Oleh: Anto Ramadhan (Ikatan Alumni Sastra dan Budaya Unpad)
Porosmedia.com – Bandung kerap digambarkan sebagai kota yang ramai, hidup, dan penuh aktivitas. Jalanan macet, pusat perbelanjaan, kafe, wisata kuliner, konser, hiburan, hingga deretan kampus besar menjadi penanda betapa padat dan dinamisnya denyut nadi kota ini. Namun di balik keramaian itu, muncul kritik bahwa Bandung mulai kehilangan ruh kultural—identitas budaya yang dulu menjadi napas dan jati diri kota.
Budaya kini sering hadir sebatas dekorasi, komoditas pariwisata, atau hiburan semata, bukan lagi ruh yang membimbing arah kehidupan kota. Dengan kata lain, Bandung semakin modern, konsumtif, dan komersial, tetapi kedalaman makna budaya terasa menipis.
Bandung Tempo Dulu: Kota Gagasan dan Perlawanan
Pada dekade 1950–1980, Bandung dikenal sebagai pusat pergerakan seni dan intelektual. Dari kampus-kampus seperti ITB, Unpad, dan IKIP (kini UPI) lahir seniman, budayawan, dan pemikir yang menggerakkan ruang-ruang diskusi kritis. Nama-nama seperti Mang Koko, Harry Roesli, Yus Rusyana, Ajip Rosidi, hingga Yacob Sumardjo menjadi bagian dari sejarah tersebut.
Kehidupan seni tradisi juga masih dekat dengan masyarakat. Wayang golek, degung, jaipongan, dan sastra lisan Sunda bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari keseharian. Bandung kala itu bahkan dijuluki “kota pergerakan,” dihidupi oleh gagasan, wacana, serta seni yang kritis dan penuh idealisme.
Ruang-ruang kota, seperti Braga, Dago, hingga Alun-Alun, menjadi arena hidup budaya. Orang datang bukan sekadar mencari hiburan, melainkan untuk menyerap nilai, berdiskusi, dan berkarya.
Bandung Kini: Ramai Namun Kehilangan Jiwa
Kondisi berbeda tampak di Bandung hari ini. Modernisasi dan komersialisasi ruang kota berjalan masif. Banyak ruang publik beralih fungsi menjadi pusat belanja, kafe, atau wahana wisata. Seni dan budaya lebih sering tampil sebagai branding pariwisata ketimbang menjadi napas kehidupan masyarakat.
Fenomena ini terlihat jelas di kawasan Braga. Pada era 1920–1980, Braga adalah ikon “Parijs van Java,” ruang pertemuan seniman, intelektual, dan mahasiswa. Kini, meski ramai wisatawan, aktivitas lebih banyak berkutat pada foto, kuliner, dan hiburan malam. Nilai historis dan kultural lebih sering dijadikan latar Instagrammable ketimbang ruang hidup gagasan.
Begitu pula di Dago. Dahulu menjadi kawasan rumah seni, butik kecil, dan ruang diskusi kreatif mahasiswa, kini lebih dominan oleh factory outlet dan restoran. Alun-Alun Bandung yang dulu dipenuhi pertunjukan rakyat kini lebih populer sebagai ruang wisata keluarga. Kreativitas tetap ada, misalnya melalui komunitas cosplay, namun seni tradisi dan ekspresi budaya rakyat semakin jarang hadir.
ITB pun mengalami pergeseran. Dahulu menjadi pusat lahirnya seniman besar dan gerakan mahasiswa kritis, kini kegiatan budaya lebih banyak berlangsung di lingkar akademik. Walau “Pasar Seni” masih berjalan, gaungnya kalah oleh hiruk-pikuk industri kreatif komersial.
Seorang pegiat sosial bahkan pernah menulis di media sosial:
“Bandung hari ini ramai oleh cahaya neon dan kerumunan, tapi sepi dari ruh kultural yang dulu menyalakan obor gagasan, seni, dan perlawanan. Bandung téh rame ku jalma, tapi hampang ku budaya.”
Upaya Menghidupkan Kembali Ruh Budaya
Kritik tersebut muncul di tengah kenyataan bahwa Pemerintah Kota Bandung juga sedang berusaha menata kembali wajah budaya kota. Wali Kota Bandung, M. Farhan—aktor, seniman, penyiar radio, sekaligus politisi yang dilantik pada 20 Februari 2025—meluncurkan sejumlah program unggulan di bidang seni dan kebudayaan.
Dalam pernyataannya di ISBI Bandung, Farhan menekankan bahwa seni dan budaya harus berjalan beriringan dengan teknologi. Program-program yang diluncurkan meliputi:
Pencatatan Kekayaan Intelektual Musik Tradisi, untuk melindungi karya seni budaya lokal dan mendorong pengakuan internasional.
Digitalisasi Sastra dan Budaya Sunda, termasuk dukungan pada aplikasi Gapura, ensiklopedia sastra, dan pengiriman peneliti ke luar negeri guna mengarsipkan karya budaya.
Bandung Kota Cerita, program partisipatif yang mengajak warga mendokumentasikan cerita lokal, arsip kolektif, hingga narasi sejarah kota.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat mempertemukan kembali budaya dengan masyarakat, sekaligus membuka ruang kolaborasi global melalui teknologi digital.
Bandung hari ini memang ramai, sibuk, dan penuh keramaian modern. Namun kritik tentang “sepi dari ruh kultural” tak bisa diabaikan. Sejarah menunjukkan bahwa Bandung pernah hidup dari seni, budaya, gagasan, dan perlawanan. Menghidupkan kembali ruh tersebut bukan semata nostalgia, melainkan kebutuhan agar Bandung tidak kehilangan identitasnya di tengah arus globalisasi.
Seperti ungkapan almarhum musisi Uwi Prabu dari Rumah Musik Harry Roesli:
> “Banyak orang berbudaya, tapi tidak berbudi. Banyak juga orang berbudi dan berbudaya, tapi tidak berdaya.”







