Ka Hareup Ngala Sajeujeuh, Ka Tukang Ngala Salengkah

(Pepatah Karuhun Sunda)

Avatar photo

“Geografi tanpa Sejarah sama dengan bangkai, dan Sejarah tanpa Geografi sama dengan gelandangan.”
— Moen, 1937:317

Porosmedia.com – Sekilas Dokumentasi Sejarah — Tulisan ini disusun berdasarkan dokumentasi Ki Acep Aan, pemerhati budaya, situs, dan sejarah.

Pendataan difokuskan pada dokumen korporal, yakni peninggalan sejarah berwujud benda selain tulisan. Tidak semua data visual yang terekam melalui lensa kamera dapat dipastikan berkaitan langsung dengan periode sejarah tertentu. Namun, keberadaan peninggalan di suatu lokasi selalu menunjukkan adanya jejak kehidupan manusia yang teratur. Logikanya, pernah berdiri sebuah bentuk “organisasi pemerintahan” di wilayah tersebut, yang secara sederhana dapat disebut kerajaan.

Pengamatan menunjukkan bahwa sejumlah situs prasejarah tetap dimanfaatkan sebagai kabuyutan pada periode kerajaan. Misalnya, di Bogor—yang pernah menjadi pusat Kerajaan Pajajaran—masih banyak ditemukan peninggalan bergaya megalitik. Padahal masyarakat pada masa itu sudah mengenal tulisan. Fakta ini menegaskan adanya “tradisi megalitik” yang berlanjut meski zaman megalitikum sudah lama berlalu.

Sumber Prasasti

1. Prasasti Tarumanegara (pembacaan Vogel)

2. Prasasti Galunggung (Geger Ha Juang)

3. Prasasti Cibadak (pembacaan Pleyte)

4. Prasasti Kawali

5. Prasasti Kebantenan

6. Prasasti Batutulis (Bogor)

7. Prasasti Pasir Muara

Sumber Kropak (Naskah Daun Nipah)

Kropak 406: Carita Parahiangan

Kropak 630: Sanghyang Siksakandang Karesian

Kropak 410: Carita Ratu Pakuan

Kropak 632: Ciburuy Garut (bambu buhun)

Dari prasasti-prasasti tersebut dapat diketahui nama kerajaan: Tarumanegara, Sunda, Rumatak, Kawali, Pakuan Pajajaran.
Nama raja yang tercatat antara lain: Rajadiraja Guru, Purnawarman, Sri Jayabupati, Batari Hyang, Prabu Raja Wastu (Niskala Wastu Kencana), Ningrat Kencana (Dewa Nuskala), Prabu Guru Dewataprana (Sri Baduga Maharaja), dan lainnya.

Sementara dari naskah kropak diketahui kerajaan: Kendan, Galuh, Galunggung, Saunggalah, Kuningan, Pakuan, serta sejumlah kerajaan kecil.
Nama raja yang tercatat: Resi Guru, Dewa Raja, Kandiawan, Wretikandayun, Mandiminyak, Sena Purbasora, Sanjaya Harisdarma, Tarusbawa (Tohan di Sunda), Demunawan, Manarah/Ciung Wanara/Prabu Suratama, hingga keturunan dan raja daerah kecil lainnya.

Naskah Cirebon dan Gotra Sawala

Pada tahun 1677 M, di Kraton Kasepuhan Cirebon, berlangsung pertemuan para ahli sejarah dari hampir 90 daerah Nusantara. Hasilnya melahirkan ratusan naskah, antara lain:

Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (25 jilid)

Pustaka Pararatwan (10 jilid)

Pustaka Nagarakretabhumi (12 jilid)

Pada abad ke-18 hingga 19, muncul pula naskah baru berupa serat, kitab, atau babad yang lebih menitikberatkan pada kisah-kisah panji. Sebagian ditulis dalam bahasa Sunda Kuno, sebagian lain dalam bahasa Jawa, Melayu, bahkan dengan aksara Arab Pegon.

Salah satu warisan penting dari pertemuan tersebut adalah Gotra Sawala (1677–1698), yang dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta (Abdul Kamil Mohammad Nasrudin), Panembahan pertama Cirebon bergelar Panembahan Toh Pati atau Panembahan Ageng Gusti.

Gotra Sawala melibatkan peserta dari berbagai wilayah, termasuk Sumedang, Sukapura, Galunggung, Talaga, Rajagaluh, hingga Luragung. Bahkan ada pendengar dari mancanegara: Mesir, Arab, Sri Lanka, Campa, Benggala, Cina, dan Semenanjung Melayu.

Para penasehat Gotra Sawala berasal dari berbagai tradisi keilmuan:

1. Dharmadyaksa Karasulan (ulama Islam) dari Arab

2. Dharmadyaksa Kasewan (ulama Siwa) dari India

3. Dharmadyaksa Kawesnawan (ulama Wisnu) dari Jawa Timur

4. Dharmadyaksa Kasogatan (ulama Buddha) dari Jawa Tengah

Pangeran Wangsakerta: Mutiara Jawa Barat

Peran Pangeran Wangsakerta sangat penting dalam pelestarian sejarah Nusantara. Melalui prakarsa dan karyanya, kita mewarisi dokumentasi berharga yang kini dikenal sebagai “Mutiara Jawa Barat”.

Apa yang dilakukan Wangsakerta seolah mendahului teori-teori dan metode sejarah modern setidaknya dua abad. Karena itu, sudah selayaknya kita menghargai jasa beliau—bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi juga sebagai penghubung memori kolektif bangsa.

Sebagai generasi penerus, kita bisa berbalas budi dengan mendoakan beliau atas segala jerih payah yang telah dicurahkan demi sejarah dan peradaban Nusantara.

 

Disusun oleh: Acep Aan, S.Ag.
Koordinator Forum Ekonomi Kreatif Desa Budaya Provinsi Jawa Barat
Diplomatic Mission Internal Cultural / Perdamaian Budaya Dunia – WCP

Tutugan Galunggung, Tasikmalaya – Wanci Pasosore, September 2025

 

Baca juga:  Pemprov Jabar Didorong Segera melakukan Inventarisasi Bangunan Berpotensi Merusak Alam dan Lingkungan