Ai Mulyani: Menenun Kemanusiaan di Atas Panggung Perjuangan dan Intelektualitas

Avatar photo

Porosmedia.com – Dalam hiruk-pikuk dunia organisasi dan pergerakan di Jawa Barat, nama Ai Mulyani bukanlah sosok baru. Ia adalah representasi dari perpaduan langka antara keteguhan prinsip, kedalaman akademik, dan kelembutan nurani yang konsisten selama puluhan tahun. Seorang perempuan yang membuktikan bahwa ketajaman pemikiran kritis dapat berjalan selaras dengan kepatuhan hukum dan kasih sayang yang tulus.

​Lahir dengan semangat kompetitif, Ai Mulyani sudah mencatatkan prestasi sejak bangku SMP. Namun, panggung sebenarnya adalah dunia organisasi. Memulai debut di usia 15 tahun sebagai Ketua OSIS, ia terus melangkah memimpin berbagai organisasi besar, mulai dari Karang Taruna, AMS, Generasi Muda Kosgoro, hingga LBPH Kosgoro.

​Intelektualitasnya bukan sekadar gelar, melainkan sebuah pembuktian. Menjadi lulusan terbaik dengan predikat Cumlaude, Ai membawa riset dan pemikirannya hingga ke level internasional melalui seminar dan studi lapangan di Thailand, Singapura, Malaysia, hingga Australia. Karya tulis ilmiahnya yang tersebar serta sisi melankolisnya yang tertuang dalam web puisi “Fatasm” menunjukkan keseimbangan antara otak kiri dan kanan yang mumpuni.

Baca juga:  Merawat Marwah Pers di Era Digitalisasi, IPJI Ciamis Dorong Penguatan Organisasi dan Profesionalisme Jurnalistik

​Di balik sosoknya yang kritis di lapangan, Ai Mulyani adalah potret perempuan mandiri. Mengemban status single parent sejak usia 31 tahun, ia berhasil mengantarkan ketiga putri kandungnya—Sisca Dewi Noviany, Widia Saptiani Diniati, dan Juwita Maulina Triyani Putri—menuju gerbang kesuksesan akademik di UPI dan AKPARINDO dengan prestasi gemilang.

​Ketangguhan ini pula yang ia transformasikan ke dalam pengabdian sosial. Tanpa bergantung pada bantuan pemerintah (APBD) atau anggaran organisasi, ia secara mandiri telah:

​Membangun dua masjid (di Buruan dan Citapen) pada tahun 1994.

​Menyantuni 120 anak yatim dan 60 kaum duafa secara rutin sejak 1986.

​Membina 81 anak asuh dan membesarkan 5 anak angkat hingga mereka mandiri.

“Bunda tidak mencari surga, Bunda hanya ingin memastikan tugas berbagi ini tuntas hingga tiba waktunya pulang ke haribaan-Nya.”

​Sebagai mantan Ketua DPP Gema Sunda, identitas Iket yang ia kenakan bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kepemimpinan yang berakar pada nilai lokal. Perjalanannya di organisasi pers dan pengawasan seperti IPJI (Ikatan Penulis Jurnalis Indonesia) dan MAPIKOR, hingga kini berlabuh di SBNI (Serikat Buruh Nasional Indonesia) dan APAK (Aliansi Pemuda Anti Korupsi), mengukuhkan posisinya sebagai tokoh yang melek hukum.

Baca juga:  ​Imlek: Lebih dari Sekadar Seremonial, Sebuah Katarsis Sosial dan Simbol Resiliensi Bangsa

​Ia memahami betul strategi “papan catur” dalam politik. Baginya, pondasi organisasi harus kokoh agar tidak runtuh oleh kepentingan sesaat. Meski seringkali memilih bergerak di balik layar dan tidak haus akan pencitraan foto di media, kontribusinya nyata—bahkan hingga hal teknis seperti menciptakan fasilitas fisik di kantor sekretariat dengan tangannya sendiri.

​Kini, Ai Mulyani memfokuskan energinya untuk mendampingi generasi muda, memberikan motivasi, dan menjadi navigator bagi organisasi agar tetap berada di koridor hukum yang aman namun tetap tajam secara kritis.

​Ia adalah bukti hidup bahwa seorang perempuan bisa menjadi aktivis yang tangguh, pemikir yang disegani, sekaligus ibu yang penuh kasih. Ai Mulyani mengajarkan kita bahwa perjuangan paling mulia adalah perjuangan yang menyelamatkan Habluminannas—hubungan antar sesama manusia.