Esai-Manifesto: Harri Safiari
Porosmedia.com – Malam turun pelan di Solo. Lampu-lampu menyala.
Pagar kayu itu berdiri seperti biasa.
Seorang Gen Z berdiri di depannya, menempelkan tangan. Kamera menyala. Musik sendu diputar.
Tiba-tiba tiga sosok imajiner muncul.
Nietzsche tertawa pendek.
Foucault mengamati tanpa berkedip.
Chomsky menyilangkan tangan.
Nietzsche: “Mengapa Kau Butuh Berhala Baru?”
Nietzsche mendekat.
“Anak muda,” katanya, “kau hidup di zaman ketika Tuhan sudah lama diumumkan mati. Tapi lihat dirimu — kau menciptakan altar baru.”
Gen Z itu kaget.
“Ini cuma konten, Om.”
Nietzsche tersenyum sinis.
“Tak ada yang ‘cuma’. Manusia selalu butuh sesuatu untuk ditinggikan. Jika bukan dewa, maka figur. Jika bukan figur, maka itu simbol.”
Ia menunjuk pagar.
“Apakah kau datang untuk berpikir? Atau untuk merasa dekat dengan kekuasaan?”
Gen Z terdiam. Kamera masih merekam.
Foucault: “Kuasa Itu Tak Pernah Pergi”
Foucault melangkah pelan.
“Kekuasaan tidak tinggal di istana,” ujarnya tenang.
“Ia hidup dalam praktik kecil. Dalam gestur. Dalam unggahan.”
Ia menatap layar ponsel yang menampilkan ribuan likes.
“Setiap kali kau membagikan simbol ini tanpa pertanyaan, kau sedang memperkuat jejaring kuasa simbolik. Tak ada paksaan. Tak ada larangan. Tapi wacana terbentuk.”
Gen Z bergumam, “Tapi kami bebas kok…”
Foucault tersenyum tipis.
“Kebebasan sering kali adalah bentuk kuasa yang paling halus.”
Chomsky: “Konsensus Itu Diproduksi”
Chomsky angkat bicara.
“Lihat bagaimana ini bekerja,” katanya.
“Media sosial mengulang gambar yang sama. Narasi sentimental diperbanyak. Simbol diperindah. Lama-lama publik menerima bahwa ini wajar. Bahwa ini layak dan termasuk pantas.”
Ia menatap pagar.
“Ketika simbol lebih sering dikonsumsi daripada kebijakan, masyarakat berhenti bertanya. Konsensus terbentuk tanpa debat.”
Gen Z mulai ragu.
“Jadi kami salah?”
Chomsky menggeleng.
“Bukan salah. Tapi sadarlah bahwa persepsi tak pernah netral.”
Manifesto di Depan Pagar
Angin malam berhembus.
Nietzsche berseru:
“Berhentilah mencari sosok untuk disembah. Ciptakan nilai kalian sendiri!”
Foucault menambahkan:
“Pertanyakan setiap simbol. Lihat relasi kuasa di baliknya.”
Chomsky menutup:
“Jangan biarkan citra menggantikan substansi.”
Gen Z mematikan kamera.
Pagar itu tetap berdiri.
Tidak suci.
Tidak terkutuk.
Hanya kayu.
Yang membuatnya sakral adalah pikiran kita.
Yang membuatnya politis adalah narasi kita.
Yang membuatnya panas adalah sensitivitas kita sendiri.
Untuk yang Gerah dan yang Tenang
Jika ada yang gerah membaca ini, mungkin karena simbol disentuh oleh pertanyaan.
Jika ada yang tetap adem, mungkin karena paham: kritik bukan kebencian, dan refleksi bukan permusuhan.
Demokrasi tidak runtuh oleh pagar.
Ia runtuh ketika warga berhenti berpikir.
Dan bangsa yang matang bukan bangsa yang anti figur,
melainkan bangsa yang tak takut menguji figur.
Di depan “Tembok Ratapan Solo”,
yang diuji bukan hanya sejarah,
tapi kedewasaan kita sebagai publik.
Jedak.
Jeduk.
Lampu kamera padam.
Pertanyaan tetap menyala.
(Selesai. Atau mungkin… ini baru bab pembuka.)







