Porosmedia.com – Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Nama besar Ki Hajar Dewantara kembali disebut dan semboyannya digaungkan. Namun, sebuah pertanyaan fundamental muncul: sejauh mana esensi perjuangan beliau telah terinternalisasi dalam realitas pendidikan kita saat ini?
Di tengah berbagai seremoni, tantangan besar membayangi dunia pendidikan kita. Ada kecenderungan orientasi pendidikan bergeser dari proses “memanusiakan manusia” menjadi sekadar pencapaian administratif berbasis angka. Ketika sekolah lebih dominan menjadi ruang kompetisi nilai daripada ruang pembentukan karakter, maka anak didik berisiko dipacu untuk menjadi cerdas secara intelektual, namun kurang teruji dalam integritas moral.
Realitas hari ini menunjukkan kontradiksi yang nyata. Kita menyaksikan lahirnya generasi yang cakap teknologi dan kompetitif secara global, namun di sisi lain, terdapat indikasi memudarnya nilai-nilai etika dan akar budaya. Kecerdasan intelektual yang tumbuh pesat seringkali tidak berjalan beriringan dengan kebijaksanaan (wisdom).
Lebih jauh, arah pendidikan kita saat ini menghadapi tantangan pragmatisme. Standar global dan capaian kuantitatif seringkali dikejar tanpa refleksi kualitatif yang mendalam. Fokus pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada kesiapan kerja (industry-ready) berpotensi mengabaikan kesiapan hidup (life-ready). Padahal, fondasi bangsa yang kokoh tidak hanya bertumpu pada sumber daya manusia yang pintar, melainkan pada pribadi yang berintegritas, beriman, dan memiliki keberanian moral.
Sejarah membuktikan bahwa ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diuji oleh kapasitas intelektual warganya, tetapi oleh kekuatan karakter dan integritasnya. Tanpa itu, pembangunan nasional hanya akan berdiri di atas fondasi yang rapuh.
Oleh karena itu, Hari Pendidikan Nasional harus dijadikan momentum evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan—pendidik, orang tua, hingga pengambil kebijakan. Kita perlu melakukan refleksi jujur: apakah sistem pendidikan saat ini telah benar-benar membentuk manusia seutuhnya, atau justru secara perlahan menjauh dari esensi filosofis yang dicetuskan para pendiri bangsa?
Sudah saatnya pendidikan nasional kembali pada marwahnya. Pendidikan harus menjadi wadah di mana akal dan akhlak tumbuh serasi, tempat ilmu berpadu dengan iman, dan ruang di mana budaya dihidupkan sebagai jati diri. Mengembalikan pendidikan pada jalurnya bukan hanya tentang mencerdaskan bangsa, melainkan tentang memuliakan martabat manusia Indonesia.
Oleh: Bambang Sudaryanto







