Porosmedia.com, Bandung – Ancaman krisis sampah kembali membayangi kawasan Bandung Raya. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti diproyeksikan bakal mengalami batas kapasitas maksimal (overload) pada akhir 2026. Di tengah volume buangan yang masih menyentuh angka sekitar 5.000 ton per hari, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dituntut bergerak cepat memoles strategi teknis di hilir sekaligus mengejar pembenahan dari hulu.
Mewakili Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menegaskan bahwa Pemprov Jabar tidak akan tinggal diam merespons potensi ledakan sampah tersebut.
“Tidak boleh ada ledakan sampah di Bandung Raya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus kerja keras semuanya,” ujar Herman seusai Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jawa Barat di Gedung DPRD Jabar, Selasa (6/10/2026).
Optimalisasi Zona 5 dan Rekayasa Teknis Hilir
Guna menyikapi keterbatasan ruang tampung, langkah darurat yang disiapkan meliputi rekayasa teknis pada Zona 5. Pemprov Jabar menggandeng para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menguji kelayakan penambahan ruang tampung, termasuk penanganan risiko keamanan seperti potensi akumulasi gas metana.
Selain pemadatan area (compacting) di Zona 5, skema penguatan infrastruktur berupa penambahan gravity wall di sisi selatan dan timur TPA Sarimukti turut dirancang untuk mencegah longsoran serta memperluas daya tampung darurat.
Untuk jangka menengah, Pemprov Jabar mendorong masuknya teknologi pirolisis guna memproses sampah lama menjadi bahan bakar solar. Rencana kolaborasi yang difasilitasi Pemprov bersama TNI AD dan mitra strategis ini ditargetkan mulai memasang instalasi pada akhir 2026 dan beroperasi di 2027 dengan target pengolahan 1.000 ton sampah lama per hari.
Pemprov Jabar juga memetakan potensi skema Refuse Derived Fuel (RDF). Namun, efektivitas teknologi konversi energi ini diakui masih bergantung pada kepastian pembeli (off-taker), kesiapan SDM, serta sinkronisasi teknis operasional.
Akselerasi Edukasi Hulu dan Masa Transisi Legok Nangka
Menyadari keterbatasan daya tampung TPA tidak akan pernah cukup tanpa pembenahan di tingkat sumber, Pemprov Jabar mengambil terobosan dengan menggerakkan sektor pendidikan. Sebanyak 25.000 mahasiswa ditargetkan turun langsung ke lapangan mulai Oktober selama tiga bulan untuk mendampingi warga dalam memilah dan mengolah sampah rumah tangga, perkantoran, hingga kawasan komersial.
Program pengabdian yang dikonversikan setara 10 SKS ini dibekali dengan panduan modul digital, melibatkan pula unsur TNI, Pramuka, serta elemen masyarakat setempat.
Rangkaian intervensi dari hulu hingga hilir ini diharapkan sanggup menopang daya tahan operasional TPA Sarimukti hingga akhir 2029, sebagai jembatan transisi sebelum Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka berbasis energi listrik (Waste to Energy) resmi beroperasi penuh pada 2030.







