Porosmedia.com, Bogor – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jawa Barat diwarnai dengan refleksi mendalam mengenai arah pembangunan daerah. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa esensi perjuangan masa kini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan sosial.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, saat menghadiri Kirab Merah Putih dalam rangkaian Festival Merah Putih ke-11 di kawasan Tugu Kujang, Kota Bogor, Minggu (9/8/2026).
Dalam penuturannya, Herman mengapresiasi kolaborasi Pemda Kota Bogor dan panitia penyelenggara. Namun, ia menekankan bahwa ajang tahunan ini tidak boleh berhenti pada seremonial belaka. Spirit pahlawan seperti Jenderal Sudirman—yang berjuang tanpa lelah meski dalam kondisi terbatas—harus diartikulasikan ke dalam kebijakan publik yang konkret.
”Representasi Merah Putih adalah spirit perjuangan dan pantang menyerah. Dulu pahlawan mempertaruhkan jiwa demi kemerdekaan, sekarang kita wajib bertaruh untuk mengisinya. Mengutip Sutan Sjahrir, hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan,” ujar Herman usai kegiatan.
Soroti Indikator Makro dan PR Pembangunan
Herman memaparkan bahwa klaim keberhasilan pembangunan daerah harus diuji melalui indikator makro. Menurutnya, Jawa Barat saat ini berada pada jalur yang tepat, meski diakui masih terdapat sejumlah celah evaluasi yang perlu diperbaiki.
Ia membeberkan beberapa data capaian yang diklaim sebagai progres signifikan Pemprov Jabar:
- Pertumbuhan Ekonomi: Laju pertumbuhan ekonomi Jabar pada Triwulan I tercatat mencapai 5,79 persen, berada di atas rata-rata nasional (5,61 persen).
- Indeks Pembangunan Manusia (IPM): Mengalami kenaikan delta sebesar 0,98 poin menjadi 75,90.
- Penanganan Stunting: Prevalensi stunting diklaim mengalami penurunan drastis secara year on year dari 27,7 persen menjadi 15,9 persen.
- Kemiskinan & Pengangguran: Angka kemiskinan berhasil ditekan turun 0,3 poin, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berkurang 0,1 poin (membaik dibandingkan penurunan rata-rata nasional sebesar 0,08 poin).
”Untuk menilai kinerja pemerintah, publik tidak hanya bisa melihat angka kumulatif, tetapi harus membedah delta atau tren peningkatannya. Tantangan mengisi kemerdekaan saat ini sama beratnya,” tegas Herman.
Keberlanjutan dan Gotong Royong
Meski jajaran data makro menunjukkan tren positif, realita di lapangan tetap menuntut pengawasan publik secara menyeluruh. Pengentasan kemiskinan struktural, pemerataan akses pendidikan, hingga efektivitas program kesehatan di tingkat kabupaten/kota memerlukan sinkronisasi ketat agar tidak sekadar menjadi capaian di atas kertas.
Herman mengakui bahwa pekerjaan rumah Pemprov Jabar masih menumpuk dan memerlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat serta pemerintah daerah di 27 Kabupaten/Kota.
”Jabar butuh kritik, partisipasi, dan kolaborasi. Membangun hari ini sama dengan berjuang, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri melainkan harus bergotong royong,” pungkasnya.







