Porosmedia.com, Bandung – Pendidikan dasar dan menengah di perkotaan sering kali terjebak dalam jebakan kuantitatif: mengejar ketuntasan kurikulum, mendongkrak angka rata-rata nilai ujian, dan melupakan ekosistem batin anak didik. Padahal, ruang kelas adalah laboratorium sosial pertama tempat anak belajar mengenali identitas diri, mengelola konflik, merajut empati, hingga menghadapi tekanan psikologis yang kian kompleks di era digital.
Namun, realitas empiris di lapangan kerap jauh dari ideal. Praktik perundungan (bullying), hambatan komunikasi interpersonal, hingga defisit keterampilan kolektif masih menjadi borok laten dunia pendidikan yang kerap disembunyikan di balik dinding-dinding sekolah.
Di tengah sunyinya keberpihakan struktural yang komprehensif, inisiatif justru lahir dari akar rumput. Dua pendidik di Kota Bandung membuktikan bahwa kepekaan seorang guru mampu memutus rantai masalah tersebut melalui inovasi berbasis teknologi sederhana dan pendekatan sosiopsikologis yang terukur.
Mereka adalah Ilham Pauji, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sekaligus Wakil Kepala SMPN 43 Bandung Bidang Kesiswaan, serta Irfan Fauzi, pendidik di SDN 093 Tunas Harapan Cijerah. Berangkat dari kegelisahan personal dan profesional, keduanya menghadirkan terobosan—masing-masing melalui Bejakeun-Someah dan Sikasep—untuk memastikan bahwa institusi pendidikan kembali berfungsi sebagai suaka yang aman bagi tumbuh kembang anak.
Ilham Pauji dan Bejakeun-Someah: Menutup Celah Budaya Diam Terhadap Perundungan
Bagi Ilham Pauji, perlawanan terhadap perundungan bukan lahir dari ruang seminar birokratis, melainkan dari trauma empiris masa remaja. Saat duduk di bangku SMP, ia pernah menyaksikan seorang kawan mengalami perundungan sistematis, namun memilih bungkam karena teror psikologis dan ketakutan menjadi sasaran berikutnya. Korban akhirnya terisolasi secara sosial dan terpaksa putus sekolah.
Pengalaman traumatik itu menyisakan penyesalan mendalam sekaligus menjadi poros moral bagi Ilham ketika ia beralih profesi menjadi pendidik.
“Saya pernah melihat teman dibully, tetapi saat itu tidak berani melapor karena takut menjadi korban berikutnya. Teman saya akhirnya tidak mau sekolah. Dari situ saya berpikir, bagaimana caranya agar anak-anak yang melihat atau mengalami perundungan bisa melapor tanpa takut identitasnya diketahui,” ujar Ilham di kompleks SMPN 43 Bandung, Jumat (30/10/2026).
Refleksi kritis tersebut berbuah inplikasi teknologis pada tahun 2024 melalui peluncuran aplikasi Bejakeun (berasal dari bahasa Sunda yang berarti memberi tahu atau melaporkan). Dirancang dengan prinsip perlindungan saksi dan korban, platform ini memungkinkan siswa—baik sebagai korban langsung maupun saksi mata—untuk melaporkan tindakan perundungan tanpa harus mengorbankan keamanan identitas mereka.
Sistem ini tidak sekadar menampung aduan. Bejakeun dilengkapi dengan basis pengetahuan komprehensif mengenai tipologi perundungan, regulasi hukum yang berlaku, hingga instrumen sanksi edukatif. Setiap laporan yang masuk dikontrol oleh standar operasional prosedur (SOP) penanganan cepat dalam rentang waktu maksimal satu jam. Ilham kemudian mengorkestrasi koordinasi lintas lini bersama Guru Bimbingan Konseling (BK), wali kelas, hingga orang tua murid.
“Yang terpenting bukan hanya laporan masuk, tetapi bagaimana laporan itu segera ditindaklanjuti. Kami berupaya mempertemukan pihak-pihak terkait, mendengarkan semuanya, dan mencari penyelesaian agar anak tetap merasa terlindungi,” tegasnya.
Seiring dinamika kebutuhan institusional, kerangka kerja Bejakeun diintegrasikan ke dalam ekosistem yang lebih luas bernama Someah—sebuah akronim dari Sistem Operasi Manajemen Emosi, Akal, dan Hati, yang selaras dengan semangat perlindungan lingkungan satuan pendidikan. Someah berfungsi ganda: sebagai instrumen pelaporan yang merangkum fitur Bejakeun, sekaligus modul interaktif penguatan karakter berbasis nilai-nilai PAI, literasi toleransi, serta manajemen regulasi emosi personal.
Pendekatan sistemik ini mulai membuahkan hasil empiris yang terukur di internal sekolah. Berdasarkan data evaluasi internal SMPN 43 Bandung, angka laporan perundungan menunjukkan tren penurunan yang konsisten:
- Tahun Ajaran 2022/2023: 33 laporan
- Tahun Ajaran 2023/2024: 25 laporan
- Tahun Ajaran 2024/2025: 20 laporan
- Tahun Ajaran 2025/2026: 14 laporan
- Tahun Ajaran 2026/2027 (hingga akhir Oktober 2026): 5 laporan
Bagi Ilham, statistik tersebut bukanlah alat legitimasi birokratis semata, melainkan indikator pulihnya keberanian moral di kalangan siswa. Efektivitas model intervensi ini bahkan mengantarkan SMPN 43 Bandung meraih penghargaan internasional AIA Outstanding Mental Wellbeing Award dalam ajang Kompetisi Sekolah Tersehat se-Asia Pasifik.
Irfan Fauzi dan Sikasep: Membaca Bahasa Emosi Lewat Laboratorium Bermain
Di belahan wilayah operasional pendidikan dasar yang berbeda, persoalan krusial yang diamati oleh Irfan Fauzi di SDN 093 Tunas Harapan Cijerah bukan sekadar kekerasan fisik, melainkan kerapuhan keterampilan sosial (social skills deficit).
Dalam interaksi pedagogis sehari-hari, Irfan kerap menemukan siswa yang mengalami kecemasan sosial akut: menarik diri karena rasa malu berlebihan, ketidakmampuan melakukan negosiasi kelompok, hingga kerentanan psikologis di mana anak tidak memiliki keberanian untuk menolak ajakan negatif dari rekan sebaya (peer pressure).
Ia memandang bahwa orientasi pendidikan nasional yang terlalu mendewakan capaian kognitif semata telah menciptakan blind spot struktural terhadap kesehatan mental anak.
“Peran guru itu bagaimana mengidentifikasi aspek perkembangan anak dan mengoptimalkannya. Selama ini yang paling terlihat di sekolah adalah perkembangan kognitif, karena ada nilai dan rapor. Padahal, aspek sosial dan emosional juga perlu dikembangkan,” ujar Irfan di sela aktivitas mengajar, Kamis (29/10/2026).
Menanggapi disparitas tersebut, pendidik yang mengabdi di SDN 093 Tunas Harapan Cijerah sejak 2021 ini merancang Sikasep (Sistem Informasi dan Evaluasi Keterampilan Sosial serta Pengembangannya). Dibangun pada 2024 dan diimplementasikan secara penuh pada 2025, Sikasep bekerja sebagai instrumen asesmen diagnostik dini bagi tenaga pendidik untuk memetakan profil psikososial siswa melalui tiga indikator utama: spektrum keterampilan sosial, daftar cek masalah psikologis (problem checklist), dan peta struktur pertemanan (sociometric status).
Terdapat lima parameter fundamental yang diobservasi dalam kerangka Sikasep:
- Kapasitas kerja sama (cooperativeness)
- Asertivitas (assertiveness) atau kemampuan mengekspresikan pendapat secara proporsional
- Rasa tanggung jawab personal dan komunal
- Kapasitas empati afektif
- Kontrol diri (self-regulation)
Hasil pemetaan ini tidak disimpan sebagai arsip administratif yang mati, melainkan diterjemahkan langsung ke dalam rancangan intervensi kelas. Salah satu manifestasi operasionalnya adalah program “Kamis Bermain”. Melalui agenda mingguan ini, siswa dilibatkan dalam permainan kooperatif terstruktur untuk menguji dan melatih kapasitas komunikasi, resolusi konflik horisontal, serta pengelolaan emosi di bawah supervisi pedagogis.
“Karakteristik anak itu tidak lepas dari aktivitas fisik dan bermain. Karena itu, kegiatan bimbingan juga kami integrasikan dengan aktivitas bermain kelompok. Dari sana bisa terlihat bagaimana emosi, sosial, dan komunikasi anak,” jelas Irfan.
Transformasi Praktik Lapangan Menjadi Kontribusi Akademik
Komitmen kedua pendidik ini tidak berhenti sebagai inovasi lokal yang terisolasi di ruang kelas masing-masing. Sadar bahwa diskursus kebijakan pendidikan membutuhkan landasan literatur yang kuat, Irfan Fauzi mentransformasikan temuan lapangan tersebut ke dalam ranah akademik yang lebih luas.
Pada Februari 2026, ia menerbitkan buku referensi berjudul “Pengembangan Keterampilan Sosial Anak Usia Sekolah Dasar” melalui penerbit Eureka Media Aksara. Buku ini membedah secara komprehensif teori pembelajaran sosial Albert Bandura, model cooperative play, hingga strategi implementasi project-based learning dalam mitigasi krisis sosial anak.
Konsistensi riset tersebut berlanjut pada Agustus 2026, di mana artikel ilmiahnya berjudul “The Role of Cooperative Play in Enhancing Social Skills: A Study on Elementary School Students in Indonesia” resmi dipublikasikan dalam Journal of Curriculum and Teaching. Publikasi internasional ini mengkaji secara empiris bagaimana rekayasa permainan kooperatif mampu mendongkrak kapasitas kolektif anak didik secara signifikan.
Kepala SDN 093 Tunas Harapan Cijerah, Nyi R. Waluyawati, menyambut positif ikhtiar akademik dan praktis yang digagas oleh staf pengajarnya. Di tengah kompleksitas pengelolaan institusi yang menaungi 722 siswa dengan sistem dua shift—mengingat sejarah panjang sekolah sejak 1974 yang mengemban mandat pendidikan inklusif—kehadiran Sikasep menjadi instrumen navigasi yang vital.
“Dengan adanya inovasi dari Pak Irfan ini, kami sangat terbantu, khususnya untuk mengidentifikasi hambatan keterampilan sosial anak. Harapannya, anak-anak yang memiliki hambatan bisa ditindaklanjuti dan ditangani lebih komprehensif,” ungkap Waluyawati.
Saat ini, kerangka kerja Sikasep dilaporkan telah direplikasi dan diadaptasi oleh lima institusi pendidikan dasar lainnya di wilayah regional.
Urgensi Ekosistem Perlindungan Anak yang Berkelanjutan
Langkah progresif yang ditempuh oleh Ilham Pauji dan Irfan Fauzi mengirimkan sinyal tajam kepada para pemangku kebijakan di tingkat daerah maupun nasional. Bahwa reformasi tata kelola pendidikan tidak selalu harus menunggu gelontoran anggaran birokrasi yang masif, melainkan bermula dari keberanian moral pendidik di lapis terbawah untuk melihat realitas secara jujur.
Ketika kekerasan, perundungan, dan alienasi sosial anak ditekan melalui sistem yang transparan dan humanis, institusi sekolah tidak lagi sekadar menjadi pabrik pencetak nilai ijazah, melainkan ruang peradaban tempat kewarganegaraan yang beradab ditempa sejak dini.
(Redaksi porosmedia.com)







