Kesbangpol Papua Tengah Tanamkan Nilai Pancasila untuk Perkuat Karakter Pemuda

Ka Kesbangpol: “Pancasila Kompas Moral Generasi Muda Hadapi Tantangan Zaman”

Avatar photo

Porosmedia.com, Nabire, Papua Tengah – Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus mendorong penguatan karakter kebangsaan di kalangan pemuda melalui program pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan. Salah satunya diwujudkan lewat kegiatan Pembumian Nilai-Nilai Pancasila bagi Generasi Muda yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Papua Tengah di Hotel JDF Nabire, Sabtu (22/11/2025).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Kesbangpol Provinsi Papua Tengah, Albertus Adii, S.E., M.Si., dan diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari Paskibraka aktif dan Purna Paskibraka tingkat provinsi hingga kabupaten. Kehadiran generasi muda dengan latar belakang kedisiplinan dan nasionalisme ini dinilai strategis dalam penguatan nilai persatuan di wilayah yang multikultural.

Dalam sambutannya, Albertus menegaskan bahwa Pancasila merupakan kompas moral bangsa yang tetap relevan di tengah derasnya perkembangan teknologi dan disrupsi informasi.

“Teknologi berkembang pesat, informasi datang tanpa batas, tetapi nilai Pancasila adalah pondasi yang membuat kita tetap kokoh sebagai bangsa,” tegasnya.

Albertus menilai peran generasi muda, khususnya Paskibraka, berada pada garis terdepan dalam memperkuat keteladanan dan menjadi duta nilai kebangsaan.

Baca juga:  Inilah Purnawirawan TNI - Polri yang Ikut Caleg Di Tahun 2024

“Adik-adik bukan sekadar pengibar bendera setiap 17 Agustus. Kalian adalah Duta Pancasila yang harus menjadi contoh di sekolah, kampung, hingga ruang digital,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pembumian nilai Pancasila harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar hafalan seremonial.

 

Untuk memperkuat materi, Kesbangpol menghadirkan narasumber profesional dari lembaga-lembaga strategis nasional: Rizky Hari F. P., S.H. – Tim Preventif Densus 88 AT Mabes Polri Wilayah Papua, Samuel Sauwyar – Ketua Bakorwil Forum Kader Bela Negara (FKBN) Republik Indonesia Provinsi Papua Tengah, Supami – Perwakilan Purna Paskibraka Provinsi Papua Tengah, Ketua Panitia, Maikel Gobay, S.E., M.A.P, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai jawaban atas berbagai tantangan sosial dan digital yang dihadapi pemuda.

“Pemuda menjadi sasaran utama provokasi dan informasi sesat. Karena itu karakter kebangsaan harus diperkuat agar mereka mampu memilah informasi dan tetap teguh menjaga jati diri bangsa,” jelasnya.

Albertus mengingatkan bahwa Papua Tengah merupakan ruang hidup bersama bagi seluruh kelompok masyarakat.

“Generasi muda harus menjadi benteng kebhinekaan. Kita harus saling menjaga dan membangun Papua Tengah sebagai tanah yang damai, aman, dan bersatu.”

Baca juga:  Sinergi Budaya, DPP GARDA GPMPP Hadiri Pelantikan Pengurus DPW PPSI Jawa Barat

Acara resmi dibuka dengan seruan tiga kali Salam Pancasila yang disambut antusias seluruh peserta, kemudian dilanjutkan sesi materi, dialog, serta pembekalan praktik pembumian nilai-nilai Pancasila.

Ketua Bakorwil FKBN Papua Tengah, Samuel Sauwyar, menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar ideologi, tetapi nilai-nilai hidup yang harus dihayati generasi muda dalam keseharian.

Ia menjelaskan makna pembumian Pancasila sebagai proses memahami, menghayati, dan mengimplementasikan nilai Pancasila dalam dinamika kekinian, termasuk ruang digital. Setiap sila memiliki pesan moral yang dapat diwujudkan antara lain melalui toleransi, menolak bullying, menjaga harmoni antar suku dan agama, mengutamakan musyawarah, hingga mendorong keadilan sosial.

Pemuda Papua Tengah, menurutnya, memiliki posisi strategis sebagai: agen persatuan, garda terdepan harmoni sosial, pelopor literasi digital, serta kader bela negara yang mengedepankan integritas.

Narasumber dari Densus 88 AT Polri, Rizky Hari F.P., S.H., memaparkan perkembangan ancaman ekstremisme global dan dampaknya di Indonesia. Ia menekankan bahwa radikalisasi kini banyak terjadi melalui algoritma media sosial dan interaksi digital yang tak terpantau.

Rizky menyoroti bahwa fenomena seperti kasus SMAN 72 Jakarta menjadi contoh pentingnya penguatan karakter pelajar.

Baca juga:  Inilah 8 Pencapaian Utama dari Koswara ke Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung terpilih

Menurutnya, ketika seorang siswa mengalami kekerasan atau perundungan, dampak psikologisnya bisa memicu tindakan ekstrem apabila tidak ditangani dengan pendekatan karakter dan nilai kebangsaan.

“Transformasi radikalisme kini tidak membutuhkan proses panjang; cukup lewat ruang digital yang memperkuat kebencian, seorang remaja bisa masuk ke lingkaran ekstremisme,” jelas Rizky.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan ruang digital yang sehat dan memperkuat pendidikan Pancasila sebagai benteng ideologi.

Densus 88 juga menaruh harapan besar kepada peserta Paskibraka: “Kami berharap adik-adik menjadi simbol keteladanan dalam menjaga nilai Pancasila dan kerukunan umat beragama, khususnya di Papua Tengah.”

Pemerintah Provinsi Papua Tengah berharap kegiatan ini melahirkan gerakan nyata pemuda dalam: menjaga harmoni dalam keberagaman, melawan berita bohong (hoaks), memperkuat semangat gotong royong, menolak intoleransi, menjadi pelopor prestasi dan kedisiplinan.

Penutupan kegiatan ditandai dengan foto bersama dan yel-yel Pancasila yang menggema penuh semangat.

Iing Elsa – Martika Edison| Porosmedia