Ragunan Datangkan Sepasang Watusi via Skema Tukar Menurunkan (Exchange) dengan TSI

Avatar photo

Porosmedia.com, Jakarta – Taman Margasatwa Ragunan (TMR) secara resmi menambah koleksi satwa baru mereka dengan mendatangkan Watusi, spesies sapi asal Afrika yang dikenal dengan tanduk panjangnya yang ikonik.

​Koleksi baru ini tiba di Jakarta pada Jumat (27/12/2025) melalui skema kerja sama dengan Taman Safari Batang yang berada di bawah naungan Group Taman Safari Indonesia (TSI). Menurut keterangan Kepala Humas Ragunan, Wahyudi Bambang, satwa yang didatangkan berjumlah sepasang.

​”Watusi didatangkan melalui proses tukar-menurunkan dengan lima ekor Capybara dari Ragunan,” ujar Wahyudi. Rencananya, satwa eksotis ini akan mulai diperkenalkan kepada publik pada awal tahun 2026 mendatang.

​Meskipun kedatangan satwa baru merupakan kabar positif bagi edukasi publik, para pemangku kepentingan, termasuk Direktur Taman Margasatwa Ragunan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, diharapkan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta transparansi dalam setiap butir perjanjian kerja sama (PKS) dengan pihak ketiga.

​Catatan evaluasi mengenai pola kerja sama serupa di masa lalu patut menjadi bahan pertimbangan mendalam:

  • Pelajaran dari Surabaya & Surakarta: Publik tentu masih mengingat dinamika pengelolaan satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) beberapa tahun silam, serta kerja sama pengelolaan di Solo Safari (dahulu TSTJ) yang sempat menjadi sorotan terkait pembagian keuntungan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kota Surakarta.
  • Sengketa Bandung Zoo: Dinamika hukum dan operasional yang terjadi di Bandung Zoo yang melibatkan pihak TSI juga menjadi pengingat pentingnya kejelasan status aset dan hak operasional agar tidak berdampak pada penutupan fasilitas publik di masa depan.
Baca juga:  Perkuat Syiar Agama, Hj. Qonita Lutfiyah Salurkan Bantuan Karpet ke MT Balai Wartawan Depok

​Sebagai aset penting milik Pemprov DKI Jakarta, pengelolaan Taman Margasatwa Ragunan dituntut untuk tetap mandiri dan waspada terhadap potensi pergeseran tata kelola yang dapat merugikan kepentingan publik atau kedaulatan pengelolaan taman margasatwa milik negara di kemudian hari.

Tim Redaksi

Penulis & Video: Dzaky Nurcahyo

Produser: Monica Arum

Porosmedia