Ketika Zuhud Bertemu Rindu dalam Kisah Utsman dan Khawlah

Avatar photo

Porosmedia.com | Tasikmalaya |Di sudut kota Madinah yang sepi, rumah itu tak berbeda dengan lainnya. Tetapi di balik dindingnya, pada suatu masa, tersimpan sebuah dialog sunyi antara puncak penghambaan dan kedalaman kerinduan. Kisah ini bukan tentang pertentangan, melainkan tentang pencarian keharmonisan—sebuah pelajaran abadi dari zaman Nabi, yang nyatanya masih bergema kuat di telinga kita di abad ke-21.

Utsman bin Mazh’un, Sang Arsitek Ruhani yang Lupa akan Dunia

Nama Utsman bin Mazh’un disebut-sebut dengan penuh hormat dalam lingkaran para sahabat. Ia adalah pionir, orang ke-13 yang membuka hatinya untuk Islam, seorang muhajir dua kali lipat—ke Habasyah lalu ke Madinah. Kekokohannya dalam beribadah legendaris, puasa yang menyambung, tahajud yang tiada henti, dan penolakannya terhadap gemerlap dunia begitu total. Dalam catatan sejarah, seperti yang dikisahkan dalam Siyar A’lam an-Nubala, ia bahkan pernah berniat untuk membujang dan meninggalkan segala “kesenangan duniawi” demi fokus beribadah. Ia adalah simbol zuhud yang paling murni.

Namun, di seberang kesalehan yang gemilang itu, ada seorang perempuan yang hidup dalam kesunyian. Khawlah binti Hakim. Ia bukanlah istri yang protes karena kekurangan materi. Rumahnya mungkin sederhana, dan itu baik-baik saja. Yang ia rasakan hilang adalah sesuatu yang lebih halus, lebih manusiawi, kehadiran.

“Aku tidak marah… aku tidak cemburu… aku hanya rindu,” begitu mungkin bisik hatinya. Rindu pada obrolan ringan, pada senyuman yang ditujukan padanya, pada keberadaan seorang sahabat hidup yang dulu pernah berbagi ketakutan dan harapan dalam perahu hijrah. Kini, suaminya lebih sering ia dengar tangisnya dalam shalat daripada suaranya menyapa. Ranjang mereka lebih sering terasa luas dan kosong. Ibadah yang seharusnya mendamaikan, justru membuat hatinya galau. Ia merasa “seperti tidak memiliki suami lagi”.

Baca juga:  13 Makanan Efektif Membantu Melindungi dan Melembabkan Kulit Kering

Aduan yang Penuh Hikmah, Ketika Nabi Menjadi Hakim Hati

Dengan keberanian yang lahir dari kepasrahan, Khawlah membawa kerinduannya yang remuk ke hadapan manusia terbaik, Rasulullah ﷺ. Ini bukan aduan yang menyalahkan, melainkan pengakuan yang jujur tentang kebutuhan jiwa. Ia menggambarkan dengan sempurna sebuah dilema spiritual yang dialami banyak pasangan hingga hari ini, bagaimana ketika satu jiwa begitu cepat melesat ke langit, sementara jiwa yang lain tetap butuh sandaran di bumi?

Rasulullah ﷺ mendengarkan. Beliau memahami semangat Utsman, tetapi beliau juga, sebagai pembawa risalah kemanusiaan yang sempurna, memahami bahwa Islam adalah agama keseimbangan. Maka, dipanggillah Utsman.

Sabda beliau menjadi pencerahan yang menyejarah, “Wahai Utsman, tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, istrimu memiliki hak atasmu…”

Kalimat itu bukan perintah untuk mengurangi ibadah, tetapi untuk memperluas maknanya. Ibadah bukanlah lomba meninggalkan dunia, tetapi lomba menunaikan amanah. Hak tubuh untuk istirahat, hak mata untuk tidur, dan hak istri untuk diperlakukan dengan baik—semuanya adalah ibadah yang setara dengan shalat sunnah. Dalam kajian psikologi Islam kontemporer, para ulama seperti Dr. Haifa Jamal Al-Lail menekankan bahwa memenuhi hak psikologis dan emosional pasangan adalah bagian dari taqwa dan kontribusi penting untuk membangun masyarakat yang stabil (thibbun nabawi secara psikologis).

Baca juga:  Dia Yang Memecahkan Gelas Dan Prasangka Yang Retak

Malam Pemulihan, Zuhud yang Menyentuh Bumi

Malam itu, setelah pertemuan dengan Nabi, terjadi sebuah “kembalinya” di rumah kecil itu. Utsman pulang dengan kesadaran baru. Ia duduk, berbicara, dan mendengarkan. Bukan cinta yang berkurang pada Allah, tetapi cinta yang kini lebih bijak dalam distribusinya. Ia menyadari, mengabaikan Khawlah bukanlah bukti cinta pada Ilahi, justru mungkin sebuah kelalaian terhadap amanah Ilahi.

Khawlah, di sisi lain, tidak pernah meminta ia berhenti shalat malam. Ia hanya rindu dilibatkan dalam spiritualitas suaminya, atau setidaknya, tidak ditinggalkan sendirian dalam keheningan. Kisah mereka mengajarkan bahwa zuhud sejati bukan berarti hidup dalam kekosongan relasi, tetapi hidup dalam relasi yang tidak diperbudak oleh nafsu. Cinta suami-istri, dalam bingkai ini, adalah mitra spiritualitas, bukan penghalangnya.

Gema di Zaman Kini, Menemukan Kembali ‘Khawlah’ dan ‘Utsman’ dalam Diri Kita

Di era dimana obsesi pada karir atau bahkan obsesi pada “kesalehan instan” di media sosial bisa mengorbankan hubungan nyata, kisah Utsman dan Khawlah menjadi cermin yang tajam. Berapa banyak pasangan hari ini yang secara fisik bersama, tetapi secara emosional terpisah oleh layar atau ambisi masing-masing? Kisah ini mengingatkan kita bahwa keseimbangan (tawazun) adalah kunci.

Baca juga:  Zubair bin Awwam, orang pertama yang menghunuskan pedangnya di jalan Allah

Para psikolog dan konselor keluarga Muslim modern sering menjadikan kisah ini sebagai rujukan. Mereka menekankan bahwa komunikasi dan kehadiran emosional adalah hak dalam pernikahan yang wajib ditunaikan, sebagaimana kewajiban finansial atau fisik. Ibadah ritual yang khusyuk justru harus melahirkan kelembutan dalam interaksi manusiawi, bukan mengeringkannya.

Kisah Utsman dan Khawlah berakhir dengan damai. Keseimbangan kembali. Utsman tetap seorang zahid, tetapi kini zahid yang bijaksana, yang memahami bahwa langit dan bumi dalam hidupnya harus terhubung oleh tangga kasih sayang. Khawlah mendapatkan kembali sahabat jiwanya, bukan dengan mengurangi kecintaannya pada Allah, tetapi justru dengan memperdalamnya melalui penunaian hak.

Mereka mengajarkan pada kita bahwa jalan menuju Allah tidak melalui pengasingan dari manusia yang dicintai-Nya, tetapi melalui pengabdian yang tulus kepada-Nya dengan menyayangi mereka. Sebab, dalam senyuman yang kita berikan kepada pasangan, di situlah pula salah satu bentuk sujud kita yang paling manusiawi.