Porosmedia.com, Bandung – Jawa Barat kini tengah menantikan lahirnya kolaborasi strategis yang memadukan kekuatan spiritualitas dan jati diri kebudayaan. Nama Ketua Nadzir Masjid Raya Bandung, Roedy Wiranatakusumah, dan Pimpinan Kawargian Abah Alam (KAA), Adhitiya Alam Syah, mencuat sebagai dwitunggal yang diharapkan mampu membawa perubahan signifikan bagi peradaban umat di Tanah Pasundan.
Bukan sekadar wacana, harapan masyarakat ini berdasar pada rekam jejak kedua belah pihak. Di satu sisi, Masjid Raya Bandung sebagai simbol pusat peribadatan memerlukan sentuhan manajerial yang progresif. Di sisi lain, sosok Abah Alam telah lama dikenal sebagai tokoh sentral yang merekatkan lintas sektor—mulai dari budayawan, tokoh masyarakat, hingga unsur TNI-Polri.
Salah satu bukti nyata kiprah fenomenal Abah Alam adalah pembangunan Kujang Papasangan di puncak Gunung Bohong, Cimahi. Proyek monumental yang melibatkan personel Brigif 15/Kujang II ini bukan sekadar fisik bangunan, melainkan manifestasi identitas Sunda yang sarat akan nilai filosofis dan historis.
Publik melihat adanya peluang besar ketika nilai keagamaan yang dibawa oleh Roedy Wiranatakusumah bertemu dengan semangat kebangsaan dan pelestarian budaya dari Adhitiya Alam Syah.
Sinergi ini diyakini mampu menghadirkan terobosan baru yang selama ini dirasa terkotak-kotak. Penguatan nilai ibadah yang dibarengi dengan ketahanan budaya dianggap sebagai “formula emas” untuk menjaga persatuan di Jawa Barat di tengah arus modernisasi.
”Kolaborasi ini bukan hanya tentang dua sosok, tapi tentang bagaimana nilai agama dan kearifan lokal Sunda bisa berjalan beriringan untuk memperkuat martabat bangsa,” ungkap salah satu pengamat sosial yang memantau perkembangan ini.
Ke depan, publik menanti program-program konkret yang lahir dari rahim kerja sama antara Nadzir Masjid Raya Bandung dan Kawargian Abah Alam. Dengan kapasitas masing-masing, keduanya diprediksi bakal menjadi motor penggerak dalam merawat nilai keagamaan, kebudayaan, dan semangat kebangsaan yang lebih inklusif.
Bagi masyarakat Jawa Barat, sinergi ini adalah angin segar bagi terwujudnya tatanan masyarakat yang agamis namun tetap bangga akan akar budayanya sendiri.







