Bukan Cuma Soal Kinerja, Disdik Kota Bandung Luncurkan Aplikasi SAE PTK Tekan Risiko Kesehatan Mental Ribuan Guru

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung  – Beban kerja dan tantangan pembelajaran yang kian kompleks ternyata berdampak langsung pada kondisi psikologis ribuan tenaga pendidik di Kota Bandung. Merespons temuan tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung merilis inovasi berbasis aplikasi bertajuk Sistem Akselerasi dan Evaluasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (SAE PTK) guna membenahi tata kelola pembinaan sekaligus memulihkan kesejahteraan psikologis guru.

​Peluncuran platform digital ini dipicu oleh gambaran riil di lapangan. Berdasarkan hasil skrining internal dan Asesmen Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (AKPTK) tahun 2025 terhadap 15.977 guru, tercatat masih banyak pendidik yang terjebak pada level kompetensi dasar hingga menengah. Tak hanya itu, hasil skrining sederhana juga mengindikasikan adanya sejumlah guru yang mengalami gangguan kesehatan mental, mulai dari tingkat ringan hingga berat, sehingga mendesak membutuhkan pendampingan psikologis.

​Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P3TK) Disdik Kota Bandung, Ahmad Asikin, membenarkan bahwa intervensi menyeluruh sudah tidak bisa ditunda. Menurutnya, evaluasi menunjukkan kelemahan mencolok pada kompetensi pedagogik—seperti penciptaan lingkungan belajar yang aman—serta penguasaan konten dan strategi pembelajaran pada aspek profesional.

Baca juga:  PDAM Tirtawening Kota Bandung: Antara Pelayanan Publik dan Krisis Kepercayaan

​“Dari latar belakang tersebut, kita kembangkan intervensi untuk menutup kekurangan yang ada. Harapannya, guru yang berada di level menengah ke bawah dapat terangkat level kompetensinya secara terukur,” ujar Ahmad, Jumat (23/10/2026).

​Ahmad menambahkan, cakupan wilayah binaan Disdik Kota Bandung yang sangat luas—membawahi sekitar 2.052 satuan pendidikan (PAUD, SD, SMP) dan 19.053 PTK—menjadi kendala tersendiri jika pembinaan hanya mengandalkan pola pelatihan tatap muka konvensional yang memakan waktu dan anggaran besar.

​“Hadirnya SAE PTK ini agar guru bisa meningkatkan kompetensi sesuai kebutuhan spesifik masing-masing tanpa harus terkendala pelatihan fisik. Sistem ini dirancang berbasis aplikasi online,” jelasnya.

​Melalui portal SAE PTK, profil kompetensi setiap guru yang terekam dalam AKPTK akan terintegrasi langsung dengan Learning Management System (LMS). Pendidik yang terdeteksi membutuhkan penguatan wajib mengikuti modul pembelajaran digital yang telah dipersonalisasi.

​Secara konseptual, platform SAE PTK ditopang oleh empat pilar utama, yaitu Competency Development (Pengembangan Kompetensi), Performance Monitoring (Pemantauan Kinerja), Teacher Well-being (Kesejahteraan dan Kesehatan Mental Guru), serta Talent & Career Management (Pengelolaan Talenta dan Karier).

Baca juga:  Kabar OTT BNPB, Korupsinikus: “Dana Siap Pakai Penanganan Bencana, Kok Melenceng, Woy?!”

​Pada tahap awal (piloting), inovasi ini mulai diuji cobakan kepada 1.394 guru di 40 sekolah percontohan sebelum nantinya diterapkan secara masif di seluruh satuan pendidikan se-Kota Bandung.

​“Melalui empat pilar ini, SAE PTK mengintegrasikan kompetensi, pemantauan kinerja, kesehatan mental, dan karier dalam satu ekosistem yang saling terhubung,” pungkas Ahmad. (Red/PM)

​