Porosmedia.com – Usia tak pernah menjadi penghalang bagi tekad, kisah Abah Landoeng menjadi bukti nyata bahwa niat yang kuat, disertai keikhlasan, mampu mengantarkan seseorang menembus batas yang tak terbayangkan.
Abah Landoeng (99 thn), seorang pria sederhana asal Bandung, mengisahkan perjalanan hidup yang menggetarkan hati, pada tahun 2002, saat usianya telah menginjak 75 tahun, Abah Landoeng nekat mengayuh sepeda Federal kesayangannya selama tujuh bulan demi mencapai Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.
“Sebenarnya niat awal saya untuk membantu korban bencana alam di Sumatera, tapi di dalam hati juga ada niat besar untuk berhaji,” tutur Abah Landoeng, Senin, (26/1/2026), di Bandung.
Dengan bekal yang sangat terbatas, uang Rp.1,2 juta, paspor, beberapa potong pakaian, dan sedikit makanan, Abah Landoeng memulai perjalanan dari Bandung.
Abah Landoeng menyusuri Jakarta, lalu menuju Palembang, setelah memastikan kondisi Sumatera relatif aman dari bencana besar, tekadnya untuk berhaji justru semakin menguat, “Dengan mengucap bismillah, saya lanjutkan perjalanan,” ujarnya lirih.
Perjalanan panjang itu membawanya melintasi banyak negara, dari Batam, ia menyeberang ke Singapura, lalu berlanjut ke Malaysia, Thailand, Myanmar, Bangladesh, India, Pakistan, menyeberangi Laut Merah, hingga akhirnya tiba di Arab Saudi pada tahun 2003.
Di sepanjang perjalanan, masjid menjadi tempat paling setia baginya, “Kalau capek, saya istirahat di masjid. Tidur juga sering di masjid,” kenang Abah Landoeng.
Saat akhirnya menginjakkan kaki di Mekkah, rasa haru tak terbendung, Abah Landoeng tak pernah menyangka, sepeda tua dan niat yang tulus benar-benar mengantarkannya ke Tanah Suci, selain menjalankan rangkaian ibadah haji, Abah Landoeng bahkan sempat berkeliling Kota Mekkah dengan sepedanya.
Kebaikan pun mengalir dari berbagai arah, Abah Landoeng dibantu banyak orang yang tersentuh oleh kisah perjalanannya, mulai dari tempat tinggal di hotel mewah, makanan, hingga tiket pesawat pulang ke Indonesia, bahkan ongkos taksi dari Jakarta ke Bandung pun ditanggung para donatur, “Tentu ada cerita sedih, tapi jauh lebih banyak yang menyenangkan,” katanya dengan senyum tenang.
Semangat pengabdian Abah Landoeng tak berhenti sampai di sana, setahun kemudian, ketika tsunami dahsyat melanda Aceh pada 2004, Abah Landoeng kembali mengayuh sepeda menuju lokasi bencana, di sana, Abah Landoeng membantu proses trauma healing bagi para korban, salah satunya melalui kemampuan pijat tradisional yang ia miliki.
Tak hanya Aceh, Abah Landoeng kerap hadir di berbagai daerah bencana sebagai relawan, jika masa mudanya ia dedikasikan untuk dunia pendidikan, maka di masa tua ia memilih mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan.
Ketika ditanya mengapa ia terus berbagi meski tanpa bayaran, jawabannya sangat sederhana, “Saya ini orang kecil, tidak punya apa-apa, jadi saya berbagi lewat apa yang bisa saya lakukan,” ujarnya.
Tak banyak yang tahu, Abah Landoeng juga pernah menjadi bagian dari sejarah besar bangsa, Abah Landoeng tercatat sebagai panitia Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung, dengan tugas menyediakan kendaraan bagi para delegasi.
Berkat sifatnya yang gemar berbagi, Abah Landoeng mengenal banyak orang dari berbagai lapisan, dari rakyat kecil hingga kalangan atas, yang dengan sukarela membantu.
Kisah hidup Abah Landoeng bukan sekadar tentang perjalanan fisik melintasi ribuan kilometer, ini adalah perjalanan iman, ketulusan, dan pengabdian tanpa pamrih, sebuah teladan bahwa hidup yang sederhana bisa memberi dampak luar biasa bagi sesama.
Bagoes Rintohadi







