Porosmedia.com, Bandung – Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, resmi mencanangkan Gerakan Menanam Bambu Nusantara 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Yayasan Bambu Indonesia, Cibinong, Kabupaten Bogor tersebut, menjadi bagian penting dari Gerakan Tobat Ekologis Nasional yang difokuskan pada pemulihan lahan kritis serta perbaikan kualitas lingkungan hidup.
Dalam keterangannya, Jumhur Hidayat menegaskan komitmen pemerintah untuk menargetkan penanaman puluhan juta batang bambu di berbagai wilayah Indonesia. Karakteristik tanaman bambu yang kuat dalam konservasi tanah dan air dinilai menjadi solusi strategis untuk mempercepat rehabilitasi lahan rusak. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah membidik target ambisius agar setiap kecamatan di Indonesia memiliki minimal satu hektare kawasan bambu, yang didukung dengan penguatan ketersediaan bibit serta pendampingan budidaya bagi masyarakat.
Dari Menanam Menuju Mencintai Bambu
Kebijakan strategis Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) ini mendapat respon positif dari praktisi budaya sekaligus Direktur Utama Saung Angklung Udjo (SAU), Taufik Hidayat Udjo. Pria yang akrab disapa Kang Opik ini menilai, gerakan ini menyimpan esensi yang jauh lebih dalam dari sekadar agenda seremonial atau penghijauan konvensional.
Menurut Kang Opik, indikator keberhasilan Gerakan Menanam Bambu Nusantara tidak hanya diukur dari kuantitas jutaan batang yang tertanam, melainkan dari seberapa besar program ini mampu menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap bambu.
”Saya bukan ahli bambu, tetapi sejak kecil saya sudah hidup bersama bambu melalui angklung,” ujar Kang Opik saat ditemui dalam wawancara eksklusif di Saung Angklung Udjo, Padasuka, Bandung.
Bagi Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Jawa Barat ini, bambu bukan sekadar komoditas tanaman, melainkan sebuah ekosistem multidimensi yang mencakup budaya, pendidikan, pariwisata, lapangan kerja, hingga simbol keharmonisan manusia dengan alam.
Bambu sebagai Identitas dan Ingatan Kolektif
Di tatar Sunda, bambu telah lama melekat menjadi identitas kebudayaan. Dari rumpun-rumpun bambu lahirlah instrumen musik tradisional seperti angklung, calung, karinding, hingga suling.
”Bambu menemani perjalanan manusia (Sunda) sejak bermain, belajar, bekerja, hingga menjaga lingkungan,” tuturnya.
Kang Opik merefleksikan keberadaan Saung Angklung Udjo yang telah puluhan tahun dikelolanya. Di tempat ini, wisatawan tidak sekadar melihat bambu sebagai objek fisik, melainkan merasakan langsung experience (pengalaman) hidup bersama bambu; mulai dari arsitektur bangunan, pagar, tempat duduk, hingga interaksi melalui seni pertunjukan.
Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan seni angklung—yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO—sangat bergantung pada kelestarian ekosistem bambu di alam liar. Angklung tidak lahir dari lini produksi pabrik modern, melainkan dari alam yang terjaga kelestariannya.
”Tantangan Gerakan Menanam Bambu Nusantara menurut saya adalah kolaborasi. Para ahli menanam dari sisi ekologi, sementara kami dari dunia budaya ingin membantu Indonesia menanam rasa cinta terhadap bambu,” tegasnya optimis.
Sentuhan Budaya dan Integrasi Lintas Sektor
Data internal yang dikantongi PUTRI menunjukkan bahwa daya tarik utama yang mendatangkan jutaan wisatawan ke destinasi berbasis bambu seperti SAU adalah kekuatan emosional dari seni pertunjukan itu sendiri. Sentuhan budaya terbukti mampu melintasi sekat bangsa dan bahasa. Kang Opik mencontohkan, banyak wisatawan mancanegara yang terkesan mendalam setelah memainkan angklung hingga menyebutnya sebagai “Music from Heaven” (Musik dari Surga).
Berkaca dari hal tersebut, Kang Opik berharap program nasional ini tidak berhenti pada seremonial penanaman saja. Perlu ada integrasi lintas sektor yang menghubungkan gerakan ekologis ini dengan kurikulum pendidikan lingkungan, pelestarian budaya, penguatan ekonomi kerakyatan, serta pengembangan industri kreatif.
Menutup perbincangan, Taufik Hidayat Udjo menyampaikan pesan filosofis mengenai pentingnya melihat kembali kearifan lokal dalam menjawab tantangan masa depan.
”Dari angklung ke ekologi, dari budaya ke konservasi, dari menanam bambu ke mencintai bambu. Masa depan Indonesia tidak selalu harus dicari dalam sesuatu yang baru. Terkadang, jalan hijau menuju masa depan justru telah lama tumbuh di halaman rumah kita sendiri,” pungkasnya.







