Porosmedia.com, Bandung – Ada ironi yang nyaris sempurna di lereng Gunung Kemukus. Orang-orang datang membawa tasbih dan dupa, tetapi pulang membawa nomor kamar.
Orang Jawa disana menyebutnya ngalap berkah.
Mereka menyebutnya laku. Bahkan ada yang dengan percaya diri menyebutnya bagian dari tradisi Jawa.
Seolah-olah semua yang diberi bumbu mitos otomatis sah secara moral.
Di puncak Gunung Kemukus, orang-orang datang membawa doa di bibir dan hasrat di saku. Padahal yang terjadi sering kali lebih mirip transaksi gelap yang dibungkus dupa dan mitos.
Oleh orang Jawa, Nama Pangeran Samudra dan Dewi Ontrowulan dipelintir menjadi kisah cinta terlarang yang sensasional.
Cerita tutur yang kabur dijadikan dalil mutlak.
Kata dhemenan yang mestinya bernuansa simbolik dipreteli menjadi instruksi biologis.
Ironinya, semakin tak jelas sumbernya, semakin sakral ia diperlakukan.
Di sinilah satirnya, orang-orang mengaku menjaga tradisi, tapi yang dijaga adalah tafsir paling liar yang menguntungkan hasrat mereka sendiri.
Budaya Jawa mengenal tirakat sebagai pengendalian diri.
Nafsu dilatih, bukan dilepas.
Tapi di Gunung Kemukus, nafsu justru dijadikan kendaraan spiritual.
Entahlah, apakah ini yang dinamakan budaya agung leluhur kaum Rahayu ?
Hubungan intim tujuh kali pada malam tertentu disebut sebagai syarat keberhasilan. Seolah-olah semesta ini bisa diperas dengan rumus aritmetika biologis.
Lucunya, semua dilakukan dengan wajah serius.
Dengan doa.
Dengan keyakinan.
Dan yang lebih lucu lagi, sebagian pelaku merasa sedang menjalankan “kearifan lokal” warisan asli pribumi Jawa yang luhur.
Yang lebih pahit, semuanya dilakukan atas nama keberkahan. Seolah-olah langit bisa dinegosiasikan dengan tubuh.
Gunung Kemukus memperlihatkan satu hal.
Ketika orang ingin kaya tanpa proses, mereka tak butuh ajaran yang rumit.
Mereka hanya butuh legitimasi. Dan mitos adalah legitimasi paling murah.
Label “Sex Mountain” dari media asing memang terasa menyakitkan. Tetapi yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa label itu lahir dari praktik yang nyata, bukan sekadar fitnah.
Masalahnya adalah ketika budaya dijadikan tameng untuk membenarkan jalan pintas. Ketika simbol-simbol sakral dijadikan pembungkus kepentingan pribadi.
Gunung Kemukus cermin Jawa. Ia cermin manusia yang ingin berkah tanpa etika, ingin kaya tanpa kerja, ingin sakral tanpa disiplin.
Dan mungkin, yang paling satir dari semuanya, orang-orang datang mencari kekayaan,
tetapi yang paling laku justru adalah ilusi.
Ono Ono wae …..!







