini merupakan satu kesatuan ekosistem sosial yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu pincang, maka tatanan komunitas akan mengalami distorsi.
|
Kombinasi Penerapan |
Dampak Sosial yang Terjadi |
|---|---|
|
Hanya Silih Asah tanpa Asih & Asuh |
Terjadi debat kusir, saling menjatuhkan, dan ruang publik yang toksik. |
|
Hanya Silih Asih tanpa Asah & Asuh |
Munculnya mentalitas kasihan (belas kasihan pasif) tanpa ada progres kemajuan riil. |
|
Hanya Silih Asuh tanpa Asah & Asih |
Lahirnya sistem yang feodal, kaku, di mana generasi muda tidak berkembang. |
Tantangan Kritis di Tingkat Tapak
Irwan Nurwansyah mengajak setiap elemen masyarakat untuk melakukan otokritik mingguan terhadap lingkungan terkecilnya, baik di tingkat RT/RW, komunitas, maupun organisasi profesi. Ketika ada masalah lingkungan—seperti pengelolaan sampah atau konflik horizontal—rumus tiga lensa ini harus langsung diterapkan secara praktis.
”Tanyakan pada diri kita sendiri saat melihat masalah di sekitar: Gue bisa mengasah (memberi ide/solusi) apa di sini? Bisa mengasihi (membantu secara konkret) ke siapa? Dan gue perlu diasuh (meminta arahan senior/tokoh masyarakat) oleh siapa?” tutur Irwan memungkasi wawancara.
Analisis Hukum dan Keadilan Sosial:
Secara yuridis-sosiologis, menghidupkan kembali pilar-pilar ini secara seimbang di tingkat akar rumput merupakan langkah preventif non-hukum yang paling efektif untuk menekan angka kriminalitas, gesekan sosial, hingga sengketa informasi di dunia maya. Ketika instrumen hukum formal sering kali melelahkan dan berbiaya tinggi, maka pranata sosial berbasis kearifan lokal seperti Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh yang dipraktikkan secara nyata—bukan sekadar pajangan dinding—adalah benteng terakhir pertahanan sosial kita. (Red)







