Pemkot Bandung Ajak Warga Berkolaborasi Wujudkan Kota “Zero New Stunting”

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh anak di Kota Bandung tumbuh sehat dan terlindungi dari risiko stunting. Upaya ini dilakukan melalui berbagai program lintas sektor yang menyesuaikan kebutuhan warga, seperti Kang Pisman, Buruan Sae, hingga Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menekankan bahwa kebijakan penurunan stunting tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah. Diperlukan dukungan aktif masyarakat agar upaya preventif benar-benar berjalan di tingkat rumah tangga.

“Kita berharap anak-anak di Kota Bandung tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Pemerintah telah menyiapkan program, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi masyarakat,” jelas Farhan, Selasa 18 November 2025.

Farhan menyampaikan bahwa masyarakat dapat berkontribusi melalui langkah sederhana namun berdampak besar, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, mengelola konsumsi pangan dengan baik, hingga memastikan ketersediaan dan keberlanjutan dapur sehat di wilayah masing-masing.

“Lingkungan yang bersih, pengelolaan pangan yang tepat, dan kebiasaan makan sehat adalah hal dasar yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Semua bisa dimulai dari rumah,” tambahnya.

Baca juga:  Analisis Kritis: Pandemic Agreement, IHR, dan UU Kesehatan No. 17/2023 – Antara Kedaulatan dan Keadilan Global

Program Dashat menggunakan anggaran Pemkot Bandung dan diprioritaskan bagi Bayi di Bawah Dua Tahun (Baduta), balita, serta ibu hamil dengan risiko stunting. Kelompok ini merupakan kunci keberhasilan penurunan stunting karena berada pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), periode kritis yang menentukan kualitas kesehatan anak di masa depan.

Farhan menegaskan bahwa keberlanjutan Dashat di tingkat kelurahan menjadi indikator penting dalam pencapaian target kota.

“Harapan kami, setiap kelurahan yang memiliki Dashat dapat terus mengolah dan menyediakan makanan sehat bagi keluarga berisiko stunting. Jika semua pihak konsisten, Bandung bisa mencapai target ‘Zero New Stunting’,” ujarnya.

Upaya menurunkan angka stunting membutuhkan kolaborasi dari banyak pihak, bukan hanya pemerintah. Peran keluarga, kader kesehatan, kelurahan, dan berbagai komunitas lokal menjadi bagian dari ekosistem pencegahan yang saling melengkapi.

Melalui sinergi yang lebih kuat, Pemkot Bandung optimistis dapat menekan angka stunting baru dan memastikan kualitas tumbuh kembang anak semakin baik.

Dengan pendekatan berkelanjutan dan pelibatan aktif warga, Kota Bandung berharap target “Zero New Stunting” tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi perubahan nyata bagi generasi masa depan. (yan)**