Tono Rusdiantono, Sosok Tepat Membawa PDAM Tirtawening ke Arah Perubahan

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Kinerja Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Tirtawening Kota Bandung, Tono Rusdiantono, dinilai semakin menunjukkan arah pembenahan yang konkret. Dalam masa kepemimpinannya yang relatif singkat, Tono berhasil menampilkan langkah-langkah sistematis dalam memperbaiki tata kelola internal, efisiensi operasional, hingga peningkatan mutu layanan publik air bersih.

Langkah strategis ini menjadi indikator bahwa PDAM Tirtawening tengah bergerak menuju transformasi organisasi yang lebih transparan dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

1. Fokus pada Peningkatan Pelayanan

Salah satu agenda utama Tono Rusdiantono adalah memperkuat sistem pelayanan air bersih bagi warga Kota Bandung. Ia memimpin langsung proses asesmen teknis dan perbaikan intensif di sejumlah wilayah yang mengalami kendala pasokan air, dengan tujuan menekan keluhan pelanggan dan meningkatkan kepuasan publik.

“Pelayanan prima tidak cukup dengan jargon — harus dibuktikan lewat respons cepat di lapangan,” ujar salah satu staf teknis yang enggan disebutkan namanya.

2. Pembenahan Jaringan dan Penanganan Kebocoran

Kinerja teknis PDAM Tirtawening selama ini masih dibayangi oleh tingginya angka Non-Revenue Water (NRW) atau kebocoran air, yang mencapai kisaran 38–40 persen.
Tono mengambil langkah korektif dengan mengintensifkan perbaikan pipa yang rusak atau tidak berfungsi optimal, sekaligus memperbaiki sistem monitoring kebocoran. Upaya ini diharapkan mampu menekan tingkat kehilangan air secara bertahap hingga ke level ideal nasional.

Baca juga:  Wajah Ganda Bandung Wetan: Estetika "Paris van Java" yang Tercecer di Labirin Seng

3. Validasi SK Pegawai dan Penegakan Tata Kelola

Langkah berani lain dari Tono adalah validasi ulang terhadap 132 Surat Keputusan (SK) pengangkatan pegawai baru yang diterbitkan pada masa kepemimpinan sebelumnya.
Proses validasi ini dilakukan untuk memastikan legalitas administrasi dan kejelasan status kepegawaian, sekaligus membuka ruang penyelesaian atas hak-hak normatif yang belum terpenuhi.
Pendekatan ini mencerminkan sikap kehati-hatian dan kepemimpinan yang berlandaskan prinsip tata kelola yang akuntabel.

4. Kolaborasi dengan Stakeholder Lingkungan

Di luar pembenahan internal, Tono juga memperkuat sinergi eksternal melalui kerja sama antara PDAM Tirtawening dan Perum Perhutani KPH Bandung Utara.
Keduanya melakukan monitoring dan evaluasi terhadap Perjanjian Kerja Sama (PKS) mengenai Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Sumber Air di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Cisarua dan BKPH Lembang.

Kerja sama ini mencakup tiga aspek penting:

1. Kontribusi terhadap kelestarian lingkungan dan pendapatan Perhutani.

2. Keberlanjutan pengelolaan sumber daya air.

3. Evaluasi pelaksanaan PKS untuk penyempurnaan kebijakan ke depan.

Langkah tersebut menunjukkan kesadaran bahwa keberlanjutan sumber air tidak dapat dilepaskan dari keseimbangan ekologis kawasan hulu.

5. Skala Prioritas: Pelayanan, Pegawai, dan Infrastruktur

Baca juga:  Ketua Dewan Pembina Pusat ASWIN Mengutuk dan Mengecam Keras Pernyataan Konyol Abu Janda

Di tengah transisi kepemimpinan, Tono menetapkan prioritas kerja secara rasional dan terukur:

Penting dan Mendesak: Perbaikan jaringan pipa dan efisiensi operasional.

Penting: Penyelesaian polemik pegawai dan pembayaran hak normatif.

Mendekat: Peningkatan pelayanan publik yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.

Pendekatan berlapis ini memungkinkan PDAM menjaga stabilitas operasional sambil tetap mempersiapkan fondasi untuk reformasi jangka panjang.

6. Meningkatkan Pendapatan dan Efisiensi Perusahaan

Sasaran utama PDAM Tirtawening di bawah kepemimpinan Tono adalah meningkatkan pendapatan perusahaan melalui pengelolaan air minum dan air limbah yang efisien dan berkelanjutan.
Pendekatan bisnis ini bukan semata mencari keuntungan, tetapi juga untuk mendukung pembiayaan pembangunan daerah dan keberlanjutan pelayanan publik.

Visi tersebut sejalan dengan misi PDAM:

“Memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan air bersih dan air limbah yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.”

Peluang Menjadi Direktur Utama Definitif

Meski menunjukkan kinerja yang signifikan, posisi Tono Rusdiantono masih berstatus Pelaksana Tugas (Plt).
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, telah menugaskan Dewan Pengawas PDAM Tirtawening untuk melaksanakan seleksi terbuka dan profesional dalam menentukan Direktur Utama definitif.

Proses seleksi ini akan mempertemukan sejumlah kandidat yang memenuhi kualifikasi dan memiliki rekam jejak kepemimpinan di sektor pelayanan publik. Keputusan akhir tetap berada di tangan Dewan Pengawas dan Pemerintah Kota Bandung.

Baca juga:  Sawala Sunda: Langkah Awal Menuju Dewan Kebudayaan Sunda Jawa Barat

Namun, dengan rekam kinerja yang terbuka, terukur, dan berorientasi pada hasil, Tono Rusdiantono dinilai memiliki peluang kuat untuk melanjutkan tongkat kepemimpinan secara definitif — asalkan lolos dari proses seleksi yang transparan dan akuntabel.

Analisis: Reformasi PDAM dan Tantangan Kepemimpinan

Dari perspektif kebijakan publik, kepemimpinan di BUMD seperti PDAM membutuhkan kombinasi antara kemampuan manajerial, integritas, dan pemahaman teknis sektor air.
Langkah-langkah yang ditempuh Tono menunjukkan arah reformasi menuju penguatan tata kelola, efisiensi sumber daya, dan pengendalian kebocoran sistemik yang selama ini menjadi masalah klasik di sektor air daerah.

Jika konsistensi ini dipertahankan, PDAM Tirtawening berpotensi menjadi model perbaikan BUMD di Jawa Barat — perusahaan publik yang tidak hanya mengelola air, tetapi juga mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan dasar negara.

 

R. Wempy Syamkarya, S.H., M.M.
Pengamat Kebijakan Publik dan Politik

Editor : Sudrajat