Porosmedia.com, Bogor – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan investasi sektor hulu migas Indonesia mencapai US$16 miliar atau sekitar Rp266 triliun pada 2026, seiring dengan rencana pengeboran sedikitnya 100 sumur eksplorasi untuk mengejar target lifting minyak 610.000 barel per hari (bph). Target investasi tersebut relatif sama dengan tahun 2025, namun didukung strategi lebih agresif untuk menggenjot produksi nasional.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan, target tersebut sudah dikunci dalam work program and budget (WP&B) 2026, yang juga mencakup implementasi 100 kegiatan multi-stage fracturing (MSF) dan pengeboran 100 sumur di struktur-struktur baru. “Dalam work program and budget 2026, paling tidak minimum 100 sumur eksplorasi, kemudian 100 MSF, dan 100 sumur di struktur atau lapangan-lapangan baru,” ujar Djoko dalam Rapat Koordinasi Dukungan Bisnis SKK Migas 2025 di Sentul, Bogor, Rabu (3/12/2025).
Minat investor asing terhadap sektor hulu migas Indonesia menunjukkan tren positif setelah roadshow internasional ke London yang dihadiri 30 investor, termasuk perusahaan besar seperti BP, Shell, Equinor, dan Enquest. Ketua Satgas Percepatan Peningkatan Produksi Migas Nanang Abdul Manaf menyebutkan, Upland dari Inggris bahkan telah mengajukan permintaan untuk tiga blok migas, sementara CPC Corporation dari Taiwan meminta komunikasi langsung dengan SKK Migas.
Djoko menambahkan bahwa perusahaan migas dari Vietnam juga menyatakan ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia. Dari 10 prospek blok yang telah dikaji untuk tahun ini, seluruhnya sudah terserap oleh peminat, dan pemerintah kini menyiapkan sekitar 60 blok tambahan untuk tahun berikutnya.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan realisasi lifting minyak hingga November 2025 berada di sekitar 606.000-610.000 bph, meningkat signifikan dari produksi 2024 yang hanya mencapai sekitar 580.000 bph. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi sekitar 100.000 bph setiap tahun untuk mencapai 900.000 bph pada 2029 hingga 1 juta bph pada 2030.
“Jadi targetnya sampai dengan 900.000 barel sampai dengan 1 juta barel per hari. Berarti rata-rata per tahun kita harus meningkatkan produksi sekitar 100 ribu barel per hari,” kata Yuliot. Strategi yang disiapkan meliputi perbaikan regulasi dan perizinan, percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, serta penguatan ekosistem industri penunjang dengan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang saat ini telah mencapai rata-rata 40%.







