Porosmedia.com, Bandung – Keberadaan sumber mata air di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Cihanja, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, belum menjadi jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar warga setempat. Hingga pertengahan Agustus 2026, warga di kawasan tersebut masih mengalami kendala serius untuk mengakses air bersih.
Kondisi geografis dan teknis menjadi alasan utama belum optimalnya pemanfaatan sumber air tersebut. Elevasi permukiman yang berada di posisi lebih tinggi dari mata air, ditambah kedalaman sumber air yang ekstrem, membuat masyarakat tak mampu mengelolanya secara mandiri.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui tantangan teknis dalam penanganan masalah tersebut saat meninjau RTH Cihanja, Selasa (18/8/2026).
”Harus diakui karena memang kedalamannya terlalu jauh, bahkan kadang-kadang sampai 100 meter,” ujar Farhan.
Ia menegaskan keberadaan mata air di kawasan RTH tidak serta-merta dapat langsung didistribusikan ke rumah-rumah warga tanpa infrastruktur yang memadai.
Ketergantungan pada Solusi Darurat
Di tengah krisis yang membayang, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sejauh ini masih mengandalkan penanganan yang bersifat temporer. Pendistribusian air bersih melalui armada truk tangki menjadi tumpuan utama untuk mengatasi titik-titik krusial di lapangan.
”Untuk titik-titik yang sudah sangat krusial kita masih kirim tangki,” jelasnya.
Selain bantuan armada tangki, Pemkot Bandung juga mendorong pembangunan sarana air bersih berskala lokal yang dialokasikan melalui program reses serta Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD di titik-titik yang memungkinkan.
Namun, Farhan menyadari bahwa langkah-langkah tersebut tidak menyelesaikan akar masalah. Ia menekankan bahwa intervensi jangka panjang hanya dapat terwujud melalui perluasan jaringan pipa Perumda Air Minum (PDAM) Tirtawening.
”Jangka panjang itu hanya PDAM. Enggak boleh ada jangka panjang lain selain PDAM,” tegas Farhan.
Terkendala Negosiasi Air Baku Saguling-Cirata
Upaya memperluas jangkauan layanan PDAM untuk menuntaskan krisis air di Kota Bandung kini membentur kendala pasokan air baku. Pemkot Bandung saat ini tengah mengupayakan alokasi air baku sebesar 3.500 liter per detik yang bersumber dari kawasan waduk Saguling dan Cirata.
Kendati demikian, negosiasi pengelolaan air tersebut dengan pihak pengelola kawasan, PT Indonesia Power, belum mencapai kesepakatan akhir.
”PDAM ini sekarang kita masih tarik-menarik dengan Indonesia Power untuk bisa menarik 3.500 liter per detik dari Saguling dan Cirata. Indonesia Power-nya belum memberikan,” ungkap Farhan.
Selagi proses kesepakatan dan pembangunan jaringan PDAM masih berproses, warga di kawasan RTH Cihanja dan wilayah berisiko lainnya dipastikan masih harus bergantung pada penanganan darurat melalui tangki air dan fasilitas sementara yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.







