Porosmedia.com, Bandung – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, kini tengah berada di persimpangan jalan antara menjaga marwah budaya dan menyelesaikan krisis lingkungan yang kian mendesak. Di satu sisi, ia menyerukan pentingnya menjaga akar budaya sebagai identitas kota, namun di sisi lain, ia mengakui Bandung tengah “tercekik” oleh timbulan sampah yang mencapai 1.500 ton setiap harinya.
Dalam acara Pagelaran Seni Wanda Sunda di El Hotel Bandung, Sabtu (17/1/2026) malam, Farhan merefleksikan transformasi Bandung dari kota kosmopolitan hingga menjadi ekosistem pemikiran yang padat dengan penduduk mencapai 15.000 jiwa per kilometer persegi. Namun, keromantisan budaya tersebut kini berhadapan langsung dengan realitas pahit persoalan domestik kota yang tak kunjung usai.
Budaya Sebagai Perekat, Sampah Sebagai Ujian
Farhan menyebut bahwa kekuatan Bandung terletak pada akar budayanya yang mampu mengikat pendatang maupun warga asli. Meski demikian, ia jujur mengakui bahwa beberapa hari terakhir dirinya harus menghabiskan lebih banyak waktu di lapangan untuk memantau persoalan sampah yang ia sebut sebagai “tantangan terbesar” saat ini.
”Masalah terbesar Kota Bandung saat ini adalah sampah. Setiap hari ada sekitar 1.500 ton timbulan sampah baru. Ini tidak mungkin kita biarkan begitu saja,” tegas Farhan di hadapan para pegiat budaya dan akademisi.
Pernyataan ini seolah memberikan sinyal bahwa pembangunan karakter budaya tidak akan berarti banyak jika kualitas hidup warga terancam oleh kegagalan pengelolaan limbah.
Mencari Sistem Jangka Panjang, Bukan Sekadar “Pemadam Kebakaran”
Kritik yang sering muncul selama ini adalah pola penanganan sampah yang bersifat reaktif atau hanya berjangka pendek. Menanggapi hal tersebut, Farhan menekankan bahwa Pemkot Bandung kini tengah berupaya membangun fondasi pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
“Sudah saatnya kita membangun dasar-dasar penanganan sampah dalam kerangka jangka panjang lima sampai sepuluh tahun ke depan,” ujarnya.
Namun, tantangan terbesar bagi Farhan bukan hanya menyusun regulasi, melainkan bagaimana mengonversi nilai-nilai budaya yang ia banggakan—seperti gotong royong dan kesadaran sejarah—menjadi aksi nyata warga dalam memilah sampah dari hulu. Tanpa sinergi antara nilai budaya dan perilaku ekologis, target jangka panjang tersebut terancam hanya menjadi sekadar rencana di atas kertas.
Komitmen atau Retorika?
Farhan mengajak seluruh elemen, mulai dari akademisi hingga seniman, untuk tidak hanya merayakan seni, tetapi juga aktif menjaga keberlanjutan kota. Publik kini menanti, apakah asimilasi budaya yang disebut Farhan mampu melahirkan solusi inovatif bagi masalah sanitasi kota, ataukah Bandung akan terus terjebak dalam siklus krisis sampah yang sama setiap tahunnya.
Bagi warga Bandung, kenyamanan kota bukan hanya soal indahnya pagelaran seni di hotel berbintang, melainkan kepastian bahwa setiap jengkal trotoar dan pemukiman mereka bersih dari aroma tak sedap timbulan sampah. Kini, bola panas pengelolaan sampah berada di tangan Farhan untuk dibuktikan dengan aksi nyata, bukan sekadar komitmen di balik podium. (PM/Red)







