Oleh: Dede Farhan Aulawi
Porosmedia.com – Pada Rabu (3/9), dunia kembali menyorot Beijing. Sebanyak 24 pemimpin negara hadir dalam parade militer besar-besaran yang digelar untuk memperingati 80 tahun pemerintahan Tiongkok. Ajang ini menjadi panggung penting bagi Presiden Xi Jinping untuk menegaskan pengaruh global Beijing sekaligus memperlihatkan posisi negaranya sebagai kekuatan penyeimbang Amerika Serikat (AS).
Kehadiran dua tokoh yang paling banyak menyedot perhatian internasional adalah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Keduanya duduk berdampingan dengan Xi, mempertegas konfigurasi aliansi non-Barat yang semakin kentara.
Indonesia pun tidak absen. Presiden RI Prabowo Subianto hadir dan menempati barisan depan sejajar dengan para pemimpin dunia lain, tepat di sebelah kanan Putin. Komposisi duduk ini menambah bobot simbolik kehadiran Indonesia dalam forum internasional tersebut.
Bagi AS, parade militer Tiongkok bukan sekadar seremoni nasional, melainkan barometer strategis yang mencerminkan ambisi militer dan politik Beijing. Setidaknya ada empat variabel penting yang menjadi sorotan Washington.
1. Indikator Modernisasi dan Ambisi Militer
Parade militer selalu dimaknai AS sebagai cara menakar kemajuan modernisasi People’s Liberation Army (PLA). Di antaranya pameran rudal hipersonik DF-17, drone tempur generasi baru, hingga sistem anti-satelit.
AS memandang unjuk kekuatan ini sebagai sinyal strategis: Beijing ingin mengurangi dominasi militer AS di Indo-Pasifik, mempertegas klaim atas Taiwan, serta mengukuhkan perannya dalam dinamika Laut Tiongkok Selatan. Semua itu dianggap sebagai upaya perlahan menggeser tatanan internasional berbasis aturan (rules-based order).
2. Pesan Politik dan Propaganda
Dari kacamata Washington, parade militer juga berfungsi sebagai instrumen propaganda domestik. Ia memperkuat legitimasi Partai Komunis Tiongkok (PKT) sekaligus memupuk nasionalisme rakyat.
Pada level global, unjuk kekuatan tersebut merupakan pesan simbolik: Tiongkok adalah kekuatan besar yang tidak bisa diabaikan. AS menilainya sebagai bagian dari strategi sharp power, yaitu pemanfaatan budaya, simbol, dan informasi untuk membentuk opini internasional demi kepentingan Beijing.
3. Ancaman terhadap Stabilitas Regional
AS kerap mengaitkan parade militer Tiongkok dengan meningkatnya ketegangan di kawasan. Klaim sepihak terhadap Taiwan, militerisasi Laut Tiongkok Selatan, serta tekanan geopolitik terhadap negara-negara Asia Tenggara dan Jepang menimbulkan kekhawatiran regional.
Dampaknya, Washington memperkuat jaringan keamanan dengan sekutu dan mitra melalui Quad (AS, Jepang, Australia, India), latihan bersama seperti RIMPAC dan Malabar, hingga penempatan kekuatan strategis di Guam, Jepang, dan Filipina.
4. Kompetisi Teknologi dan Senjata Strategis
Parade militer juga dianalisis sebagai sarana untuk membaca kemampuan teknologi Tiongkok: sistem anti-akses/area denial (A2/AD), rudal jarak jauh, hingga teknologi luar angkasa.
Pentagon menafsirkan hal ini sebagai kesiapan Tiongkok menghadapi konflik besar, terutama terkait Taiwan atau dominasi di Indo-Pasifik. Sebagai respons, AS meningkatkan investasi pada teknologi militer canggih, termasuk AI pertahanan, rudal hipersonik, sistem siber, dan antariksa.
Respon Strategis Amerika Serikat
Menghadapi kebangkitan militer Tiongkok, Washington mengambil sejumlah langkah:
Meningkatkan anggaran pertahanan, khususnya untuk Indo-Pasifik Command.
Mengintensifkan latihan bersama dengan sekutu strategis.
Memperluas penempatan pasukan di kawasan Indo-Pasifik.
Membangun koalisi diplomatik untuk meredam perilaku koersif Beijing.
—
Dari perspektif AS, parade militer Tiongkok jauh melampaui fungsi seremoni. Ia adalah komunikasi strategis yang mencerminkan ambisi global, upaya mengubah status quo internasional, dan sekaligus potensi ancaman bagi kepentingan Washington serta sekutu-sekutunya.
Tak heran bila setiap detail parade tersebut dicermati dengan saksama oleh Pentagon, lembaga intelijen, hingga komunitas keamanan nasional AS. Bagi mereka, kebangkitan militer Tiongkok adalah faktor penentu dalam peta geopolitik dunia yang terus bergerak menuju multipolaritas.







