Kritik Keras IKA UPI: Kebijakan Belajar Online demi Efisiensi Energi Berisiko Lumpuhkan Kualitas Generasi

Dorong "Pedagogi Hijau" sebagai Solusi Konkrit Penghematan Nasional

Avatar photo
Oplus_131072

Porosmedia.com, Bandung – Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) menyatakan sikap kritis terhadap wacana pemerintah yang berencana mengalihkan metode pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi pembelajaran daring (online) sebagai strategi efisiensi energi di tengah krisis energi global. IKA UPI menilai, menjadikan sektor pendidikan sebagai “tumbal” efisiensi fiskal adalah langkah yang tidak tepat sasaran dan berisiko memicu kemunduran kualitas SDM nasional secara permanen.

​Pernyataan ini merespons statemen Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno terkait penyesuaian metode pembelajaran guna menekan konsumsi energi nasional akibat eskalasi konflik global.

​Ketua Umum PP IKA UPI, Amich Alhumami, menegaskan bahwa kebijakan ini mencerminkan logika efisiensi yang keliru. “Pengalaman pahit pandemi COVID-19 telah memberikan bukti empiris mengenai ketidakefektifan daring sebagai substitusi sekolah fisik. Terjadi learning loss yang sangat dalam. Sekolah bukan sekadar medium transfer data, melainkan ruang interaksi sosial untuk pembentukan karakter dan etika yang mustahil didapat melalui layar kaca,” tegas Amich.

Baca juga:  Mengenang Sarwono Kusumaatmadja: Teknokrat Berintegritas di Balik Metafora "Cabut Gigi"

​IKA UPI menyoroti tiga kerugian fundamental jika efisiensi energi dipaksakan masuk ke ranah kurikulum:

Ancaman Kesehatan Mental & Adiksi Digital: Memaksa siswa kembali ke depan gawai akan memicu digital fatigue—kelelahan mental dan fisik akut yang berujung pada cognitive overload. Hal ini justru menjauhkan anak dari literasi buku dan kreativitas riil, serta memperburuk masalah kesehatan mental akibat kurangnya interaksi sosial.

Memperlebar Jurang Ketimpangan (Digital Gap): Kebijakan ini dinilai diskriminatif terhadap wilayah pelosok dan daerah 3T yang infrastruktur digitalnya belum memadai. Alih-alih menghemat, pembelajaran daring justru memindahkan beban biaya energi dan kuota ke pundak keluarga berpenghasilan rendah, yang secara faktual justru semakin terhimpit krisis.

Kekeliruan Logika Ekonomi: Menghemat subsidi BBM dengan menutup sekolah adalah langkah kontraproduktif. Merujuk studi Hanushek & Woessmann (2020), setiap bulan kehilangan pembelajaran berisiko menurunkan pendapatan individu di masa depan sebesar 3-5%. Dalam jangka panjang, kerugian produktivitas nasional jauh melampaui nilai subsidi energi yang dihemat.

Baca juga:  Membongkar Oligarki Digital: Di Balik Tirai "The Godfather" Judi Online

​Sebagai alternatif, IKA UPI mendesak pemerintah untuk menerapkan “Pedagogi Hijau” daripada menutup sekolah.

​“Jika targetnya adalah penghematan energi transportasi, jangan ganti sekolah dengan daring. Pemerintah seharusnya mendorong gerakan jalan kaki atau bersepeda bagi siswa dan pengajar yang jarak rumah-sekolahnya memungkinkan. Ini solusi yang jauh lebih rasional: hemat energi, menyehatkan fisik, dan membangun karakter mandiri tanpa mengorbankan kualitas intelektual,” tambah Amich.

​IKA UPI berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan pendidikan nasional agar tetap berada pada jalur pencapaian visi Generasi Emas 2045, tanpa harus dikorbankan oleh fluktuasi krisis energi global. (NJP)

​Tentang IKA UPI

​Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) adalah organisasi berbadan hukum (SK Menkumham No. AHU-68.AH.01.06. Tahun 2008) yang berkomitmen meningkatkan kualitas hidup alumni dan masyarakat melalui advokasi kebijakan pendidikan. IKA UPI aktif dalam simpul kolaborasi nasional organisasi alumni LPTK dan merupakan bagian dari Himpuni (Perkumpulan Organisasi Alumni PTN Indonesia).