Porosmedia.com – Berdasarkan riwayat-riwayat hadits dan data astronomi diketahui bahwa Ibrahim Ibn Muhammad SAW meninggal pada hari Senin, 27 Januari 632 M atau 29 Syawal 10 H dengan usia 1 tahun 10 bulan (22 bulan).
Salah satu hadis yang pernah menyebutkan peristiwa menyedihkan ini adalah riwayat dari Mughirah bin Su’bah RA. Beliau meriwayatkannya yang diterjemahkan dalam kitab Ringkasan Shahih Bukhari karya Imam Az Zabidi,
“Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, gerhana matahari terjadi pada hari yang bersamaan dengan wafatnya Ibrahim atau putra Nabi SAW,” (HR Bukhari).
Berdasarkan cerita dari riwayat hadits tersebut, masyarakat muslim saat itu mengira bahwa fenomena gerhana sebagai tanda berduka cita atas wafatnya putra Rasulullah SAW. Mereka berkata, “Matahari mengalami kusuf karena kematian Ibrahim,”
Rasulullah SAW lantas menegaskan dan memerintahkan muslim untuk mengerjakan sholat gerhana ketika muncul fenomena langit tersebut. Seperti diriwayatkan dari Abu Bakrah RA, saat Rasulullah SAW dan para sahabat tengah duduk bersama hingga tiba-tiba terjadilah gerhana Matahari.
Setelah itu, Rasulullah (saw) berdiri, menarik jubahnya, dan memasuki masjid. Beliau memimpin salat dua rakaat hingga matahari kembali bersinar. Kemudian Rasulullah (saw) bersabda,
Matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka, ketika kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan mengagungkan-Nya, salatlah, dan bersedekahlah.
Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, takbirkanlah, salatlah, dan bersedekahlah.” (HR Bukhari).
Demi meluruskan keyakinan muslim ketika itu yang menghubungkan fenomena gerhana dengan hari wafat putranya, Rasulullah SAW mengajak muslim untuk mengamalkan sholat gerhana dengan tujuan mengagumi keagungan Allah SWT atas penciptaan Matahari dan Bulan.
Salat gerhana juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa takut kepada Allah SWT. Selain itu, gerhana juga mengingatkan manusia akan tanda-tanda Hari Kiamat atau hukuman atas dosa-dosa yang telah diperbuat.
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Namun dengan gerhana ini, Allah membuat hamba-hamba-Nya takut,” (H.R. Bukhari).
Oleh karena itu, hukum salat gerhana merupakan sunah muakkad yang juga mengandung syiar Islam, terutama bagi umat Islam yang masih meyakini bahwa gerhana berkaitan dengan hidup dan mati seseorang.







