Porosmedia.com – Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43 tingkat Kota Bandung di GOR Bandung menjadi panggung bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk menegaskan kembali narasi lama yang sarat ambisi: menjadikan Bandung sebagai City of Champions sekaligus tuan rumah ajang olahraga di Jawa Barat. Peluncuran dua maskot anyar, Si Badu (Badak Utama) untuk Porprov XV dan Si Cangkleung untuk Peparda VII Jawa Barat 2026, menjadi penanda visual atas tekad merebut kembali status juara umum.
Namun, di balik selebrasi simbolis dan jargon inklusivitas, publik wajar menagih konsistensi pelaksanaan di lapangan. Penetapan target juara umum pada Porprov dan Peparda 2026 bukan sekadar perkara motivasi di atas panggung, melainkan pembuktian tatakelola pembinaan atlet dan kesiapan infrastruktur secara rinci. Ambisi memborong medali harus dibarengi dengan transparansi manajemen, pemenuhan hak-hak atlet, serta kejelasan skema bonus prestasi agar motivasi kontingen tidak terganjal persoalan administratif di kemudian hari.
Gagasan Pemkot Bandung bersama akademisi untuk menerapkan kolaborasi sport science serta mengkaji penambahan jam pelajaran olahraga—30 menit sebanyak tiga kali sepekan di jenjang SD dan SMP negeri—patut diapresiasi sebagai langkah awal pembinaan usia dini. Meski demikian, rencana program piloting ini perlu dikawal ketat agar tidak berhenti sebagai wacana di atas kertas atau sekadar beban kurikulum tambahan. Ketersediaan fasilitas olahraga sekolah yang memadai serta kesiapan tenaga pengajar terlatih menjadi sarat mutlak agar keterlibatan fisik siswa benar-benar berdampak pada kebugaran, bukan sebatas formalitas presensi.
Di sisi lain, pelepasan atlet Special Olympics Indonesia (SOIna) Kota Bandung menuju Pesonas II 2026 di Nusa Tenggara Timur membawa pesan penting mengenai kesetaraan. Penegasan bahwa olahraga harus bersifat inklusif tanpa memandang latar belakang sosial maupun kondisi fisik dan mental menuntut realisasi nyata. Ujian sesungguhnya bagi Pemkot Bandung dan dinas terkait adalah bagaimana memastikan alokasi anggaran, fasilitas latihan, serta perhatian bagi atlet disabilitas dan kebutuhan khusus sejajar dengan atlet non-disabilitas secara berkelanjutan.
Langkah memperkuat city branding melalui narasi sejarah lokal pada maskot Si Badu memang memberi warna tersendiri. Namun, keberhasilan sebuah kota olahraga tidak diukur dari megahnya seremonial peluncuran identitas visual. Tolak ukur utamanya terletak pada daya dukung ekosistem olahraga secara menyeluruh: kemudahan akses masyarakat umum terhadap ruang publik olahraga, kesinambungan pembinaan usia muda, hingga akuntabilitas tata kelola organisasi olahraga daerah.
Masyarakat Kota Bandung tentu menunggu pembuktian nyata dari deretan rencana tersebut. Menjadikan olahraga sebagai bagian dari peradaban dan gaya hidup warga adalah jalan panjang yang membutuhkan kerja konsisten, bukan sekadar riak semangat di setiap momen tahunan Haornas.







