Gajah, Harimau, dan Krisis Moral Ekologis: Saat Hutan Menyempit, Satwa Dipersalahkan

Avatar photo

Porosmedia.com – Pengamat konservasi alam menegaskan bahwa gajah dan harimau bukan ancaman bagi manusia, melainkan korban dari perubahan lanskap dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Dalam ekosistem alaminya, gajah tidak pernah berniat merusak kebun warga, sebab mereka hanya mengikuti jalur jelajah nenek moyang yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Ketika muncul laporan gajah merusak perkebunan, sesungguhnya perkebunanlah yang telah masuk ke dalam kawasan jelajah gajah, bukan sebaliknya.

Manipulasi ruang hidup satwa melalui regulasi dan perizinan kerap menjadikan satwa seolah-olah “pengganggu.” Pada titik konflik, gajah sering dihalau, bahkan diracun, demi kepentingan menjaga areal usaha. Padahal dalam sistem ekologis, gajah adalah “pahlawan konservasi”: membuka jalur bagi satwa lain, menyebarkan biji-bijian, dan menjaga kesinambungan hutan.

Nasib serupa dialami harimau. Kasus harimau mati akibat jerat atau perburuan terus terjadi. Dalam berbagai konflik manusia–harimau, sesungguhnya harimau hanya berusaha memberi tanda agar manusia menghormati batas wilayahnya. Harimau tidak punya kemampuan untuk bernegosiasi; bahasa satu-satunya adalah menunjukkan keberadaan dirinya. Ketika terpaksa menyerang manusia, itu bukan tindakan agresi, melainkan insting bertahan hidup dari makhluk yang wilayah dan sumber pakannya semakin menyusut.

Baca juga:  Komitmen Pelestarian Budaya, Bupati Bandung Sambut Hangat Kehadiran Koran Sunda Langlang Budaya

Namun siapa peduli?
Mereka dianggap sekadar “hewan,” makhluk rentan yang perlindungannya sering tertinggal jauh dari kebutuhan nyata di lapangan. Karena itu, ketika muncul pertanyaan mengenai spesies paling berbahaya di dunia, fakta ekologis kerap menunjukkan jawabannya: Homo sapiens, spesies yang memiliki kuasa paling besar menentukan nasib bumi.

Manusia Merusak, Alam Mengingatkan

Saat musim hujan, banjir terjadi di banyak daerah; saat kemarau, panas ekstrem dan kekeringan melanda. Semua ini seolah menjadi peringatan alam bahwa kerusakan tidak terlepas dari ulah manusia yang mengabaikan keseimbangan hutan dan lingkungan.

Ribuan hektar hutan ditebang untuk perkebunan besar dan proyek ekonomi skala luas. Rumah bagi gajah, orangutan, harimau, dan berbagai satwa lainnya hilang dalam waktu singkat. Ketika satwa-satwa yang lapar memasuki permukiman, sebagian manusia justru merespons dengan tindakan kekerasan, padahal secara ekologis kitalah yang menumpang di tanah mereka.

Kasus hilangnya habitat di Tesson Nillo, krisis lahan gajah Sumatra, hingga penyusutan hutan Kalimantan sebagai paru-paru dunia merupakan bukti nyata dampak eksploitasi. Bila tren ini berlanjut, generasi mendatang mungkin hanya dapat melihat gajah, harimau, dan orangutan sebagai dongeng yang diceritakan dari mulut ke mulut, bukan sebagai makhluk hidup yang pernah berjalan di tanah negeri ini.

Baca juga:  Gajah Dikerahkan Bersihkan Sisa Banjir Bandang Pidie Jaya: Ironi di Tengah Krisis Ekologis

Dalam banyak konflik lahan, respons negara sering kali dinilai tidak cukup kuat. Banyak pihak mempertanyakan keberpihakan pemerintah dalam melindungi kawasan hutan, termasuk konsistensi regulasi dan pengawasan. Publik berharap aparat dan kementerian yang terkait dengan kehutanan dan lingkungan hidup bekerja lebih transparan, tegas, dan berpihak pada konservasi.

Harimau sudah berstatus kritis, orangutan semakin terdesak, dan kini muncul kekhawatiran bahwa gajah dapat menyusul menuju ambang kepunahan, bila tidak ada kebijakan yang benar-benar berpihak pada lingkungan.

Tuhan menganugerahi negeri ini dengan hutan tropis yang megah dan keanekaragaman hayati yang tak ternilai. Namun kelestarian tidak akan terjaga tanpa moral ekologis dan tanggung jawab kemanusiaan dari mereka yang memiliki kuasa atas tanah dan sumber daya.

“Kau Peduli, Aku Lestari”,

Singky Soewadji| Porosmedia.com