Membedah Efektivitas Program Literasi Al-Qur’an Pemkot Bandung: Tantangan Budaya Baca hingga Keberlanjutan TOT Guru Ngaji

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali meluncurkan program penguatan sumber daya manusia (SDM) berbasis keagamaan melalui pelatihan metode literasi membaca Al-Qur’an bagi 400 guru mengaji dan tokoh pendidikan di Hotel Oakwood Merdeka Bandung, Senin (5/10/2026). Kendati menyasar peningkatan kompetensi dan pengikisan angka buta huruf Al-Qur’an, keberhasilan program prioritas ini dinilai sangat bergantung pada efektivitas skema Training of Trainers (TOT) serta komitmen pendampingan berkelanjutan di tingkat akar rumput.

​Pelatihan yang diinisiasi Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Bandung tersebut diikuti oleh peserta yang terbagi dalam empat gelombang. Program ini dirancang bukan sekadar mengenalkan huruf hijaiyah, melainkan mendorong penguasaan linguistik, pemahaman isi kandungan Al-Qur’an, hingga pembentukan karakter anak sejak dini.

​Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui bahwa persoalan utama yang dihadapi masyarakat Kota Bandung saat ini bukan semata-mata ketidakmampuan mengenal huruf, melainkan belum terbangunnya budaya dan kebiasaan membaca Al-Qur’an secara konsisten dan benar.

​”Rata-rata orang tua itu walaupun pintar ngaji, enggak semuanya pintar ngajar. Kadang-kadang kita lebih banyak galaknya daripada ngajarnya. Jadi keberadaan para guru mengaji menjadi sangat strategis,” ujar Farhan di sela-sela pembukaan acara.

​Farhan menambahkan, fenomena masyarakat yang masih bergantung pada transliterasi latin dibanding teks asli Al-Qur’an menjadi tantangan tersendiri dalam membangun literasi linguistik yang substantif. Oleh karena itu, ia menekankan agar literasi tidak dimaknai secara sempit, melainkan sebagai fondasi membangun daya kritis dan kemampuan mengolah informasi bagi generasi muda.

​”Ketika mereka mengerti apa itu iqra, kita harapkan anak-anak kita nanti akan bisa mengerti bahwa ketika mereka mendapatkan informasi pun harus membaca dengan baik. Jadi literasi Al-Qur’an itu tujuannya agar terbiasa membaca kapan pun dan di mana pun,” tegasnya.

​Soroti Keberlanjutan dan Pengawasan Program

​Kendati mengapresiasi langkah edukatif Pemkot Bandung, sejumlah pengamat kebijakan publik dan pendidikan mencatat bahwa efektivitas program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an ini memerlukan mekanisme pengawasan (monitoring) serta evaluasi yang terukur. Tanpa peta jalan (roadmap) yang jelas pascapelatihan, penggalangan 400 guru ngaji dikhawatirkan hanya berhenti pada tataran seremonial peningkatan kapasitas tanpa dampak masif di lapangan.

​Menjawab hal tersebut, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Bandung, Nasrullah Jamaluddin, menjelaskan bahwa seluruh peserta diharapkan tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi mampu bertransformasi menjadi penggerak di lingkungan masing-masing melalui konsep Training of Trainers (TOT).

​”Para peserta diharapkan dapat menjadi penggerak dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di lingkungan masyarakat. Program ini bertujuan mendukung pemberantasan buta huruf Al-Qur’an secara berkelanjutan, meningkatkan kompetensi guru mengaji, serta memberikan pemahaman mengenai metode literasi yang efektif,” terang Nasrullah.

​Kehadiran guru ngaji di ruang-ruang informal masyarakat dipandang strategis untuk mengisi celah pendidikan karakter yang kerap tak tersentuh di lingkungan keluarga maupun sekolah formal. Publik kini menantikan sejauh mana keluaran (output) dari pelatihan 400 guru ngaji ini mampu merealisasikan visi Pemkot Bandung dalam mencetak SDM yang berkarakter, literat, dan tangguh menghadapi tantangan zaman. (Red)