Porosmedia.com, Nabire, Papua Tengah – Dalam suasana penuh khidmat dan kebanggaan nasional, bendera Merah Putih sepanjang 80 meter berhasil dibentangkan di Kampung Biha (Ligari 1), Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, Minggu, 2 November 2025.
Acara monumental ini diprakarsai oleh Martika Edison bersama Tim Ekspedisi Merah Putih yang berkolaborasi dengan Siliwangi News, EnagoNews, dan Paguyuban Sunda Ngahiji di Papua Tengah.
Simbol Cinta Tanah Air dari Timur Indonesia
Pembentangan bendera raksasa tersebut menjadi momentum bersejarah — bukan hanya bagi masyarakat Nabire, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dipimpin langsung oleh Kolonel TNI Kurniawan Fitriana (Abah Kur) dari Korem 173/PVB, kegiatan ini melibatkan ratusan warga, tokoh adat, serta masyarakat Sunda yang telah lama menetap di wilayah Makimi.
Kolonel Kurniawan, yang memegang ujung pertama bendera, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kesetiaan masyarakat Sunda di Papua Tengah terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Ini wujud komitmen kami, seluruh warga Pasundan Distrik Makimi, untuk setia kepada NKRI, menjaga persatuan, kesatuan, dan kebersamaan di bawah panji kehormatan Merah Putih,” ujarnya tegas di sela kegiatan.
Dari Sunda untuk Papua, dari Papua untuk Indonesia
Di ujung lain bendera, jajaran pengurus Paguyuban Sunda Ngahiji turut memegang erat Sang Merah Putih, sementara di tengah barisan tampak para warga Pasundan yang dengan penuh semangat mengibarkan bendera sepanjang 80 meter itu di sepanjang jalan kampung.
Perwakilan Sunda Ngahiji, Dadang Irfan, menyampaikan bahwa masyarakat Sunda di Distrik Makimi berkomitmen kuat menjaga keamanan lingkungan, keharmonisan sosial, serta keutuhan bangsa di wilayah Papua Tengah.
“Kami bangga bisa menjadi bagian dari Papua. Ini bukan sekadar pembentangan bendera, tapi bentuk nyata kami menjaga persaudaraan dan semangat kebangsaan,” tuturnya.
Ekspedisi Merah Putih: Dari Nabire ke 80 Titik Nusantara
Menurut inisiator kegiatan, Martika Edison, pembentangan bendera ini merupakan bagian dari program Ekspedisi Siliwangi Cinta Alam Indonesia, yang telah disampaikan secara resmi kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melalui surat tertulis dan mendapat respons positif melalui disposisi Sekretariat Negara.
Martika menjelaskan, ekspedisi ini akan berlanjut dengan pembentangan bendera sepanjang 80 meter di 80 titik strategis dan bersejarah di seluruh Indonesia, termasuk gunung-gunung, pantai, dan situs perjuangan bangsa.
“Kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Hari Sumpah Pemuda, dan ulang tahun ke-74 Presiden Prabowo Subianto. Kami ingin menunjukkan bahwa cinta Tanah Air harus diwujudkan melalui aksi nyata dan kebersamaan lintas daerah,” ungkapnya.
Sunda Ngahiji Papua Tengah: Bukti Harmoni dalam Keberagaman
Kehadiran Paguyuban Sunda Ngahiji di Nabire telah menjadi jembatan budaya antara warga pendatang dan masyarakat asli Papua. Dalam kegiatan tersebut, semangat gotong royong dan solidaritas terlihat jelas.
Mereka yang telah lama bermukim di Papua merasa bangga dapat terlibat langsung dalam aksi kebangsaan ini.
“Kami bukan hanya datang ke Papua untuk mencari hidup, tapi juga untuk hidup bersama dan membangun Indonesia dari Timur,” ujar salah satu anggota paguyuban dengan penuh haru.
Acara berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh sukacita. Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang mengiringi pengibaran Sang Merah Putih raksasa, disambut sorak kebanggaan warga yang hadir di lokasi.
Makna di Balik 80 Meter Merah Putih
Bendera sepanjang 80 meter itu bukan sekadar simbol panjangnya kain, tetapi juga menggambarkan panjangnya napas perjuangan dan semangat persatuan bangsa Indonesia.
Dari Nabire, gema merah putih kembali bergulung, meneguhkan keyakinan bahwa di bawah kehormatan Sang Saka, seluruh anak bangsa—dari Sabang hingga Merauke—tetap satu dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.







