Oleh: Anto Ramadhan
(Pengamat Budaya, tinggal di Cicadas)
Porosmedia.com – Indonesia pernah mengalami Lebaran paling mendadak dalam sejarah. Pada tanggal 27 Mei Tahun 1987 (1Syawal 1407 H) , lebaran di Indonesia diumumkan oleh pemerintah pada jam 10 pagi. Pagi itu semua orang mengira hari itu terakhir puasa. Pemerintah baru mengumumkan pada jam 10 pagi hari dan langsung memutuskan sebagai 1 syawal. Umat Islam yang pada saat itu sedang berpuasa menyebutnya sebagai Hari Lebaran Tanpa Malam Takbiran, mungkin dalam bahasa sekarang istilahnya Mendadak Lebaran.
Sampai saat ini belum ditemukan catatan sejarah, mengapa dan bagaimana, hal itu bisa terjadi.
Sejarah Lebaran 1987: Antara Kejutan dan Kesederhanaan Menjadi Kemewahan
Lebaran hari ini sering kita bayangkan sebagai perayaan yang gemerlap—lalu lintas digital ucapan tak henti, belanja daring yang memuncak, hingga arus mudik yang menyerupai eksodus besar. Namun, jika kita menoleh ke belakang, tepatnya pada Lebaran tahun 1987, kita akan menemukan wajah lain dari Idul Fitri: sederhana, hening, namun justru sarat makna.
Pada tahun itu, umat Islam Indonesia merayakan Idul Fitri dalam naungan kekuasaan. Negara berada dalam fase stabilitas politik yang ketat, bahkan cenderung terkendali. Walaupun pada waktu itu hari lebaran di umumkan mendadak pagi hari oleh pemerintah tanpa sidang isbat tak ada hiruk-pikuk perdebatan publik seperti hari ini. Media berada dalam satu arus narasi, dan masyarakat menjalani Lebaran dalam suasana yang lebih “tenang”—atau mungkin, lebih tepatnya, lebih sunyi dari kegaduhan.
Lebaran 1987 yang oleh masyarakat pada waktu itu disebut Lebaran Tanpa Malam Takbir, hadir tak lama setelah, sebuah momentum politik yang kala itu nyaris selalu berujung pada kemenangan dominan Golkar. Namun menariknya, Lebaran seolah menjadi jeda sosial—ruang di mana tensi politik mereda, dan masyarakat kembali pada fitrah relasi antar manusia.
Di masa itu, mudik belum menjadi ritual massif seperti sekarang, tetapi benihnya telah tumbuh. Orang-orang mulai bergerak dari kota ke desa, menggunakan kereta ekonomi yang padat, bus antarkota yang sederhana, bahkan truk terbuka. Tidak ada aplikasi pemesanan tiket, tidak ada peta digital—yang ada hanyalah tekad untuk pulang dan bertemu keluarga.
Lebih dari itu, Lebaran 1987 adalah perayaan yang nyaris sepenuhnya analog. Ucapan selamat dikirim melalui kartu pos, yang kadang baru tiba setelah hari raya berlalu. Televisi hanya satu, TVRI, dengan tayangan khas Lebaran yang dinanti bersama keluarga. Tidak ada distraksi layar kecil di genggaman; yang ada adalah percakapan panjang, tatap muka, dan tawa yang nyata.
Secara ekonomi, masyarakat Indonesia saat itu berada dalam fase penyesuaian pasca gejolak harga minyak dunia. Konsumsi belum menjadi identitas utama Lebaran. Baju baru mungkin hanya satu, bahkan tidak selalu ada. Namun justru di situlah letak kejujurannya: Lebaran dirayakan bukan karena kelimpahan, tetapi karena kebersamaan.
Hari ini, ketika Lebaran sering kali diukur dengan angka—berapa kilometer mudik, berapa triliun transaksi, berapa juta unggahan media sosial—kita mungkin perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menolak kemajuan, tetapi untuk bertanya: apakah kita masih merasakan esensi yang sama?
Lebaran 1987 mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan kemewahan. Ia cukup hadir dalam ruang-ruang sederhana: rumah orang tua, hidangan seadanya, dan hati yang lapang untuk saling memaafkan.
Barangkali, yang paling kita rindukan dari masa itu bukanlah teknologinya yang terbatas, melainkan maknanya yang tak terbagi.
Dan di tengah dunia yang semakin cepat, mungkin kita justru perlu belajar untuk kembali sejenak—ke tahun 1987.







