Kontradiksi Harga Pangan Jelang Tahun Baru 2026: Data Bapanas Melandai, Pedagang Pasar Teriak

Avatar photo

Porosmedia.com, Jakarta – Menjelang pergantian tahun 2026, potret harga pangan di Indonesia menunjukkan dualisme yang kontras. Di satu sisi, data resmi pemerintah mengklaim adanya tren penurunan harga secara nasional. Namun di sisi lain, para pedagang pasar justru melaporkan lonjakan harga yang signifikan di kawasan penyangga ibu kota, memicu pertanyaan mengenai efektivitas stabilisasi pasokan di tingkat hilir.

​Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Minggu (28/12/2025) pukul 09.30 WIB, mayoritas komoditas pangan utama tercatat mengalami koreksi harga yang cukup dalam.

​Kelompok “pedas” mencatatkan penurunan paling tajam. Harga cabai rawit merah menyusut ke angka Rp59.923/kg (turun Rp6.677), sementara cabai merah besar anjlok ke Rp38.887/kg (turun Rp7.595). Komoditas lain seperti bawang merah, telur ayam, hingga daging sapi juga dilaporkan mengalami penurunan tipis di bawah 1%.

​Sektor beras pun diklaim terkendali. Beras Premium kini berada di level Rp15.310/kg dan Beras Medium Rp13.311/kg. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat memantau Pasar Induk Jagasatru Cirebon (26/12), menegaskan bahwa ketersediaan pangan nasional dalam kondisi surplus.

Baca juga:  Pemkot Bandung Rehabilitasi 335 Ruang Belajar Sepanjang 2025

​”Beras kita cukup, bahkan surplus sekitar 4,7 juta ton. Cabai dan telur juga terpantau turun,” tegas Zulhas dalam kunjungannya.

​Narasi optimisme pemerintah berbenturan keras dengan laporan dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi). Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan fakta berbeda di kawasan Jabodetabek.

​Alih-alih turun sesuai data panel, harga di pasar rakyat justru masih tinggi. Reynaldi melaporkan cabai rawit masih bertengger di kisaran Rp80.000/kg, jauh di atas rata-rata nasional Bapanas. Begitu pula dengan telur ayam yang justru merangkak naik dari Rp29.000 ke Rp32.000/kg.

​”Laporan dari rekan-rekan pedagang di Jabodetabek menunjukkan adanya kenaikan di hampir semua komoditas pokok,” ujar Reynaldi, menyoroti adanya kesenjangan antara angka statistik dengan realitas transaksi di meja pedagang.

​Sorotan kritis juga tertuju pada program minyak goreng rakyat, MinyaKita. Meski dilaporkan turun ke harga Rp17.289/liter, angka ini nyatanya masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700/liter. Hal ini mengindikasikan bahwa meski ada tren penurunan, instrumen harga yang ditetapkan negara belum sepenuhnya dipatuhi oleh rantai distribusi.

Baca juga:  Surya Darma, Jabat Lapas Tasikmalaya Gantikan Davy Bartian

​Menanggapi dinamika ini, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan pesan keras dari Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman. Pemerintah memberikan peringatan bagi para spekulan agar tidak melakukan manipulasi harga di tengah kondisi bencana atau momentum libur nasional.

​Pemerintah menjamin stok beras nasional mencapai 12,5 juta ton hingga akhir 2025, yang diproyeksikan cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga lima bulan ke depan.

​Tantangan kini berada pada bagaimana memastikan angka-angka manis di atas kertas benar-benar dirasakan oleh kantong konsumen di pasar-pasar tradisional, tanpa terkecuali di wilayah Jabodetabek yang menjadi barometer konsumsi nasional.