Porosmedia.com – Ilmu pasti seperti matematika atau logika sering dipandang sebagai kebenaran mutlak. Namun, sebagaimana diingatkan Tan Malaka, apabila suatu ilmu tidak memberi ruang untuk diuji ulang dan dikritisi, maka ia berisiko kehilangan relevansi. Ilmu pengetahuan hanya akan menjadi dogma apabila berhenti menjadi proses pencarian kebenaran.
Setiap teori ilmiah besar lahir dari keberanian untuk bertanya, menguji, dan bahkan mengakui kesalahan. Ilmu bukan sekadar menghafal rumus atau menerima angka, melainkan memahami prinsip, menguji metode, dan membuka kemungkinan baru. Ketika kritik dibatasi, peluang untuk menemukan sesuatu yang lebih akurat atau lebih baik akan hilang. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari kebebasan berpikir.
Sejarah mencatat bahwa banyak lompatan besar terjadi justru karena ada keberanian mempertanyakan hal yang dianggap pasti. Newton merumuskan gravitasi, Einstein menantangnya dengan relativitas, dan fisikawan modern menyempurnakannya lagi melalui teori kuantum. Semua itu dimungkinkan karena ruang kritik tetap terbuka. Kritik bukan ancaman, tetapi sumber vital yang menjaga ilmu tetap hidup dan relevan.
Jika suatu sistem tertutup dari kritik, ia berisiko mengalami stagnasi. Ia berubah menjadi kepercayaan dogmatis yang menolak pembaruan. Dalam dunia yang terus bergerak, ilmu harus lentur namun tetap tajam, kritis namun terbuka. Tanpa itu, ilmu berhenti menjadi sarana pencerahan dan berubah menjadi alat pembekuan pikiran.
Di era modern, tantangan ini menjadi semakin kompleks. Teknologi, kecerdasan buatan, dan sistem kebijakan publik sering berjalan dengan narasi “netral” atau “pasti benar” yang tidak selalu mudah diuji oleh masyarakat umum. Transparansi algoritma, keterbukaan data, dan akuntabilitas kebijakan menjadi isu penting. Tanpa mekanisme kritik yang sehat, bahkan sistem yang tampak rasional sekalipun dapat terjebak dalam bias, monopoli informasi, atau penyalahgunaan.
Pertanyaannya, apakah kita sedang memasuki masa ketika sebagian ilmu atau sistem terlalu kebal terhadap kritik? Atau, sebaliknya, kita sedang memulai era baru keterbukaan di mana kritik justru menjadi bagian dari kemajuan?







