Ketika Kamera Jadi Sasaran — Tragedi Nasser Hospital dan Gugurnya Para Jurnalis Gaza

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – 27 Agustus 2025, Serangan udara di Nasser Hospital, Khan Younis, Gaza, pada Senin (25/8/2025) menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk lima jurnalis internasional — sebuah tragedi yang kini menjadi simbol pahit dari serangan mematikan terhadap kebebasan pers. Peristiwa ini juga memunculkan gelombang protes terhadap perusahaan media besar.

Kronologi Tragis: “Double-Tap Strike” Menyasar Jurnalis

Menurut laporan PBB dan berbagai lembaga, serangan pertama menghantam lantai empat rumah sakit. Kemudian, saat tim medis dan jurnalis tiba untuk melakukan evakuasi, serangan kedua diluncurkan — sebuah modus “double-tap strike” yang mematikan .

Di antara korban adalah:

Hussam al-Masri, kontraktor fotojurnalistik Reuters, yang tewas saat menyiarkan secara langsung .

Mohammed Salama, fotografer Al Jazeera .

Mariam Abu Daqqa, freelance jurnalis Associated Press dan media lainnya .

Moaz Abu Taha, jurnalis freelance termasuk kontribusi ke NBC dan Reuters .Ahmed Abu Aziz, kontributor Middle East Eye dan Quds News, yang tewas kemudian akibat luka .

Jumlah korban kini menambah jumlah jurnalis Palestina yang tewas menjadi lebih dari 240 sejak perang Gaza dimulai Oktober 2023 — rekor korban paling tinggi dalam konflik modern .

Baca juga:  Urgensi Evaluasi: Menakar Legasi dan Efektivitas Kepemimpinan Walikota Bandung

Reaksi Media dan Dunia: Dari Kutukan hingga Pengunduran Diri

Berbagai lembaga pers menuntut pertanggungjawaban langsung dari militer Israel atas hilangnya nyawa para jurnalis di lokasi dilindungi seperti rumah sakit .

Salah satunya, fotografer Reuters asal Kanada, Valerie Zink, mengundurkan diri sebagai bentuk protes keras terhadap liputan berita yang dinilainya telah “membenarkan dan memfasilitasi pembunuhan sistematis 245 jurnalis di Gaza” .

Zink secara tegas menuduh Reuters—dan media Barat lainnya—berperan dalam memperkuat propaganda militer, tanpa melakukan verifikasi atas klaim Israel seperti tuduhan terhadap jurnalis Anas al-Sharif yang dikatakan sebagai “operatif Hamas”, klaim yang kemudian terbukti tidak berdasar .

Opini: Media Besar Perlu Cermin dan Tanggung Jawab Etis

Tragedi di Nasser Hospital dan pengunduran diri Valerie Zink merupakan alarm keras bagi institusi pers global. Ketika rumah sakit, simbol kemanusiaan, menjadi sasaran, dan awak media yang datang untuk menegakkan transparansi dikorbankan, muncul pertanyaan fundamental:

Apakah media besar telah menyuarakan fakta atau justru menyebarkan narasi satu pihak?

Sudah seberapa dalam verifikasi dan rasa solidaritas terhadap jurnalis yang bertaruh nyawa demi informasi publik?

Baca juga:  UMKM Depok Ekspansi ke Jakarta, Siap Unjuk Gigi di Bazar 'Indonesia Berzikir' Masjid At-Tin

Liputan tanpa pertanyaan terhadap klaim militer bisa berujung pada legitimasi atas tindakan militer yang melanggar hukum humaniter internasional. Sudah saatnya institusi pers mengutamakan etika, transparansi, dan keberpihakan kepada rekan-rekannya di medan berbahaya.