Porosmedia.com – Hari ini, 18 April 2026, udara di Jalan Asia Afrika, Bandung, kembali berhembus dengan aroma nostalgia diplomasi. Persis 71 tahun lalu, para raksasa dunia ketiga berkumpul di Gedung Merdeka untuk menghentikan hegemoni blok-blok kekuatan besar. Namun, di tahun 2026 ini, pertanyaan krusialnya adalah: Apakah Dasasila Bandung masih menjadi kompas hidup, atau sekadar teks usang yang dipajang di museum?
Salah satu poin krusial Dasasila Bandung adalah “tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soal-soal dalam negeri negara lain”. Pada 1955, intervensi berbentuk agresi militer atau sabotase politik. Di era 2026, intervensi telah bermutasi menjadi serangan siber, dominasi infrastruktur digital oleh korporasi global, hingga perang informasi yang mampu menggoyang stabilitas nasional tanpa satu pun peluru melesat.
Negara-negara Asia-Afrika kini menghadapi tantangan baru: Kedaulatan Digital. Tanpa adanya kerja sama teknologi yang setara di antara negara-negara selatan, poin-poin kemandirian dalam Dasasila Bandung akan sulit tercapai secara absolut.
Data ekonomi tahun 2026 menunjukkan disparitas yang makin lebar. Sementara beberapa negara Asia mulai mendominasi rantai pasok teknologi dunia, sekitar 40% penduduk di benua Afrika masih hidup di bawah garis kemiskinan dengan beban utang luar negeri yang mencekik.
Semangat “kerjasama ekonomi” yang didengungkan pada 1955 seharusnya tidak lagi hanya menjadi retorika perdagangan komoditas mentah. Peringatan KAA tahun ini harus mendorong implementasi nyata dalam transfer teknologi dan penghapusan hambatan dagang antar-sesama negara berkembang untuk memutus rantai ketergantungan pada kutub ekonomi tradisional.
Poin kedelapan Dasasila Bandung menekankan penyelesaian sengketa internasional secara damai. Namun, bayang-bayang konflik di Timur Tengah, ketegangan di Laut China Selatan, hingga krisis di Lebanon Timur (data April 2026) menunjukkan bahwa mekanisme multilateral seringkali lumpuh.
Indonesia, sebagai pewaris sah “Semangat Bandung”, memikul beban moral untuk tidak hanya menjadi tuan rumah seremonial. Diplomasi Indonesia di tahun 2026 dituntut lebih berani menyuarakan reformasi lembaga internasional agar suara negara-negara kecil tidak lagi hanya menjadi pelengkap di meja perundingan.
Menjaga “Nyala Bandung” tidak cukup dengan mengelap kaca di Museum KAA atau melakukan historical walk setahun sekali. Dasasila Bandung harus diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret: ketahanan pangan bersama, kedaulatan data, dan solidaritas nyata dalam menghadapi krisis iklim yang menghantam negara-negara selatan paling keras.
Jika tidak, peringatan 18 April hanya akan menjadi rutinitas kalender, sementara substansi keadilannya perlahan mati di bawah bayang-bayang kepentingan pragmatis kekuasaan.
Sudrajat







