Porosmedia.com, Bandung – Menjelang bulan suci Ramadan 1447 H, DKM Masjid Agung Bandung memastikan agenda Ramadan Festival akan tetap berjalan. Strategi kemitraan dengan berbagai pihak pun ditempuh demi menghidupkan ikon spiritual Kota Bandung tersebut.
Dalam pertemuan terbatas yang digelar di ruanh pertemuan Masjid Agung Bandung, Kecamatan Sumur Bandung, Selasa (17/02/2026), Ketua Nazhir Masjid Agung Bandung Roedy Wiranatakusumah mengungkapkan bahwa festival yang dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 16 Maret 2026 ini akan mengusung konsep “Pesta Rakyat” yang kekinian, optimis acara tetap bergulir melalui kolaborasi lintas sektor.
”Kami tidak ada uang, tapi acara Ramadan Festival ini harus tetap berjalan. Kami mengajak semua yang memiliki potensi untuk bersama-sama memberdayakan Masjid Agung Bandung,” ujar Roedy.
Salah satu poin, dukungan justru datang dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang berkomitmen membantu penyediaan konsumsi buka puasa (takjil) melalui koordinasi dengan tingkat Kecamatan.
Lanjut Roedy, untuk memberikan wajah baru bagi masjid yang berlokasi di pusat titik nol kilometer Bandung ini, pengelola menyiapkan serangkaian agenda unik:
Pemeliharaan Ikonik: Bekerja sama dengan tim Vertical Rescue untuk melakukan pembersihan atap dan menara masjid guna memastikan kenyamanan jamaah.
Kolaborasi Akademisi: Pihak ITB direncanakan akan menghadirkan unit “Mobil Makan” di pelataran masjid untuk mendukung logistik festival.
Pemberdayaan UMKM: Bekerja sama dengan Bank CIMB Syariah untuk pembinaan UMKM yang sudah mapan (settle) agar dapat berkontribusi di area masjid.
Keterlibatan Milenial: Melibatkan mahasiswa dalam pengelolaan media sosial (Instagram) dan manajemen acara agar kemasannya lebih relevan dengan anak muda.
Meskipun target 25.000 ASN Kota Bandung diharapkan dapat menyisihkan rezeki untuk kemakmuran masjid, ditambah MAZQ Travel mitra pertama yang menyediakan 1000 box tajil untuk 3 hari buka puasa sebagai sinkronisasi antar lembaga masih terlihat cair. Hingga saat ini, bentuk kerja sama konkret dengan BAZNAS pun disebut masih dalam tahap “irisan” yang belum dipastikan detailnya.
Masalah mitigasi bencana juga menjadi sorotan. Pengelola yang telah melakukan kontak dengan BPBD Kota Bandung untuk memberikan pemahaman terkait keamanan gedung, mengingat tingginya volume massa yang diprediksi akan memadati kawasan Asia Afrika bulan April kedepan.
Di akhir pertemuan, Pak Roedy mendorong awak media untuk memberikan saran konstruktif yang nantinya akan diteruskan kepada Walikota Bandung.
”Masjid Agung Bandung harus jadi role model. Kami ingin orang datang ke sini bukan hanya untuk ibadah, tapi juga merasakan kebermanfaatan sosial dan ekonomi melalui keterlibatan pemuda,” tambahnya.
Ramadan Festival 2026 ini menjadi pembuktian bagi pengelola Masjid Raya Bandung: mampukah kemandirian dan kolaborasi komunitas menutupi celah absennya dukungan resmi dari pemerintah provinsi?







