Porosmedia.com – Setiap 8 September dunia menandai International Literacy Day (Hari Literasi Internasional) — sebuah pengingat kolektif tentang peran literasi dalam membentuk masyarakat yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan. Hari peringatan yang pertama kali dirayakan pada 1967 itu terus berevolusi seiring perubahan teknologi dan kebutuhan pembelajaran global. Pada 2025, UNESCO menempatkan fokus pada literasi di era digital: bagaimana membaca, menulis, dan memahami informasi ikut berubah oleh gelombang digitalisasi.
Kenapa literasi tetap jadi urgen
Angka-angka global memperlihatkan kontradiksi yang tajam: kemajuan besar dalam akses pendidikan dalam beberapa dekade terakhir, namun ratusan juta orang dewasa masih belum melek huruf. Data UNESCO/UIS menegaskan bahwa pekerjaan untuk memenuhi target pendidikan berkelanjutan masih jauh dari usai. Tantangan ini membuat literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca-menghitung, tetapi prasyarat partisipasi sosial, ekonomi, dan politik.
Teknologi: penggeser media atau penyelamat akses?
Digitalisasi membuka pintu besar: e-book yang murah, platform bacaan lewat ponsel, perpustakaan digital, dan audio-book memungkinkan bahan bacaan menjangkau pembaca yang sebelumnya sulit dijangkau oleh perpustakaan konvensional. UNESCO sendiri menempatkan inovasi digital sebagai alat untuk mempercepat capaian pendidikan dan literasi bila diarahkan dengan bijak. Studi dan inisiatif di beberapa negara berkembang menunjukkan bahwa ponsel dapat meningkatkan frekuensi membaca—khususnya di komunitas yang akses buku cetaknya terbatas. Namun, teknologi bukan obat mujarab: tanpa strategi kebijakan, infrastruktur, dan konten lokal, peluang tersebut bisa hilang atau justru memperlebar ketimpangan.
Di lapangan: apa yang terjadi di Indonesia?
Indonesia menampilkan gambaran campur-aduk. Pada taraf internasional, hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa capaian literasi membaca siswa Indonesia masih jauh di bawah rata-rata OECD, menandai kebutuhan perbaikan kualitas pembelajaran membaca di sekolah. Di sisi lain, upaya domestik seperti platform perpustakaan digital iPusnas dan program duta baca nasional menjadi bagian respons pemerintah dan komunitas untuk menaikkan minat baca. Penelitian akademis lokal juga berkali-kali menyorot rendahnya minat baca sebagai fenomena multifaktorial—melibatkan aspek kurikulum, ketersediaan bahan bacaan, waktu luang, dan persaingan perhatian oleh konten digital non-literer.
Manfaat nyata literasi digital — dan jebakannya
Manfaat:
Akses lebih luas — Konten digital menembus hambatan geografis; buku anak lokal dan materi pembelajaran bisa disebarkan cepat. (contoh: inisiatif e-book di negara berkembang).
Inklusi — Audiobook dan teks digital memudahkan akses bagi penyandang disabilitas dan pembelajar dewasa.
Skalabilitas program literasi — Program digital dapat disebar lebih cepat dan dipantau secara data-driven.
Jebakan:
Kesenjangan digital — Akses perangkat dan koneksi masih tidak merata; tanpa intervensi, literasi digital dapat menguatkan ketimpangan yang sudah ada.
Paradox of choice & distraksi — Banyaknya format dan notifikasi digital menantang perhatian mendalam yang dibutuhkan untuk keterampilan membaca kritis. Audiobook atau bacaan cepat tidak selalu sama hasilnya dengan membaca teks panjang dalam hal pemahaman mendalam.
Konten bermutu vs disinformasi — Digital mempercepat penyebaran informasi — baik yang benar maupun salah — sehingga kemampuan literasi kritis menjadi lebih penting dari sebelumnya.
Rekomendasi kebijakan: merangkai hibrida cetak-digital
1. Perpustakaan publik + digital: Kembangkan model perpustakaan hibrida — fasilitas fisik sebagai ruang baca dan fasilitator literasi; platform digital yang mengakomodasi e-book, audiobook, dan materi lokal (bahasa daerah). Indonesia sudah punya fondasi lewat iPusnas—model ini perlu diperkuat dan disebarluaskan.
2. Literasi digital terintegrasi di sekolah: Kurikulum harus mengajarkan membaca kritis lintas format — teks cetak, layar, audio — serta verifikasi sumber. Guru perlu pelatihan dan alat evaluasi hasil baca yang sesuai era digital.
3. Investasi infrastruktur dan akses murah: Subsidi konektivitas publik dan perangkat di perpustakaan desa/rumah baca agar digital tidak menjadi privilege.
4. Dukungan konten lokal: Insentif bagi penerbit dan kreator lokal untuk memproduksi buku digital, buku anak berbahasa daerah, dan audio-buku untuk meningkatkan relevansi. (Pelajaran: program e-book di negara berkembang membuktikan efektivitas biaya distribusi).
5. Pengukuran dan evaluasi baru: Standard metrik literasi perlu memasukkan kompetensi digital—kemampuan mengevaluasi sumber online, memahami multimodal teks, dan literasi media. Data internasional seperti PISA sudah memperlihatkan area yang perlu ditingkatkan.
Hari Literasi Internasional sebagai pengingat dan tuntutan aksi
Hari Literasi Internasional adalah lebih dari perayaan simbolis: ia adalah panggilan untuk menyeimbangkan dua fakta sekaligus—bahwa buku tetap penting sebagai dasar pembelajaran mendalam, dan bahwa teknologi harus dimanfaatkan untuk memperluas, bukan menggantikan, kemampuan literasi. Bagi Indonesia, tantangan besar ada pada bagaimana meramu kebijakan, infrastruktur, dan budaya baca sehingga generasi mendatang bukan hanya “melek huruf”, tetapi juga mampu berpikir kritis di tengah banjir informasi digital. Peringatan 8 September setiap tahun harus mendorong tindakan nyata: investasi pada perpustakaan, literasi digital yang inklusif, dan program yang menempatkan pembaca — bukan platform — sebagai pusat proses belajar.
Referensi utama (pilihan untuk verifikasi)
UNESCO — International Literacy Day (sejarah & makna).
UNESCO — Agenda Global ILD 2025, tema “Promoting Literacy in the Digital Era”.
UNESCO Institute for Statistics — tema literasi & angka global.
UNESCO — Digital learning and transformation of education (peran teknologi).
Time / UNESCO-Worldreader study — ponsel sebagai media baca di negara berkembang.
OECD (PISA 2022) — hasil literasi membaca Indonesia.
Studi & evaluasi lokal (iPusnas, penelitian universitas) tentang minat baca dan program literasi di Indonesia.







