Ignatius Dewanto: Penerbang Pejuang dan Riwayat Hidupnya

Avatar photo

Porosmedia.com – Ignatius Dewanto dikenal sebagai satu-satunya penerbang Indonesia yang berhasil menembak jatuh pesawat musuh pembom B-26 Invader yang dikendalikan oleh Allan Lawrence Pope. Prestasi ini menempatkannya dalam catatan penting sejarah kedirgantaraan nasional.

Selepas peristiwa 30 September 1965, Dewanto yang kala itu menjabat Atase Udara di Moskwa hanya bertugas sekitar satu tahun sebelum kemudian dipulangkan ke Indonesia. Berdasarkan keputusan resmi, ia diberhentikan dengan hormat dari dinas militer per 31 Maret 1967, bersama sejumlah perwira tinggi AURI lainnya.

Dalam sebuah persidangan, Dewanto menegaskan bahwa segala tindakannya hanyalah pelaksanaan perintah Panglima Tertinggi. Peristiwa G30S/PKI sendiri masih menyisakan banyak pertanyaan hingga hari ini. Pada 1 Oktober 1965, Dewanto membatalkan agenda peresmian sekolah intelijen udara di Semplak, Bogor, karena situasi Jakarta yang tidak menentu menyusul penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal Angkatan Darat pada malam sebelumnya.

Keesokan harinya, di tengah isu bahwa AURI akan berhadapan dengan Kostrad, Dewanto meminta perwira intelijen Kapten (Pnb) Kundimang untuk menemaninya terbang menggunakan Cessna 180 guna melakukan pemantauan udara atas Jakarta. Sebelum menuju ke Lanud Halim Perdanakusuma, ia terlebih dahulu singgah ke Gereja Theresia. Masih dengan seragam dinas lengkap dan pistol di pinggang, Dewanto berdoa dengan khidmat di depan altar. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Halim untuk bertemu Danlanud Kolonel Wisnu Djajengminardo.

Baca juga:  Prahara Bandung Zoo: Negara Akhirnya 'Turun Tangan', Izin LK Dicabut Demi Penyelamatan Satwa

Pada hari yang sama, Dewanto juga memainkan peran penting dalam meredakan kontak senjata antara Yonif 454 Banteng Raiders di bawah pimpinan Kapten Koentjoro (dari Jawa Tengah) dan pasukan RPKAD yang dipimpin Mayor Inf CI Santosa di kawasan Pondok Gede. Insiden itu hampir saja menelan korban sipil ketika sebuah oplet berisi penumpang melintas di tengah baku tembak. Dengan ketenangan dan dibantu Kundimang, Dewanto berhasil mencegah bentrokan lebih lanjut antara dua pasukan elite tersebut.

Sarwo Edhie Wibowo kemudian meminta Dewanto menemuinya. Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa Raiders bersedia bergeser apabila ada jaminan dari pihak AURI. Sarwo Edhie menyetujuinya dengan menugaskan Mayor Gunawan sebagai penjamin. Dengan demikian, pasukan Banteng Raiders akhirnya bergerak ke arah timur. Sejarah bisa saja mencatat peristiwa berbeda seandainya Dewanto tidak mengambil langkah mendamaikan kedua pihak.

Dewanto sendiri baru mengizinkan rumahnya dijaga oleh aparat setelah prosesi pemakaman Pahlawan Revolusi di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Selepas dari masa penahanan, kehidupan Dewanto sempat terpuruk. Ayah dari lima anak ini sempat tidak memiliki pekerjaan dan untuk bertahan hidup ia bekerja sebagai sopir mobil angkutan barang jurusan Banten–Jakarta. Selama tiga bulan ia menghidupi keluarganya dengan mengangkut sayur dan kelapa, jauh dari dunia penerbangan militer yang sebelumnya digelutinya.

Baca juga:  Sengkarut Panjunan: Wali Kota Farhan ‘Warning’ Ketegasan Satpol PP dan Evaluasi Pengelolaan Sampah

Pada tahun 1970, Dewanto kembali ke dunia aviasi dengan menjadi pilot sipil. Ia menerbangkan pesawat Piper PA-23 Aztec milik Sabang Merauke Raya Air Charter (SMAC) pada rute Medan–Aceh. Namun, pesawat yang dikemudikannya mengalami kerusakan mesin dan jatuh, menewaskan seluruh penumpang termasuk Dewanto. Tragedi itu terjadi pada 1970, tetapi jenazah Dewanto baru ditemukan delapan tahun kemudian.

Atas izin Presiden Soeharto kala itu, jenazah Ignatius Dewanto disemayamkan di Mabes TNI AU Pancoran sebelum akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namanya kini diabadikan pada sebuah gedung serbaguna di Lanud Iswahyudi, Madiun, sebagai penghormatan atas jasa-jasanya bagi bangsa dan Angkatan Udara Republik Indonesia.