Menuju Kiblat Peradaban Dunia di Masa Depan

Jajat Sudrajat

Oleh ; Jacob Ereste :
*Dari Prasejarah, Hindu-Budha Hingga –Nusantara & Indonesia Merdeka*

Porosmedia.com – Peralihan dakhsyat dari suku bangsa Nusangtara yang bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia –sejak zaman pra sejarah sampai Hindu-Budha hingga merdeka – meyakinan bahwa perubahan besar pun tengah berproses seperti yang diisyaratkan dalam peralihan setiap tuju abad pada babak keempat sekarang, Indonesia akan menjadi kiblat peradaban dunia di masa depan kehidupan di bumi.

Kepercayaan terhadap Dewa Brahmana (Sang Hyang Widhi) (sebutan Tuhan dalam agama Hindu) dalam menciptakan, memelihara, pelindung alam beserta isinya. Dewa Syiwa adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya. Sedangkan Dewa Wisnu acap disebut Dewa nagari atau Nārāyana adalah Dewa  shtiti atau memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman –Tuhan Yang Maha Esa

Hungga kemudian diyakini adanya Trimurti,  suatu keyakinan bila dari ketiga symbol dewa tesebut mampu digabungkan, maka akan menunjukkan proses penciptaan, pemeliharaan dan perlindung terhadap alam beserta isinya. Teori ini merupakan salah satu hipotesa mengenai siapa, dan bagaimana proses masuknya agama, serta budaya Hindu-Budha di Nusantara.

Tatanan dari sejumlah teori ini memperkuat adanya tingkat sosial bagi masyarakat Hindu-Budha yang memposisikan derajat sertiap orang itu berbeda. Sistem pembagian kasta ini merupakan yang tertua di dunia dan berusia ribuan tahun dalam masyarakat dibagi dalam beberapa kelompok hierarki yang membedakannya. Pembagian kasta dalam masyarakat Hindu tercermin dalam stratifikasi sosial dan jabatannya, trah leluhur, hubungan kekerabatan, jabatab pemerintah dan sumber pendapatan. Begitulah Brahmana, Kesatriya, Waisya dan Sudra.

Selain Teori Sudra, terdapat juga beberapa teori tentang masuknya Hindu, dan Budha di Indonesia. Teori tersebut, diantaranya yaitu Teori Brahmana, Teori Ksatria, Teori Waisya, dan Teori Arus Balik atau biasa dikenal dengan nama Teori Nasional. Tiap-tiap teori ini mempunyai alasan tersendiri yang didukung dengan para tokoh, dan juga kelebihan serta kelemahan masing-masingnya.

Agama Hindu dan Budha dibawa oleh para pedagang. Ksatria mempunyai gagasan lain, yaitu golongan yang membawa agama dan juga kebudayaan. Menurut J.C Van Leur, masuknya agama Hindu dan Budha ke Indonesia adalah berkat peran para Brahmana yang berasal dari negara India yang diundang oleh para raja-raja Nusantara.

Informasi lain menerangkan bahwa agama Hindu masuk ke wilayah Nusantara ini dibawa oleh para golongan Sudra atau juga disebut sebagai Budak, sebagai kasta paling rendah dalam agama Hindu. Hasrat mereka sebagai kaum Sudra ingin mengubah nasib dengan hidup lebih baik, dan lebih layak. Oleh karena itulah, para golongan sudra memilih untuk meninggalkan negara India, dan pergi ke negara lainnya.

Baca juga:  Perplexicty Mesin pencari menggunakan Teknologi AI-Generatif mulai diminat Netizen dunia

Setelah akum Sudra itu berada di Nusantara, mereka merasa memperoleh kedudukan yang lebih baik, setidaknya dihargai oleh masyarakat karena tidak lagi ada sistem kasta yang membedakan keberadaan mereka di tempat yang baru. Masuknya Hindu-Buddha ke Nusantara (Kompas.com – 15/04/2021) dimulai pada awal masehi, melalui jalur perdagangan. Hal ini dipengaruhi oleh posisi Indonesia yang sangat srategis dalam bidang pelayaran dan perdagangan.

Melalui hubungan perdagangan, terjadilah akulturasi kebudayaan. Candi Hindu maupun Buddha pada dasarnya merupakan perwujudan akulturasi budaya lokal dengan budaya India hingga  kemudiann . Masuknya agama Hindu dan Buddha di Indonesia kemudian memunculkan pembaruan, besar. Seperti berakhirnya zaman prasejarah Indonesia dan perubahan dari kepercayaan kuno (animisme dan dinamisme) menjadi kehidupan beragama yang memuja Tuhan dengan kitab suci.

Kesamaan kebudayaan Hindu dengan mudah diterima rakyat nusantara karena adanya persamaan kebudayaan dengan kebudayaan nusantara.  Sehingga jejak Permukiman Peradaban Hindu-Buddha di Indonesia Teori masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia menurut para peneliti memiliki perbedaan pendapat. Perbedaan tersebut kemudian memunculkan sejumlah teori baru tentang masuknya Hindu-Buddha ke nusantara.

Pertama dalam teori Kesatria menyatakan bahwa agama Hindu-Buddha dibawa oleh golongan prajurit (kesatria) yang kemudian mendirikan kerajaan di nusantara. Lima orang ahli yang mencetuskan teori ini yaitu R.C. Majundar, F.D.K. Bosch, C.C. Berg, Mookerji, dan J.L. Moens.  Meski begitu, teori Kesatria ini tidak luput dari kelemahan-kelemahan. Golongan kesatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang terdapat pada kitab Weda. Tidak ditemukan prasasti yang menggambarkan penaklukan nusantara oleh kerajaan India.

Para pelarian kesatria dari India ini tidak mungkin mendapat kedudukan mulia sebagai raja di Indonesia.  Seperti diungkapkan juga dalam Jejak Ekonomi Peradaban Hindu-Buddha di Indonesia. Hingga kemudian muncul berikutnya, yaitu teori Waisya. Menurut teori Waisya seperti yang dikemukan N.J. Krom, agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari India. Agama tersebut bisa disebarkan dengan cara pernikahan, hubungan dagang, atau interaksi dengan penduduk setempat saat pedagang dari India saat mereka bermukim untuk sementara waktu di nusantara.

Uniknya teori ini diperkuat dengan keberadaan Kampung Keling, yaitu perkampungan para pedagang India yang ada di Indonesia. Dalam aktivitas perdagangan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat, dalam teori Waisya juga menunjukkan banyak kelemahan. Adapun kelemaham teori Waisya ini banyak menunjukkan bahwa mereka tidak banyak menguasai bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa. Seperti ditunjukkan oleh sebagian besar kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara yang berada di daerah pedalaman, bukan di daerah pesisir yang dekat dengan jalur pelayaran.

Baca juga:  Dr. Rizal Ramli, Fajar Kebangkitan NKRI

Kuat diduga, motif golongan Waisya hanya berdagang, bukan menyebarkan agama, meski kemudian ada perkampungan pedagang India. Umumnya kedudukan mereka tidak berbeda dari rakyat biasa. Seperti dipaparkan juga dalam Jejak Arsitektur Peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Adapun teori berikutnya adalah Brahmana yang dipopulerkan oleh J.C. van Leur. Dia berpendapat bahwa agama Hindu dibawa oleh kaum Brahmana yang berhak mempelajari dan memahami isi kitab suci Weda. Menurut teori Brahmana, kedatangan orang-orang Hindu dan Budha di Nusantara kuat diduga atas undangan para penguasa lokal setempat yang tertarik untuk memoerlajari agama Hindu atau pun Budha.

Dari kedatangan pada kaum Brahmana itu tidak sedikit diantara mereka yang meninggalkan kitab Weda sebagai hadiah bagi Raja di Nusantara. Kelemahan dari teori Brahmana ini juga mtidak bisa membukrikan bila Raja-raja di Nusantara setelah itu dapat mengerti dan memahami isi kitab Weda, Apalagi kemudian ada semacam kepercayaan dalam ajaran Hindu Kuno, seorang Brahmana dilarang menyeberangi lautan, apalagi meninggalkan tanah airnya. Pemaparan tentang kesangsian ini dapat ditelisik pada Jejak Agama Peradaban Hindu-Buddha di Nusantara.

Dalam teori Sudra yang ada, percaya bahwa masuknya agama Hindu-Buddha ke Nusantara dibawa oleh orang-orang India berkasta sudra. Meski sedikit orang percaya dengan teori ini, salah satu diantara yang sedikit itu adalah Von van Feber. Menurut Van Von Feber, golongan berkasta Sudra (pekerja kasar) dari India justru dominan jumlahnya yang menginginkan perbaikan kehidupan lebih baik dengan cara pergi merantau ke daerah lain, seperti ke Nusantara.

Mereka yang bergolongan kasta Sudra banyak yang keluar dari India, seperti ke Nusantara karena ingin mendapatkan kedudukan dan penghargaan serta perbaikan tata kehidupan yang lebih baik dari yang mereka miliki di tempat asalnya. Teori ini menimbulkan kontroversi karena kaum Sudra terdiri dari kelompok dengan derajat terendah, sehingga sulit dipercaya mampu dan mau menyebarkan agama Hindu. Kecuali itu, ada kepercayaan yang meyakini bahwa kaum Sudra tidak berniat pergi dari India untuk menyebarkan agama, karena mereka juga tidak menguasai bahasa Sanskerta yang digunakan dalam kitab Weda. Keraguan ini dapat dibaca dalam paparan Awal Pengaruh Hindu Buddha di Nusantara.

Baca juga:  Stafsus Wapres Minta Lembaga Pendidikan Implementasikan Nilai Moderasi Beragama

Kecuali itu ada pula yang dinamakan teori Arus Balik Teori yang dicetuskan oleh F.D.K. Bosch untuk menyanggah teori Waisya dan teori Kesatria. Justru menurutt Bosch, masyarakat Nusantara sendiri memiliki peranan yang besar dalam penyebaran dan pengembangan agama Hindu-Buddha di Nusantara. Interaksi dengan orang-orang India yang intens telah memberi kemampuan masyarakat pribumi stempat mempelajari agama Hindu-Buddha di Vihara atau Sangha

Dengan mempelajari bahasa Sanskerta, kitab suci, sastra, dan budaya tulis menulis, penduduk lokal kemudian mampu mempelajari dan mendalami agama Hindu-Buddha. Naik untuk mereka yang belajar di Nusantara dengan caranya sendiri, atau dengan cara mendatangi pusat-pusat pembelajaran agama Hindu-Budha yang ada di mancanegara. Hingga kemudian mereka yang menuntut ilmu di negeri orang itu Kembali ke Nusantara seperti yang juga dilakukan oleh para Wali yang melakukannya kemudian.

Pemimpin Spiritual Indonesia Eko Sriyanto Galgendu

Dalam ilmu terapan misalnya, Pemimpin Spiritual Indonesia Eko Sriyanto Galgendu sangat yakin kemampuan bangsa-bangsa Nusantara sungguh dakhsyat dalam berbagai hal, seperti membangun Candi Borobudur yang memiliki presisi luar biasa serta keindahan arsitektur yang mempesona. Semua itu pasti dirancang dan dibangun serta dikerjakan oleh manusia Nusantara, bukan oleh bangsa asing.

Seperti model berdakwahnya Sunan Muria yang menggunakan sarana kesenian seperti ayahnya, Sunan Kalijaga, juga mengajarkan kebaikan dan ketauhidan melalui media gamelan, tembang, dan wayang. Selain itu juga mengajarkan nilai-nilai moral seperti hidup sederhana, kedermawanan, dan bijaksana kepada masyarakat. Cara berdakwah seperti yang dilakukan Sunan Muria ini — karena mayoritas masyarakat masih menganut Hindu-Buddha Ketika itu – ia memasukkan ajaran Islam dalam budaya Jawa yang dominan peninggalan budaya Hindu-Buddha untuk dimodifikasi dengan pendekatan ajaran Islam.

Atau seperti yang dilakukan Sunan Gunung Jati, sebagai sosok yang cerdas dan tekun dalam menuntut ilmu. Sehingga atas kesungguhannya, ia diizinkanoleh ibunya untuk menuntut ilmu ke Makkah. Di sana, dia berguru pada  Syekh Tajudin Al-Qurthubi. Tak lama kemudian, ia lanjut ke Mesir dan berguru pada Syekh Muhammad Athaillah Al-Syadzili, ulama bermadzhab Syafi’i. Di sana, Sunan Gunung Jati belajar tasawuf dari tarekat Syadziliyah.

Atas dasar semua itu, Eko Sriyanto Galgendu yakin dan percaya bila gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual segera menemukan titik puncaknya dalam waktu dekat. Mengingat semua potensi untuk itu sesungguhnya dimiliki oleh bangsa Nusantara yang bersepakat bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk menjadi mercu suar dunia yang menakjubkan.

Jakarta, 11 Februari 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *