Menakar Realitas: Melampaui Fatamorgana Eksistensi Digital dan Material

Avatar photo

Porosmedia.com – Dalam hiruk-pikuk peradaban modern yang serba cepat, manusia sering kali terjebak dalam pengejaran validasi dan akumulasi materi yang tak berujung. Namun, jika kita menilik lebih dalam melalui lensa spiritualitas yang tertuang dalam pesan langit, terdapat sebuah peringatan fundamental: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya senda gurau dan main-main…”

​Metafora “Senda Gurau” dalam Konteks Kontemporer

​Secara semantik, penyebutan dunia sebagai “senda gurau” (la’ibun wa lahwun) bukan berarti menafikan pentingnya ikhtiar manusiawi. Secara sosiologis, ini adalah kritik terhadap sifat temporal dari pencapaian duniawi.

​Data dari berbagai riset psikologi, termasuk fenomena Hedonic Treadmill, menunjukkan bahwa kepuasan materi cenderung menurun seiring waktu. Apa yang hari ini kita anggap sebagai pencapaian puncak, esok akan menjadi standar biasa yang menuntut pemuasan baru. Inilah esensi “permainan”—ia memiliki awal, akhir, dan aturan yang sering kali menjebak emosi manusia dalam siklus sementara.

​Akhirat sebagai “Al-Hayawan” (Kehidupan yang Sebenarnya)

​Ayat tersebut menggunakan istilah Al-Hayawan untuk menggambarkan akhirat. Dalam kaidah bahasa Arab, istilah ini merujuk pada kehidupan yang sempurna, kontinu, dan tidak disentuh oleh kekurangan.

Baca juga:  Wali Kota dan Ulama Sepakat Bangun Masjid Agung Kota Depok

Dimensi Akuntabilitas: Secara profesional, kesadaran akan kehidupan yang “sebenarnya” menciptakan standar etika yang lebih tinggi. Seseorang yang meyakini adanya kehidupan absolut tidak akan mengorbankan integritas demi kemenangan “permainan” sesaat.

Resiliensi Mental: Memahami bahwa dunia adalah fase transisi membantu individu dalam mengelola stres dan kekecewaan. Kegagalan dalam “permainan” dunia tidak dianggap sebagai akhir dari segalanya, melainkan bagian dari skenario yang lebih besar.

​Kehidupan saat ini sering kali terdistraksi oleh “dunia layar” yang merupakan bentuk modern dari senda gurau. Kita berkompetisi dalam angka pengikut, statistik ekonomi, dan status sosial yang sebenarnya rapuh.

​Memahami esensi ayat ini bukan berarti menarik diri dari dunia (asketisme ekstrem), melainkan menempatkan dunia sebagai instrumen, bukan tujuan. Profesionalisme yang sejati lahir ketika seseorang bekerja di dunia dengan standar akhirat: jujur, melayani, dan visioner.

​Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah sebuah ajakan untuk melakukan reorientasi. Jika kita mengetahui hakikat “permainan” ini, maka kita akan bermain dengan cerdas—memanfaatkan waktu yang singkat untuk investasi pada kehidupan yang kekal.

Baca juga:  Balada Tamu Undangan ke Rumah Tuhan: Kisah Ruben Onsu dan Amer Al Gaddafi

​Referensi Pendukung:

Tafsir Al-Misbah (Quraish Shihab): Menjelaskan makna lahwun (kelalaian) sebagai sesuatu yang memalingkan manusia dari hal yang lebih penting.

Teori Eksistensialisme Viktor Frankl: Mengenai pencarian makna (Man’s Search for Meaning) yang sejalan dengan konsep bahwa hidup harus memiliki tujuan transenden di luar materi.