Guru Bahasa yang Serba Bisa: Dari Ruang Kelas hingga Panggung Besar, Ketika Keberanian Jadi Jalan Hidup

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Menjadi guru bahasa mungkin terlihat sebagai profesi sederhana. Namun bagi Hayati Setia Kartadinata, seorang guru yang dikenal penuh semangat dan spontanitas, perjalanan hidupnya justru diwarnai dengan beragam pengalaman luar biasa — bahkan di luar profesinya sebagai pendidik.

Melalui pengalamannya, Hayati menunjukkan bahwa keberanian sering kali lahir bukan karena perencanaan matang, melainkan karena “terpaksa berani” dalam situasi mendesak. Dalam berbagai momen tak terduga, ia kerap diminta menggantikan peran penting orang lain — mulai dari menjadi MC dadakan, pemimpin upacara, pembaca ayat suci Al-Qur’an, hingga dirigen lagu kebangsaan di Gedung Merdeka.

“Memimpin lagu atau jadi dirigen, seperti di video itu, bukan profesi utama saya. Saya ini guru bahasa, guru biasa saja. Tapi nasib kadang berkata lain,” ujar Hayati dengan senyum penuh makna.

Salah satu pengalaman paling mendebarkan terjadi di Lapangan Gasibu Bandung. Saat itu, sebuah acara besar partai politik yang menghadirkan band terkenal tiba-tiba kehilangan pembawa acara karena alasan kesehatan. Panitia panik — dan tanpa diduga, Hayati diminta menggantikannya di atas panggung besar setinggi hampir dua meter.

Baca juga:  Belajar dari Jepang, Bergerak di Cicadas: Misi Kemanusiaan PERWASI IWS untuk Disabilitas

“MC-nya sakit perut, dan saya yang disuruh naik panggung. Deg-degan luar biasa, tapi alhamdulillah lancar,” kenangnya sambil tertawa.

Tak berhenti di situ, pengalaman serupa kembali datang saat ia menghadiri resepsi pernikahan sebagai tamu biasa. Ketika MC yang seharusnya memandu acara berhalangan hadir, ia diminta naik ke panggung. Namun situasi berubah menegangkan ketika calon pengantin pria tak kunjung datang hingga lewat pukul 11.00, membuat suasana haru dan panik.

“Bahkan pengantin wanitanya sempat pingsan. Suasananya tegang seperti kalah perang,” ujarnya mengenang.
“Akhirnya, atas kesepakatan para sesepuh, pernikahan tetap dilangsungkan — tapi dengan sepupu sang mempelai wanita.”

Kisah tak kalah unik terjadi saat Hayati datang ke kantor kecamatan untuk memperpanjang KTP. Tanpa rencana apa pun, seorang kenalan memintanya membacakan ayat suci Al-Qur’an dan memimpin doa dalam acara musyawarah organisasi yang sedang berlangsung. Petugas yang dijadwalkan belum hadir, sementara para tamu penting sudah menunggu.

“Walaupun bukan ustazah, saya jalani saja. Kasihan kalau acara tertunda,” katanya merendah.

Baca juga:  Bukan Sekadar Penerima Kebijakan, Pemuda Bandung Didorong Jadi Arsitek Pembangunan Kota

Sementara itu, pengalaman lain datang dari masa ia masih aktif sebagai guru PNS. Saat membawa tumpukan buku PR siswa, ia tiba-tiba dipanggil kepala sekolah untuk duduk di depan ratusan murid dan tamu undangan dari sebuah perusahaan asuransi pendidikan. Tanpa penjelasan apa pun, kepala sekolah pergi mendadak, dan Hayati langsung diminta memberi pengarahan kepada siswa.

“Saya tidak tahu itu acara apa. Tapi saya baca agenda tamu di meja, ternyata tentang asuransi jiwa. Ya sudah, saya sampaikan pentingnya perlindungan diri untuk siswa,” ungkapnya santai.

Puncaknya, Hayati juga pernah diminta menjadi pemimpin upacara pembukaan Diklat Nasional di Jakarta Selatan, setelah petugas yang ditunjuk mendadak sakit perut menjelang acara dimulai.

“Panitia panik, saya maju saja dengan tenang. Tiba-tiba ada yang tepuk tangan sambil teriak ‘Hidup Jabar!’” katanya penuh tawa.

Bagi Hayati, semua pengalaman itu bukan tentang mencari panggung, melainkan tentang menjalankan tanggung jawab dengan hati tulus, kapan pun dan di mana pun dibutuhkan.

“Ternyata pepatah ‘tidak ada rotan, akar pun jadi’ itu benar-benar saya alami,” ujarnya.

Baca juga:  Mengarahkan Rasa Ingin Tahu ke Arah yang Membangun

Kisah Hayati menjadi contoh nyata bahwa keberanian tidak selalu berarti nekat, tetapi keikhlasan untuk hadir ketika keadaan membutuhkan. Sosoknya mengingatkan bahwa guru bukan hanya pendidik di ruang kelas, tapi juga pelita yang siap menyala di tengah situasi tak terduga.