Menakar Urgensi “Imunisasi” Kemanusiaan di Era Digital: Melawan Resesi Empati

Avatar photo

Porosmedia.com – Narasi mengenai pudarnya semangat gotong royong akibat hegemoni smartphone bukanlah sekadar romantisme masa lalu. Ini adalah peringatan dini atas fenomena “Resesi Empati” yang sedang melanda generasi zilenial dan alfa.

​Di atas kertas, modernisasi menjanjikan konektivitas tanpa batas. Namun, realitas di lapangan menunjukkan paradoks: kita semakin dekat secara digital, namun kian terasing secara sosial.

​Penelitian dari Common Sense Media menunjukkan bahwa rata-rata remaja menghabiskan lebih dari 7 jam sehari di depan layar untuk hiburan. Dampaknya bukan sekadar masalah kesehatan mata, melainkan degradasi kemampuan kognitif sosial.

​Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) mengenai Indeks Pembangunan Kebudayaan seringkali menyoroti penurunan pada aspek “Ketahanan Sosial Budaya”. Ketika interaksi fisik digantikan oleh algoritma, kepekaan terhadap kesulitan tetangga atau lingkungan sekitar—yang dahulu menjadi fondasi Repeh Rapih—kini tergerus oleh sikap individualistis yang akut.

​Secara hukum, penanaman nilai kemanusiaan sejak dini bukan sekadar imbauan moral, melainkan amanat konstitusi. UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa orang tua, keluarga, dan pemerintah wajib menyelenggarakan perlindungan dan pendidikan yang membangun karakter anak.

Baca juga:  Kekosongan Jabatan Strategis Bank BJB: Alarm Tata Kelola yang Tak Boleh Diabaikan

​Mendidik anak untuk “melek kemanusiaan” dan membatasi ketergantungan gawai adalah bentuk pemenuhan hak anak untuk tumbuh kembang secara optimal (Pasal 4). Tanpa pendampingan, anak berisiko terpapar konten kekerasan atau individualisme ekstrem yang melanggar norma sosial.

​Substansi yang diusung oleh penulis mengenai pentingnya permainan tradisional dan silaturahmi tatap muka adalah kunci dari Social Engineering (rekayasa sosial) yang positif.

Adanya ​Permainan Tradisional sebagai Laboratorium Sosial: Berbeda dengan gim daring yang bersifat kompetitif-isolatif, permainan tradisional melatih negosiasi, kerja sama, dan empati.

Reaktualisasi Gotong Royong: Semboyan ini jangan sampai menjadi artefak sejarah. Orang tua harus menjadi model (role model) dalam aksi filantropi kecil di lingkungan rumah agar anak melihat bahwa nilai kemanusiaan adalah tindakan nyata, bukan sekadar status di media sosial.

​Membangun jiwa kemanusiaan sejak dini adalah investasi jangka panjang untuk menjaga kedaulatan sosial bangsa. Jika kita membiarkan teknologi mendikte moralitas anak tanpa filter nilai-nilai lokal, maka cita-cita masyarakat yang Repeh Rapih (rukun dan tertib) hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur.

Baca juga:  Jurus Rp200 T Menkeu Purbaya: Sinergi Elitis, Kredit Merakyat Tertunda

​Sudah saatnya orang tua mengambil kendali. Teknologi adalah alat untuk memudahkan hidup, bukan alasan untuk mematikan nurani.

Permana Surya | Porosmedia