Porosmedia.com, Balikpapan – Penanganan sampah organik, khususnya sampah sapuan daun kering dari berbagai wilayah Kota Balikpapan, memerlukan pendekatan teknologis yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Langkah ini krusial agar beban pembuangan akhir tidak terus menumpuk di TPA Manggar yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Duta Ahli Pengelolaan Sampah Organik – asal Kota Bandung, Kang Yayan, saat meninjau dan mendampingi tata kelola sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kalimantan Timur.
Menurut Kang Yayan, skema pemusnahan sampah melalui pemisahan dan pengolahan yang tepat harus memprioritaskan aspek kesehatan masyarakat dan perlindungan ekosistem. Metode pemusnahan dengan pembakaran (incinerator) atau bentuk pembakaran terbuka lainnya dinilai berisiko menimbulkan polusi asap yang berdampak buruk pada kesehatan air, tanah, dan udara.
”Kebijakan dan arah program pengelolaan lingkungan, termasuk di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, sudah sepatutnya lebih mengarah pada pemanfaatan sampah organik menjadi produk bernilai guna tinggi, seperti media tanam, briket, hingga biomassa,” ujar Kang Yayan.
Metode Open Windrow: Efektif, Skala Besar, dan Ramah Lingkungan
Secara teknis, Kang Yayan mendorong penerapan metode pengomposan Open Windrow—sebagaimana yang dikembangkan bersama tim ahli seperti Dedi Dharmawan (mantan Sekretaris DLH Kota Bandung). Metode ini dinilai teruji mampu mereduksi sampah organik dalam volume besar, mulai dari ratusan hingga jutaan ton, sekaligus menekan emisi gas metan (greenhouse gas).
”Pendekatan pengomposan Open Windrow tidak hanya menekan potensi bahaya ledakan gas metan di TPA, tetapi juga mengembalikan unsur hara ke tanah. Ini adalah investasi lingkungan jangka panjang untuk menjaga keseimbangan daya dukung alam demi generasi mendatang,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya efisiensi dan ketepatan alokasi anggaran publik dalam pengadaan sarana pengelolaan sampah. Menurutnya, keberhasilan pengolahan sampah tidak semata-mata ditentukan oleh pengadaan mesin atau alat bernilai tinggi jika tidak diikuti dengan sistem pengolahan mandiri yang konsisten dari hulu ke hilir. Tanpa komitmen operasional yang nyata, sampah akan tetap menumpuk di TPS, tepi jalan, maupun aliran sungai.
Pemberdayaan KSM Re-Energi Indonesia dan Ekonomi Sirkular
Langkah nyata pengolahan berbasis komunitas kini dibuktikan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Re-Energi Indonesia di TPST Karang Joang, Balikpapan Utara yang dinahkodai Faisal Ahmad. Dengan kekuatan binaan dan pendampingan, kelompok yang beranggotakan sekitar 15 warga lokal ini berhasil menjalankan skema ekonomi sirkular secara mandiri melalui pemilahan sampah anorganik dan organik.
Ke depan, hasil dari integrasi pengomposan ini diproyeksikan menghasilkan produk komersial dan pemanfaatan langsung, di antaranya:
- Kompos Unggul Terkemas: Siap didistribusikan untuk pemeliharaan tanaman dan pembibitan pohon.
- Briket & Biomassa: Sebagai sumber energi alternatif terbarukan.
- Budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly): Sebagai substitusi pakan tinggi protein untuk ternak itik, ayam, lele, dan ikan nila, serta bahan baku pelet.
- Sektor Pertanian & Pembenihan: Mengoptimalkan lahan sekitar untuk budidaya sayur-mayur dan pemeliharaan bibit tanaman keras/gelondongan.
Memotong Rantai Pasok Pakan dan Pupuk Luar Daerah
Mengakhiri keterangannya, Kang Yayan menekankan bahwa keberhasilan swakelola sampah organik di Balikpapan akan menyelesaikan masalah ketergantungan pasokan bahan organik dan pakan dari luar daerah.
”Selama ini, pasokan media tanam maupun pakan pendukung di lapangan masih banyak didatangkan dari Pulau Jawa dengan biaya logistik tinggi dan kesegaran yang berkurang. Melalui integrasi swakelola di TPST Karang Joang ini, kita tidak hanya menyelesaikan masalah sampah di Balikpapan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat secara nyata,” pungkas Kang Yayan.







