Jamuan Kolosal di Meja Makan “Gizi” Berkejaran

Avatar photo

Porosmedia.com – ​Sebuah perhelatan akbar tampaknya baru saja usai di aula besar bernama program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, alih-alih menghasilkan generasi yang sehat dan berotot kawat, aroma yang tercium dari dapur penegak hukum justru bau gosong anggaran yang diduga menguap hingga angka fantastis: belasan triliun rupiah. Sebuah angka yang cukup untuk memberi makan seluruh anak bangsa hingga kenyang, tapi tampaknya lebih memilih mengenyangkan segelintir perut yang telanjur buncit oleh syahwat kekuasaan.

​Di balik tirai ruang penyidik, kabarnya tersimpan sebuah kotak pandora berupa gawai milik seorang mantan petinggi berinisial SS. Di dalam benda pipih itulah, “manifest” penumpang kapal pesiar yang diduga ikut menikmati hidangan haram ini tercatat rapi. Konon, ada sekitar tiga puluh dua nama hingga puluhan nama lainnya yang masuk dalam daftar tunggu “undangan” dari gedung bundar.

​Mari kita bedah anatomi para penikmat jamuan ini dengan kacamata jenaka, meski hati perih melihat uang rakyat dikunyah tanpa permisi.

​Para Koki Utama dan Pelayan Kebijakan

​Di barisan paling depan, ada trio “Otas” yang menjadi dirigen utama simfoni ini. Ada sang mantan kepala berinisial DH, yang dibantu oleh duet wakilnya, SS dan LP. Mereka bertindak bagai koki kepala yang meracik menu, mengatur porsi, hingga menentukan siapa saja yang boleh masuk ke dapur utama.

Baca juga:  ​Forum Inisiator Soroti Keabsahan Pra-Musda HKTI Jabar, Sebut Ada Indikasi Penggiringan Calon Tunggal

​Namun, koki tidak akan bisa memasak tanpa izin pemilik tanah. Di sinilah peran para pengatur regulasi dan pembawa stempel. Sebut saja sang menteri berinisial TH, ditemani barisan birokrat elite dari Sekjen, Dirjen Tata Niaga, hingga para kepala dinas di daerah. Mereka bertindak bagai pramusaji yang memastikan bahwa “piring-piring anggaran” mendarat mulus di meja yang salah, dibungkus rapi dengan legitimasi aturan yang tampak suci.

​Koalisi Parlemen dan Pengawas yang “Kenyang”

​Sajian ini tentu tidak akan berjalan lancar tanpa nyanyian merdu dari gedung parlemen. Di sinilah komedi ini menjadi semakin menarik. Para wakil rakyat yang terhormat dari berbagai komisi—mulai dari urusan pangan, anggaran, hingga kesehatan—yang biasanya garang berteriak demi rakyat, mendadak tampak “tersedak” oleh kebaikan program ini.

​Ada inisial ARP, sang ketua komisi pangan, hingga deretan nama dari banggar dan komisi kesehatan seperti FB, HZ, YZ, PS, DM, hingga pesohor yang biasa tampil di layar kaca kini harus bersiap menghadapi layar pemeriksaan. Mereka diduga bertindak sebagai “petugas stempel hias” agar anggaran jumbo tersebut melenggang kangkung tanpa hambatan.

Baca juga:  Dukung Aksi Mahasiswa dan Pengamanan Aparat yang Humanis, Kopri PB PMII Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

​Bahkan, gosipnya, beberapa pengawas hukum di daerah dan aparat penegak hukum—yang seharusnya menjadi anjing penjaga uang negara—justru kedapatan ikut duduk di pojok ruangan, menikmati remah-remah hidangan sembari pura-pura memejamkan mata. Dari oknum korps baju cokelat, korps Adhyaksa di daerah, hingga pensiunan bintang yang beralih profesi menjadi “perisai keamanan”. Sungguh sebuah kolaborasi yang sangat paripurna antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif dalam arti yang sebenar-benarnya keliru.

​Para Pengusaha dan Eksekutor Lapangan

​Aktor swasta pun tak mau ketinggalan dalam pesta pora ini. Mulai dari pengusaha motor listrik yang mendadak peduli gizi, penyedia makanan siap saji yang menu utamanya tampaknya adalah “janji manis”, hingga penyedia gawai edukasi yang membuat laporan fiktif menjadi terlihat estetik. Mereka bekerja sama dengan para staf teknis, pejabat pembuat komitmen (PPK), dan akuntan kreatif yang lihai mengubah angka merah menjadi hijau demi laporan yang tampak “bersih tanpa noda”.

​Bahkan, asosiasi-asosiasi baru yang membawa nama “Makan Bergizi” pun ikut antre membawa piring kosong masing-masing, berharap mendapat cipratan kuah kaldu anggaran yang gurih.

Baca juga:  Bamsoet Apresiasi Presiden Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional Kepada Presiden RI ke-2 Soeharto, Setelah Perjuangan Panjang 3 Kali Diusulkan

​Menanti Hidangan Penutup di Gedung Bundar

​Kini, pesta telah usai. Para tamu undangan tampaknya mulai gelisah. Musik pengiring telah berganti menjadi sirine mobil petugas. Gawai yang menjadi saksi bisu transaksi, transfer, dan pembagian porsi kini sudah berada di meja penyidik, siap bernyanyi lebih nyaring daripada paduan suara mana pun.

​Publik kini hanya bisa menonton dari luar jendela dapur, menanti keberanian sang “Kepala Jaksa” untuk segera mengetuk palu dan membagikan “surat cinta” berompi oranye kepada para penikmat jamuan kolosal ini. Sebab, jika hukum kali ini kembali tumpul dan memilih-milih tamu yang ditangkap, maka program “Makan Bergizi” ini hanya akan dicatat dalam sejarah sebagai program “Makan Berjemaah Uang Rakyat” yang paling bergizi bagi kantong para koruptor.

​Kita tunggu saja, siapa yang akan mendapat giliran mencuci piring kotor ini di penjara.