Membedah Sisi Lain Kegilaan Konvoi: Antara Ekstase Massa dan Ujian Kedewasaan Warga Kota

Avatar photo

Porosmedia.com – Ketika peluit panjang berbunyi dan kemenangan besar berhasil direnggut oleh Maung Bandung, seketika itu pula hukum tata ruang dan ketertiban kota seolah memasuki masa “libur lokal”. Jalanan Asia Afrika, Dago, hingga lingkar Gasibu berubah menjadi lautan biru. Bagi mereka yang mengimani bahwa klub kebanggaan adalah segalanya, momen ini adalah ritus suci. Namun bagi sebagian warga kota lainnya, ini adalah awal dari ujian kesabaran yang menguras ruang dengar.

​Mari kita bedah fenomena kultural ini dengan kacamata yang sedikit lebih jernih, tanpa harus kehilangan rasa bangga.

​Ritus “Merebut” Jalanan: Musik Perayaan atau Polusi Suara?

​Secara tekstual, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan konvoi sebagai pergerakan bersama dari sejumlah kendaraan untuk tujuan tertentu, seperti keamanan atau upacara. Namun di jalanan kota, definisi ini mengalami perluasan makna yang cukup “kreatif”. Konvoi bukan lagi sekadar iring-iringan logistik atau pengawalan VVIP, melainkan proklamasi kekuasaan auditori.

​Salah satu bumbu wajib dalam ritus ini adalah raungan knalpot bising alias knalpot brong. Secara hukum positif, aturan kita sangat galak. Pasal 285 ayat (1) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) sudah mengancam pelanggar persyaratan teknis ini dengan pidana kurungan atau denda materi. Ambang batas desibelnya pun sudah dipatok rapi oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Baca juga:  Uji Integritas ASN Bandung: Antara Skema WFH Ketat dan Seruan 'Jumat Bersepeda' Wali Kota

​Namun di hadapan psikologi massa, lembaran undang-undang sering kali kalah perkasa dibanding knalpot imitasi. Mengapa kebisingan yang mengganggu ini justru dicintai oleh pelaku konvoi?

​Secara sosiologis, raungan mesin itu adalah alat dominasi. Ada semacam kebutuhan psikologis untuk melakukan amplifikasi euforia. Semakin bising, dianggap semakin megah. Di dalam kerumunan ribuan roda dua, terjadi fenomena deindividuasi—sebuah kondisi psikologis di mana identitas pribadi melebur ke dalam mentalitas kelompok (mob mentality). Remaja yang jika sendirian mungkin akan santun dan taat lampu merah, tiba-tiba menjelma menjadi “penguasa jalanan” saat dikelilingi kelompoknya karena merasa terlindungi oleh anonimitas massa.

​Rapors Merah Kesantunan Remaja di Ruang Publik

​Fenomena ini menjadi pisau bermata dua, khususnya bagi generasi muda. Di satu sisi, komunitas suporter adalah laboratorium sosial yang luar biasa dalam memupuk modal sosial (social capital). Kita tidak bisa menutup mata bagaimana kelompok-kelompok ini mampu menggalang aksi sosial kreatif, mulai dari bagi-bagi takjil hingga donasi bencana alam. Ada rasa sauyunan (kebersamaan) dan kerja tim yang solid di sana.

Baca juga:  Pemkot Bandung dan Stakeholder Mulai Benahi Kabel Udara di Kawasan Jalan Buahbatu

​Namun di sisi lain, ruang publik sering kali disuguhi tontonan nir-disiplin yang jauh dari nilai kesantunan urang Sunda. Berkendara tanpa helm, berboncengan tiga, hingga aksi saling ejek (psywar) yang kasar di ranah digital menjadi potret buram yang sulit dibantah.

​Bagi masyarakat madani (civil society), tatanan yang beradab haruslah menjunjung tinggi hukum dan hak asasi orang lain di ruang bersama. Ketika ambulans terjebak di tengah kemacetan total (gridlock) akibat perayaan yang meluap, atau ketika lansia dan bayi harus terjaga karena polusi suara semalam suntuk, di titik itulah batasan antara “ekspresi kegembiraan warga” dan “pemaksaan kehendak” menjadi sangat tipis.

​Menuju Kedewasaan Kultural

​Merayakan kemenangan adalah hak kultural yang sah. Sejarah panjang sejak era Perserikatan telah membentuk genetik masyarakat Jawa Barat untuk selalu menyambut pahlawan lapangan hijau mereka dengan pesta rakyat. Kemenangan tersebut adalah katarsis emosional yang valid setelah pengorbanan waktu dan materi yang tidak sedikit.

​Namun, menempatkan kebanggaan pada tempat tertinggi tidak boleh dilakukan dengan cara merendahkan hak-hak warga kota lainnya. Kebanggaan yang sejati tidak lahir dari ketakutan pengendara lain yang terpaksa menepi, melainkan dari rasa hormat yang muncul karena ketertiban yang ditunjukkan.

Baca juga:  Dasein, Toleransi dan Geopolitik

​Tantangan terbesar bagi kepolisian, manajemen klub, dan para pentolan komunitas hari ini adalah bagaimana mentransformasi konvoi liar yang intimidatif menjadi sebuah pawai budaya yang terorganisasi dan estetik. Sudah saatnya energi raksasa ini diarahkan menjadi kekuatan yang madani. Sebab, mendukung totalitas tidak harus membunuh moralitas, dan menjadi fanatik tidak perlu membuat kita lupa cara menjadi santun. ***

porosmedia