Gajah Dikerahkan Bersihkan Sisa Banjir Bandang Pidie Jaya: Ironi di Tengah Krisis Ekologis

Avatar photo

Porosmedia.com, Pidie Jaya – Empat ekor gajah jinak milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dikerahkan untuk membantu membersihkan puing-puing kayu dan material berat pascabanjir bandang di Desa Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Di tengah kerja keras satwa cerdas ini, muncul kembali ironi lama: ketika habitat hancur akibat aktivitas manusia, satwa liar justru diminta turun tangan memulihkan kerusakannya.

Pemerhati satwa, Singky Soewadji—yang dikenal sebagai pegiat konservasi—menyoroti situasi ini sebagai cerminan ketidakadilan ekologis. Menurutnya, gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) selama ini tidak pernah menjadi ancaman bagi manusia. Sebaliknya, habitat mereka terus tergerus oleh pembukaan hutan, alih fungsi lahan, dan berbagai kegiatan ekstraktif.

“Hutannya ditebang, tanahnya digali, rumah mereka dihancurkan. Lalu ketika terjadi banjir dan tanah longsor, gajah justru dipanggil untuk membersihkan sisa kehancuran yang bukan mereka sebabkan. Apa salah gajah?” ujar Singky dalam keterangannya.

Empat gajah yang dikerahkan masing-masing bernama Abu, Mido, Ajis, dan Noni. Mereka didampingi para pawang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) dan ditugaskan untuk:

Baca juga:  Tingkatkan Pelayanan Kesehatan, Pemkot Bandung dan Lapas Perempuan Hadirkan Klinik Utama Lamoria

menggeser batang kayu berukuran besar,

membersihkan tumpukan material yang menutup permukiman warga,

membuka akses menuju rumah penduduk,

serta membantu proses evakuasi bila ditemukan korban di area sulit dijangkau.

Kepala BKSDA Wilayah Sigli, Aceh, Hadi Sofyan, menjelaskan bahwa pengerahan gajah dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan lingkungan pascabencana, terutama pada titik-titik yang tidak dapat diakses alat berat.

“Gajah terlatih yang kita bawa ini sebanyak empat ekor, semuanya dari PLG. Mereka bekerja bersama pawang untuk membersihkan area rumah warga dan lokasi terdampak lainnya,” ujarnya, Senin (8/12/2025).

Rencananya, para gajah ini akan bertugas selama sekitar enam hari ke depan, bergantung pada kondisi lapangan dan kebutuhan di area terdampak.

Di luar operasi kemanusiaan ini, aktivis lingkungan kembali menegaskan bahwa kejadian banjir bandang dan tanah longsor bukan semata-mata fenomena alam, melainkan akumulasi dari kerusakan lingkungan yang berlangsung bertahun-tahun.

Gajah Sumatera—yang populasinya terus menurun—kerap dianggap sebagai “hama” ketika memasuki wilayah manusia. Padahal, para ahli menyebut bahwa konflik satwa dan manusia meningkat karena habitat gajah semakin sempit, terfragmentasi, dan tidak lagi mampu mendukung kehidupan kawanan.

Baca juga:  Gejolak Pasca Kabar Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei: Di Mana Posisi Putin dan Xi Jinping?

Penggunaan gajah untuk penanganan bencana memang menjadi langkah cepat dan efektif, namun peristiwa ini juga mengingatkan kembali bahwa konservasi tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana datang. Upaya perlindungan hutan, pengawasan terhadap aktivitas perusakan lingkungan, dan pemulihan ekosistem harus menjadi prioritas jangka panjang.